
"Mas Andre!" Mata Andre langsung membulat mendengarkan namanya dipanggil lagi.
Saat terjaga dia melihat suasana yang berbeda, ruangan yang semula terang oleh lampu menjadi gelap.
Andre menarik napas saat akan bangun dia merasakan seluruh tubuhnya tak bisa digerakkan, Bahkan jari-jari tangan dan kaki.
Perasaan panik langsung merasuk membuat Andre yang semula tenang menjadi diam menahan was-was yang perlahan membuat pikirannya tidak tenang.
Sebenarnya dia ada dimana? Apakah sukmanya pergi seperti waktu itu?
"Mas Andre!" Suara panggilan itu terdengar lagi. Andre melihat ke sekeliling yang tak nampak apapun. Sebenarnya ini seperti keadaan yang orang katakan tertindih eureup-eureup. Keadaan tidur yang tidak normal dan ada makhluk halus yang berusaha membuat dia terjebak dalam keadaan tidur tapi kesadarannya tetap berjalan.
"Pokoknya kamu pakai kalung itu!" Suara bentakan yang tak asing lagi bagi Andre, tentu saja suara khas Pak Tarman. Bola mata Andre bergerak melihat suasana yang sudah berubah, sebuah pemandangan antara Pak Tarman dan seorang anak perempuan.
"Aku gak mau, Pak! Gak mau pakai kalung itu." Keluh seorang wanita yang jika ditebak dari usianya kurang beberapa tahun dari Tri. Apakah itu Sri? Pikiran Andre terus menerka-nerka.
"Pokoknya pakai lagi! Kamu tahu aku sudah ingin bertemu dengan Ibumu sekarang! Cepat!" Paksa Pak Tarman dengan kekuatannya sebagai lelaki dewasa memaksa anak kecil untuk memakai kalung dan menyematkannya di leher. Susah payah Pak Tarman melakukannya karena gadis itu yang terus menolak.
Plak...
Sebuah tamparan keras diterimanya hingga tubuhnya tersungkur. Padahal sekilas terlihat jelas jika keadaan anak kecil itu sudah tak berdaya.
Andre tidak bisa mengatakan apapun lagi, saat aksi bejat Pak Tarman mulai akan dilakukannya.
__ADS_1
Gadis kecil itu kejang-kejang dan langsung pingsan. Sebenarnya fungsi kalung itu untuk apa? Mengapa harus disematkan di leher gadis kecil seperti dia.
Pak Tarman sudah membuka baju bagian atasnya dan dengan gairah yang membuat Andre bergidik ngeri sekaligus jijik sampai dia menutup mata.
"Tolong aku!" Sebuah teriakkan yang nyaris saja membuat telinga Andre berdenging kehilangan fungsi pendengarannya.
Sontak Andre membuka mata melihat tubuh gadis kecil yang terjebak dan tubuhnya dililit oleh sesuatu sampai kaku tertidur di samping Andre.
Melihatnya Andre langsung kaget dia tidak yakin dengan penglihatan yang kini sedang membuatnya ada pada momen itu.
Seluruh kewarasannya merasa terpukul dan mentalnya langsung hancur. Andre tak bisa memikirkan kejinya sikap Pak Tarman sebagai ayah sambung dari anak yang sudah kehilangan Ibunya.
Sekarang Andre mengerti, jika Tri juga mengalami hal yang sama sebuah penyiksaan biadab yang dilakukan oleh ayah sambungnya.
"Pak! Sri sudah dikasih obatnya?" Tri terlihat menerobos masuk dari pintu, melihat kembali keadaan Sri yang sudah nampak kacau.
"Sri ini aku kakak kamu! Sri!" Panggil Tri dengan sabar. Tapi sesuatu terjadi, Sri mengamuk bahkan berusaha untuk menyakiti Tri dan Pak Tarman.
Andre tahu Sri saat itu sudah mengalami stress dan membuatnya sampai kehilangan akal sehatnya. Semua karena ulah Pak Tarman. Ingin rasanya jika bisa dia langsung meninju lelaki tua yang dipanggil ayah oleh Tri dan Sri itu.
