Dunia Mu

Dunia Mu
Rencana pulang.


__ADS_3

Andre tiba di rumah dengan wajah yang masih sedih, pandangannya langsung teralihkan ke arah Sani yang nampak mematung dan melamun sendirian. Sekarang dia sangat merasakan bersalah, apa yang bisa dia lakukan untuk satu tanggung jawabnya ini.


Tanpa ragu Andre berjalan maju mendekat ke arah Sani, tidak butuh waktu lama Sani lebih peka langsung melihat Andre yang sudah mendekat saat itu.


Sani diam saja, tapi matanya jelas memperlihatkan bagaimana rasa sedihnya saat itu.


Sani terus membalas tatapan Andre tanpa mengatakan apapun, meski dalam hati dia sedih karena ingin cepat pulang tapi apa daya karena keadaan sekarang tak memungkinkan dia memaksa Andre.


"Kamu ingin pulang sekarang?" Tanya Andre tiba-tiba membuat Sani membulatkan matanya.


Sani tak bisa mengelak karena dia sudah merindukan suasana keluarga di rumah. Pada akhirnya Sani hanya menangis tak tahan dengan air mata yang berjatuhan.


"Maafkan aku!" Ucap Andre kemudian dia menundukkan wajahnya tanda merasa sangat bersalah.


Sani tak bisa mengatakan apapun, walaupun dia sangat ingin bersikap seperti biasa.


"Neng Sani!" Terdengar sebuah panggilan menembus indera pendengarannya saat itu, tak lama Bu Ratih masuk ke dalam ruangan dan terlihat ada Sani juga Andre di sana yang saling menundukkan wajah.


"Maaf Ibu sudah mengganggu." Ucap Bu Ratih seraya menutup pintu kembali.


Sani tak membiarkan Bu Ratih saat itu masuk ke dalam suasana keduanya. Sani terdiam dan mencoba menenangkan egonya saat itu.


"Kita pulang sekarang!" Ucap lagi Andre terdengar serius.


Sani langsung terdiam, dia menoleh ke arah Andre yang sudah dari tadi memperhatikannya dengan tatapan serius.

__ADS_1


"Kita pergi sekarang dan bicara pada Pak Dean." Simpul Andre yang langsung beranjak pergi ke arah pintu membiarkan Sani sendirian.


Sani sangat bingung, tak biasanya dia mengalah kepada seseorang, tak biasanya juga dia mengurusi banyak masalah dalam kondisinya sekarang. Sikap acuh tak acuh nya, dia hanya melihat bagaimana caranya bahagia, bagaimana dia bisa mempunyai kebahagiaan dengan siapapun. Tapi sekarang, untuk pertama kalinya dia menghadapi masalah yang benar-benar membuat dirinya tidak bisa mundur dan menyerah.


Andre yang sudah keluar dari ruangan itu pergi dengan ragu-ragu ke arah pintu, ada seseorang yang ingin dia temui dan tak lain adalah Pak Dean yang saat itu tampak dari balik kaca jika Pak Dean sedang berdiri di sana.


"Bapak sendirian dari tadi." Ucap Andre menyapa Pak Dean, sebenarnya dia sedang berusaha mencari cara agar bisa langsung menceritakannya pada Pak Dean.


Pak Dean tidak menjawab langsung, terlebih dulu dia mengalihkan matanya dan menatap ke arah Andre yang sudah berdiri di sampingnya saat itu.


"Kamu sudah merencanakan ingin pulang bersama Sani?" Tiba-tiba Pak Dean mempertanyakan sesuatu yang membuat Andre langsung gugup untuk menjawab, seharusnya dia kan yang berbicara tentang masalah itu tapi nyatanya Andre yang dikejutkan dengan pernyataan Pak Dean.


"Ah itu Pak, saya tadi hanya mengobrol dengan Sani." Jawab Andre, dia tidak bisa bertanya dari mana Pak Dean tahu tentang rencananya itu padahal dia belum bercerita apapun.


"Neng Sani sudah menunggu lama, pulang sekarang kan?" Bu Ratih membahas hal yang sama juga, Andre mulai tak mengerti dengan maksud pembicaraan kedua orang yang ada di hadapannya saat ini. Dia orang tua yang seharusnya tidak mempermasalahkan tentang rencananya itu.


