Dunia Mu

Dunia Mu
Andre asisten Sani


__ADS_3

Ketika mobil semakin mendekat melewati bagian depan rumah, Andre merasa ada kejanggalan di sana. Tidak ada pembantu yang banyak setelah didekati hanya seorang penjaga yang berdiri di sana.


"Ngapain bengong?" Tanya Sani penasaran karena Andre dari tadi diam saja.


Andre segera berbalik dan melihat Sani. "Cuman lihat terlalu asyik lihat-lihat." Jawab Andre.


"Udah yuk turun cepat!" Pinta Sani. Andre terdiam bingung. "Langsung turun aja ni?" Tanya Andre yang dari pertanyaannya itu begitu basa-basi.


Sani turun dari mobil lebih dulu diikuti dengan Andre. Ragu sekali rasanya hanya bisa berjalan di belakang Sani.


"Kalau aku bilang ikut berarti ikut ya." Sani seperti memperingatinya sesuatu.


"Keluargamu? Apa tidak apa-apa jika seperti ini?" Andre begitu takut ketika dia langsung masuk ke dalam rumah.


Pintu terbuka dan suasana di dalam rumah sangat sepi tampak tidak ada orang satupun di dalam. Andre masih mengikuti Sani kemanapun dia pergi dan ketika Sani mulai melangkahkan kaki naik tangga dia langsung tertegun. "Kemana San?" Tanya Andre.


"Ke kamar kamu!" Ucap Sani.


Andre diam lagi namun hatinya tidak pernah diam, dia berbicara dengan hatinya sendiri. Awalnya memuji rumah yang mewah dari luar, namun jika sepi seperti ini kesannya cukup angker. Andre juga menyadari sesuatu yang cukup aneh di tempat ini, apalagi sebuah tulisan-tulisan di tembok sepanjang naik tangga membuat dia penasaran, jika dia bertanya pada Nenek pasti Andre akan menemukan jawabannya.


"Apa tanyakan saja pada Sani nanti?" Andre melihat ke arah Sani yang hanya diam saja.


Ketika tak sengaja sudut matanya melihat ke lantai bawah Andre juga menyaksikan lagi jika rumah ini sangat banyak dipenuhi oleh sesuatu yang tak biasa. Ada begitu banyak roh yang mendongak mengamatinya, bulu kuduknya langsung merinding begitu saja, dia tak membayangkan jika Sani bisa bertahan tinggal di dalam rumah dengan kondisi rumah seperti ini. Apakah Sani tidak pernah merasa takut?

__ADS_1


"Capek!" Keluh Sani yang langsung diam dulu.


"Ia capek." Ucap Andre canggung. Tapi dia melihat sebuah pintu di atas yang sudah dekat. "Tinggal sedikit lagi." Ucap Andre.


"Benar. Cepat jalan lagi." Sani segera mengumpulkan kekuatannya, memapah satu persatu anak tangga yang akhirnya tak terasa sudah sampai di depan pintu.


Pintu tidak terkunci dan langsung terbuka ketika Sani menarik handle nya.


"Ini kamarnya." Jelas Sani memperlihatkan sebuah kamar yang tadi dia bicarakan. Memang ada sebuah kasur dan banyak lemari lengkap dengan kulkas, televisi, dan bahkan ada ruangan lain di dalamnya. Terlalu luas bagi Andre yang terbiasa tidur di kamar kosan. Tak terkecuali perhatian Andre tertarik dengan anak tangga yang mengarah ke lantai atas.


"Di sana kamar kamu?" Andre menunjukkan arah ke atasnya.


Sani mengangguk membenarkan.


"Lebih nyaman aja kan. Oh ya Andre sebenarnya aku belum bicara sama Ayah." Sani tampak memberi tahu.


"Nah loh. Gimana kalau nanti aku yang dimarahin?" Andre langsung panik, sewajarnya saja kan orang tua Sani pasti marah.