"Mas Andre!" Panggilan kali ketiga Andre mendengar namanya disebut. Dia mencari lagi dan suasana nampak berubah lagi.
"Aku gak mau Pak. Untuk apa kalung itu?" Teriak Tri membuat Andre yang hanya bisa menyaksikannya ikut geram. Apa daya yang dia lihat mungkin ingatan seseorang, sebuah ingatan yang sedang ingin memberitahunya tentang banyak kejadian.
__ADS_1
"Pokoknya pake. Aku gak mau tahu lagi, kamu harus pake!" Terngiang jelas bagaimana perdebatan antara Pak Tarman dan Tri memecah telinga Andre saat itu, hingga Andre hanya bisa memalingkan wajah menahan pandangannya dan jika bisa memilih dia lebih baik tidak tahu semuanya saja.
"Mas Andre!" Panggilan ke empat yang didengar Andre. Sudut mata Andre menangkap sosok wanita yang duduk di atas lantai menatapnya ramah.
Andre langsung terperanjat dan bangun. Dia yakin kali ini bukan hanya mimpi. Andre melihat situasi yang berubah, sebuah kamar kontrakan dengan lampu yang menyala.
Andre berbalik lagi tapi dia masih melihat wajah gadis yang dia temui dari mimpi buruknya yaitu Sri, adik dari Tri. Dia tidak bisa mengungkapkan satu katapun pada Sri yang tiba-tiba rohnya datang dan mungkin itu kemauannya juga untuk memberitahu segala hal masalah tentang Pak Tarman.
"Mas Andre! Tolong kakak Tri." Ucapnya singkat. Dari arah bola matanya menatap, Andre tak yakin jika Sri dengan wujud rohnya tidak bisa melihat Andre saat itu, apakah artinya roh memang tidak bisa melihat dia? Tiba-tiba asumsi itu terpikirkan.
Tidak begitu lama roh Sri menghilang tanpa mengucapkan kata apapun.
Andre termenung diam, mencerna setiap makna dari mimpi buruk yang dia dapatkan malam ini. Tentang roh Sri, apakah semua itu nyata? Beberapa kali Andre menarik napas berusaha ingin membuat hatinya tenang. Jujur saja dia tidak bisa percaya jika Pak Tarman memiliki sebuah rahasia tentang masalah yang besar di rumah sebesar ini. Apakah itu benar?
Ingin rasanya percaya, tapi itu artinya hanya menambah beban saja kan.
Andre hanya bisa membuang dalam-dalam emosi yang sudah sesak di dadanya. Pilihan untuknya sekarang apa? Dia tidak ada pilihan lain lagi. Padahal masalah Anis saja belum selesai dan sekarang harus ditambah fakta lain. Apa yang bisa direncanakannya untuk masalah sebesar ini? Kematian Sri memang masih penuh teka-teki tapi bukan hanya itu yang ingin Andre ketahui, sekarang dia lebih berpikir untuk membebaskan Tri dari rencana bejad yang dilakukan Pak Tarman. Sayangnya Pak Tarman mungkin sudah melangsungkan aksinya itu pada Tri malam ini, di tengah malam yang larut tanpa siapapun yang tahu.
Tiba-tiba Andre terperanjat seolah baru disadarkan oleh sesuatu lagi. Dia ingat jika Pak Tarman tadi pamit untuk kembali ke rumah, apakah mungkin tujuannya kembali karena rencana yang sama? Pak Tarman ingin melakukan perbuatan keji itu pada Tri?
Mengingatnya saja membuat Andre rasanya tidak bisa bernapas lagi. Bagaimana bisa? Dan bingungnya apakah kali ini dia memiliki kesempatan untuk menghentikan aksi Pak Tarman. Tapi dengan cara seperti apa?
Andre masih diam di atas kasur, dia butuh sebuah rencana dan mungkin ini adalah rencana terakhir karena setelah besok pagi dia tidak ingin berurusan lagi dengan keluarga Pak Tarman apapun alasannya.
__ADS_1