Andre sampai terdiam bingung.


"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan lagi. Maaf kan Bapak ya sampai tidak memikirkan kalian di tempat ini, seharusnya kalian sudah bisa pulang lebih awal." Pak Dean berbicara seolah dia setuju dan mendukung Andre untuk pulang.


Tidak ada yang bisa diungkapkannya, saat ini Andre hanya merasa senang dan terharu pada kebijakan dua orang tua yang sudah memberikan izin Andre untuk pulang bersama Sani. Padahal kasus yang membutuhkan kehadirannya begitu fatal dan tak bisa digantikan oleh siapapun.


"Sekarang saatnya kamu pikirkan diri kamu sendiri, sekarang saja hanya saat ini silahkan pulang bersama Sani." Sekali lagi Pak Dean menjelaskan maksud hatinya itu, menerangkan jika dia cukup mengharapkan agar Andre tak menunda lagi untuk pulang.


Andre menatap kosong ke arah Pak Dean, hatinya mungkin tak bisa dijelaskan lagi bagaimana batinnya benar-benar sedang berdebat.

__ADS_1


Tak lama mendengarkan permintaan Pak Dean, Andre langsung pergi ke ruangan lain tanpa mengatakan apapun lagi.


Seharusnya sekarang dia senang karena akhirnya beban terberat ini bisa dia selesaikan. Tugas terlahir untuk mengantarkan Sani pulang. Tapi entah mengapa sebagian hatinya merasa berat, bukan dia tidak ingin tapi Andre lebih merasa tidak tenang.


Sedang sibuk memikirkan Sani kebetulan matanya langsung bertemu dengan Sani saat memasuki dapur. Sani langsung menundukkan wajah dan tampak dia canggung menahan banyak perkataan dari bibirnya.


Andre yang melihat ekspresi Sani spontan dia merasa serba salah juga, entah mengapa Andre terbawa suasana dan mulai canggung untuk mengatakan satu katapun saat itu.


"Eh kalian di sini, Bu Ratih dari tadi nyariin loh." Istri Pak Dean tiba-tiba masuk ke dapur, rasanya beruntung sekali dan Andre bisa menarik napas lega lalu melanjutkan berjalan mengikuti istri Pak Dean masuk ke dalam ruangan lain.


"Nah kalian akhirnya, Ibu dari tadi udah bingung nyari. Sekarang kita makan dulu!" Ajak Bu Ratih sebagai pemilik rumah yang ramah dan sangat melayani baik semua orang yang bertamu.


Tak lama setelah Andre dan Sani duduk dari arah pintu muncul lagi Pak Dean, hal tersebut sangat kebetulan karena Bu Ratih tak perlu mencari Pak Dean untuk mengajak makan siang.


"Semuanya sudah ngumpul? Wah kebetulan." Ucap Pak Dean dengan matanya yang langsung mengabsen setiap makanan di atas meja makan.


"Ih Bapak, kelihatan banget kalau lagi lapar." Hardik istrinya Pak Dean.


"Beruntung banget Bapak datang, kita jadi gak perlu nyari kan Bu. Ayo cepat semuanya duduk!" Bu Ratih tampak senang dan dia yang paling bersemangat menyiapkan acara makan siang bersama itu. Rasanya Bu Ratih begitu terlihat yang paling senang diantara yang lain, dia juga yang paling bersemangat. Alasannya tak lain karena acara makan bersama seperti ini mungkin untuk pertama kalinya lagi di rumah milik Bu Ratih setelah semua orang rumah meninggalkannya.


"Bu, melamun aja. Tadi nawarin makan semangat, sekarang malah melamun aja." Sindir istrinya Pak Dean yang sedang mengambilkan lauk untuk piring Pak Dean.


"Em, lanjut saja semuanya ayo!" Jawab Bu Ratih langsung terburu-buru mengambil nasi yang tepat ada di hadapannya.


"Loh, Nak Andre sama Neng Sani kenapa diam-diam terus aja, ayo cepat kita makan bareng-bareng." Ucap Bu Ratih saat tak sengaja sudut matanya memperhatikan ke arah Andre dan Sani.

__ADS_1


__ADS_2