Dunia Mu

Dunia Mu
Pergi ke rumah Pak Rais


__ADS_3

"Aku mau pulang pokoknya!" Teriak Adel saat baru saja Andre datang. Hari itu sudah larut malam tepatnya pukul 10 malam.


Andre tak meladeni orang yang sedang marah besar di hadapannya, dia langsung mengedarkan penglihatannya ke segala arah mencari sosok orang yang mulai membuatnya khawatir.


"Kok gak ada. Tri kemana?" Tanya Andre di hadapan Sani yang masih marah sampai memasang wajah judes dan memangku kedua tangannya di perut.


"Baru nanya? Dari tadi gak inget kalau kita berdua tuh cewek yang seharusnya gak seenaknya kamu tinggal tanpa kabar." Bentak Adel dia sudah tidak bisa sabar lagi rupanya.


"Aku ada urusan." Jawab Andre lemah, tangannya membenahi kasur yang saat itu rasanya dia ingin langsung melepaskan semua perasaan letih. "Tri kemana? Tadi kan kalian berdua." Sambungnya lagi.


Kali ini Sani tak mengindahkan pertanyaan Andre, dia masih judes bahkan tak menjawab pertanyaan itu.


Andre kembali bangkit dan duduk sedangkan Sani di hadapannya masih berdiri dan memalingkan wajah ke arah lain. "Tri dimana? Tadi sama kamu kok sekarang gak ada." Kedua kalinya Andre bertanya, tapi menit berlalu dan menunggu yang tidak pasti. Ego Sani masih tinggi sampai dia tidak Sudi untuk menjawab pertanyaan yang begitu penting.


Menyikapi Sani yang masih marah Andre hanya bisa menarik napas saja, apalagi yang bisa dilakukan saat menghadapi seorang wanita yang marah. Bertanya salah, bicara salah, diam salah, akhirnya serba salah.


Andre masih diam tak ingin kalah dengan sikap angkuh Sani saat itu, hingga dia tak tahan dan terlihat sudah berdiri bersiap untuk keluar dari ruangan itu.


"Eh mau kemana lagi? Pergi terus!" Gerutu Sani.


"Cari Tri." Timpal Andre singkat. Sebenarnya dia tidak sedang kesal tapi Andre hanya merasa malas saja jika harus terus berdebat, tidak ada gunanya.


"Di rumah sakit." Balas Sani yang masih judes dan manyun saja.

__ADS_1


Mendengar jawaban itu Andre langsung memutar bola matanya, menatap Sani dengan serius terlebih dia merasa kaget dan tak bisa tenang saat mendengar perkataan itu.


"Tri dibawa ke rumah sakit, dia tadi pingsan." Jelas lagi Sani mulai sedikit memberikan Andre penjelasan yang bisa dicerna dengan mudah.


"Tri sakit apa? Kamu gak nungguin dia?" Tanya Andre panik.


"Mana aku tahu, tanya aja sama dokter langsung!" Balas Sani seperti dia sengaja ingin membuat Andre merasa khawatir.


Andre berdecak kesal. Tanpa basa-basi dia langsung membanting pintu saat membukanya membuat Sani yang berdiri langsung kaget.


"Kamu gak ada simpati-simpatinya sama orang. Dia sendirian di sini sekarang, gak ada keluarga. Tega kamu jadi orang." Batin Andre yang ingin sekali memaki Sani dengan kata-katanya itu.


"Mau kemana?" Tanya lagi Sani.


Andre terlihat menghela napas mengatur iramanya yang mungkin sudah bercampur dengan rasa kesal. "Ke rumah sakit." Jawab Andre pelan.


"Cepat kita pergi sekarang!" Balas Andre dengan nada bicara yang masih sama. Meskipun berapa kali dia mendapatkan bentakan bahkan perkataan yang tidak membuatnya nyaman, tapi Andre masih berusaha untuk bersikap tenang karena dia tidak terbiasa untuk marah-marah hanya akan membuat dia menyesal saja.


Sani akhirnya mengikuti Andre dari belakang. Bahkan di sepanjang jalan sampai keluar dari gang, suasana keduanya terasa tegang dan tidak ada percakapan yang diperdengarkan.