"Udah lupakan saja gak penting banget. Pokoknya kamu jangan dengerin siapapun di rumah ini, kamu kan asisten ku jadi nurut aja sama aku." Terang Sani tampak tidak mempermasalahkan hal yang ditakutkan Andre. Padahal bagi Andre saja yang mendengarkan pernyataan Sani membuat Andre jantungan tidak tenang, tapi entah mengapa Sani menganggapnya tidak penting.


Andre mengangguk tanda setuju.


"Pokoknya semua lengkap, uang, makanan, cari saja ya di sini bebas. Kalau soal baju kamu kayaknya harus nyari dulu belanja aja di luar." Sani tampak menarik napas lagi. "Aku capek banget, temenin dulu ke atas ya!" Pinta Sani membuat Andre langsung bingung lagi.

__ADS_1


Segampang itu Sani mengajak lelaki masuk ke kamarnya?


"Udah aku katakan kamu nurut aja." Sani memperingatkan.


Mau tidak mau Andre harus memberanikan diri masuk ke dalam kamarnya. Ketika Andre berjalan menaiki anak tangga yang langsung menuju ke kamar Sani, batinnya kembali merasa sesuatu yang janggal. Ada sebuah kaki putus tergeletak, ada darah merah yang tercecer, garis dinding yang tidak utuh, laku sebuah asap menghitam. Andre tertegun hanya bisa menelan ludah menahan betapa ngerinya pandangan batin yang bisa dia lihat.


Ketika pintu sudah terbuka Sani sudah lebih dulu masuk, entah mengapa Andre ragu masuk ke dalam sana. Dan satu langkah maju memang benar di pintu masuk Andre sudah disambut dengan sosok tak kasat mata. Seorang perempuan yang lebih tua, memakai baju biasa namun kepalanya bolong dan juga kakinya patah sebelah. Sampai terperanjat ketika Andre tiba-tiba berpapasan.


"Hey lihat apa?" Tanya Sani geram. Tingkah Andre bagi orang lain adalah sesuatu yang tidak normal, tapi itu karena mereka tidak ada yang tahu apa yang Andre lihat sekarang.


Buru-buru Andre masuk. Canggungnya dia berdiri tidak langsung duduk, padahal tepat di hadapannya sebuah kursi.


Sani santai dia memang sedikit tenang karena ada seseorang yang menemaninya di dalam kamar, meski itu adalah Andre setidaknya dia tidak sendirian di dalam kamar. Membayangkan Bibi yabg sudah meninggal saja entah mengapa Sani merasa takut lagi.


"Aku mau mandi dulu, tunggu di luar jangan kemana-mana." Pinta Sani yang sudah masuk ke dalam kamar mandi. Andre cukup tertarik dengan sosok yang dia temui di pintu tadi karena ketika Sani sudah masuk ke dalam kamar sosok itu mengikutinya, sangat aneh sekali tidak mungkin tanpa alasan makhluk tak kasat mata seperti itu mengikuti manusia.


Lamanya Andre terdiam, dia cukup berpikir dan menyimpulkan ada sesuatu yang tak biasa di rumah ini. Namun rumah sepi memang menjadi alasan jika makhluk halus sekalipun senang bersemayam di sana.


Selain itu yang dipikirkan, Andre juga mulai penasaran dengan keluarga Sani. Dia beluk bertemu dengan orang tuanya, apa yang akan dilakukannya nanti jika entah Ayah ataupun Ibunya datang dan memergokinya di dalam rumah. Andre menggelengkan kepala merasa tidak berguna juga karena dia sudah terlanjur datang dan menerima tawaran Sani.


Saat asyik melamun bergelut dengan pikirannya sendiri, sesuatu yang tampak berjalan menarik sudut mata Andre.


Andre berbalik dan melihat tak ada satupun di sana, dia menghela napas berusaha terbiasa dengan semuanya lagi. Padahal bukan kali pertama dia bisa melihat mereka namun dia akhirnya harus tetap merasa tak nyaman.

__ADS_1


Sesekali matanya melihat ke arah jam dinding, wanita pasti akan lama sekali hanya untuk sekedar mandi juga, sedangkan Andre tidak bisa meninggalkan Sani sendirian kan sebagaimana yang diinginkan Sani.


__ADS_2