Sesekali mata Sani terus saja mengintip ke arah Andre yang saat itu dia terlihat terus menundukkan wajah, Andre jarang sekali melihat ke arah lain dan penglihatannya itu sering tertunduk ke bagian bawah. Seperti sedang menghindari sesuatu hal yang entah apa.


"Kita perlu sesuatu untuk pergi kesana, aku hanya tahu nama rumah sakitnya saja." Ucap Sani memberitahu Andre.

__ADS_1


Andre masih saja tak menjawab dan tidak banyak bicara seperti sebelumnya, mungkin karena dia terlalu pusing memikirkan banyak kasus yang melibatkannya saat ini.


"Mau kemana kita?" Tanya Sani saat sadar arah jalan Andre berubah, dia menyusuri jalan ke arah rumah sakit jiwa. Entah mengapa Sani tidak bisa begitu percaya pada Andre, dia masih membayangkan saat kejadian di desanya apalagi setelah kematian sahabatnya itu. Bagaimana jika Andre kali ini nekat membuat masalah, seperti membuat dirinya celaka?


Mengingat hal buruk yang ditakutkan Sani mulai menghentikan langkah kakinya saat itu, seperti yang sudah ditebak spontan Andre menghentikan langkah kakinya juga, tubuh Andre berbalik dan menatap Sani yang saat itu berdiam diri dengan ekspresi yang ketakutan.


"Mau ikut atau enggak sekarang terserah kamu, sekarang aku tanya nama rumah sakitnya apa?" Tanya Andre dengan nada serius.


Anak mulai berpikir apakah dia sudah salah sangka sampai memikirkan sesuatu yang buruk tentang Andre? Tapi jelas juga untuk apa Andre mengajaknya pergi ke jalan ini dan mau kemana sebenarnya?


Sani masih diam karena dia cukup gugup.


"Nama rumah sakitnya?" Seru Andre dengan sedikit nada tinggi.


Sani terperanjat kaget mendengarkan suara Andre yang setengah berteriak, dia gugup dan mungkin sudah salah tingkah di mata Andre. "Rumah sakit Cempaka Raya." Jawab Sani terdengar gemetar.


Setelah mendapatkan jawaban itu Andre kembali berbalik. Tapi karena dia masih tak mendengarkan langkah kaki Sani di belakangnya membuat Andre kembali terhenti dan berbalik. "Yakin gak ikut? Aku mau ke rumahnya Pak Rais, keluarganya pasti siap membantu." Terang Andre saat itu.


Sani mulai bisa menghela napas. Tapi dia sedikit penasaran apakah benar Andre akan ke rumah keluarganya Pak Rais? Sejak kapan dia tahu rumahnya?


"Tadi siang aku menyempatkan ke sana melihat kondisi keluarganya, tadi juga aku disuruh menginap di sana." Terang Andre yang sudah tidak sabar ingin cepat pergi.


Benar saja, Andre tak menunggu lagi jawaban Sani dia memilih untuk pergi dengan maksud dan tujuannya yang sudah pasti. Rencananya malam ini Andre akan menginap di rumah keluarga Pak Rais bersama Sani dan Tri, tapi jika Tri di rumah sakit dia butuh menengoknya dan tinggal di rumah sakit dulu, pergi ke sana dia tak tahu dan berharap saja jika keluarga Pak Rais Sudi membantunya untuk pergi ke sana.

__ADS_1


"Tunggu!" Teriak Sani. Andre langsung tahu jika Sani akan mengikutinya, tanpa memastikan lagi dan mengatakan apapun dia membiarkan Sani berjalan dari belakang mengikutinya ke rumah Pak Rais dan kebetulan rumah Pak Rais tidak begitu jauh dari rumah sakit.


Sepanjang jalan Andre terus menundukkan wajah, bukan karena alasan apapun lagi jika bukan karena penglihatannya sekarang, jelasnya Andre sudah memiliki kemampuan untuk melihat segala sesuatu yang tak kasat mata. Dia menundukkan wajah hanya untuk menghindari tatapan mata dengan mereka.


__ADS_2