Dunia Mu

Dunia Mu
Keanehan


__ADS_3

"Buka! Ini Pak Tarman Nak Dean!" Teriakkan yang tak lama kemudian pintu nampak terus bergerak dan semakin lama semakin keras hampir setengah akan terbuka jika satu kali dobrakan saja.


Menyaksikan itu membuat jantung yang melihatnya berdegup kencang seolah sudah melakukan lari maraton.


Andre bingung mematung dicampur dengan perasaan takut yang campur aduk, dia tidak bisa lupa bagaimana Pak Tarman yang sudah tega membunuh sahabatnya sendiri dan tak mungkin kali ini dia menghadapi Pak Tarman langsung.


Langkahnya mundur teratur, saat mata Andre bertemu dengan Sani seperti mereka sedang berbicara dan tanpa berpikir panjang spontan berlari ke dalam bagian ruangan lain, beruntungnya karena setiap ruangan di rumah pak Dean terbatas oleh pintu.


Jantungnya masih berdebar, sekarang keringat dingin dan tangan gemetar mulai semakin membuat dia gusar. Meski kadang tidak bisa fokus untuk melakukan apapun, tapi Andre cukup sigap kali ini dia langsung mencari ke setiap dinding memeriksanya tanpa terlewatkan dan juga dari atas lemari yang terpampang di ruangan dia sekarang.


"Apa Andre? Cari apa?" Tanya Sani panik yang masih tak mengerti dengan tindakan sigap Andre.


"Cepat cari kuncinya!" Teriak Andre saat itu dengan gerakan terburu-buru.


Sekarang keduanya sibuk mencari kunci yang entah disimpan dimana, Sani tak kalah sigap dia memeriksa bagian lain di ruangan itu. Sangat sulit jika harus menebak sendiri atau menemukan sendiri kebiasaan pemilik rumah menyimpan kunci, apalagi karena baru pertama kali ini Andre dan Sani berkunjung ke rumah Pak Dean.


Andre terus mencari bahkan tak melewatkan satu jengkal pun bagian dinding dan lemari di dalamnya. Dia menyesal setelah menyetujui untuk tinggal di rumah Pak Dean tanpa berpikir buronan itu akan muncul dimana dan kapan saja.


Ceklek...


Suara pintu yang enteng terbuka.


Tadinya Andre sibuk dan seluruh pikirannya ia fokuskan untuk mencari barang yang ingin dia dapatkan di rumah itu, Sani juga demikian. Tapi pendengarannya masih berfungsi baik dan bisa membedakan suara pintu terbuka. Spontan mata Andre berbalik sampai dia merasakan napasnya berhenti seketika, dia kembali merasakan hatinya yang terhenyak kaget, ke dua mata melotot memperlihatkan kesan sangat takut.

__ADS_1


Sampai tak bisa mengatakan apapun. Sani membeku di tempatnya saat itu. Seperti langsung terhipnotis kedua orang yang melihat kedatangan Pak Tarman mematung bersama dan membisu.


"Kalian?" Ucap Pak Tarman mulai tajam melihat ke arah Andre dan Sani.


Andre tak berharap kecerobohannya ini malah membuat orang jahat itu masuk ke dalam rumah dengan enteng melewati pintu yang ada di sisi lain dan langsung mengarah keluar, dia sampai lupa menguncinya dari dalam.


"Kok bisa ada disini?" Tanya Pak Tarman penasaran, terlihat juga Pak Tarman yang syok, hal itu pasti karena keberadaan Andre dan Sani di rumah Pak Dean.


"Dean mana?" Pak Tarman masih berbicara dan bertanya. Tapi tak ada satu kata-kata pun yang diindahkan oleh Andre maupun Sani.


Siapa lagi yang bisa berhadapan dengan seseorang yang sudah keji melakukan pembunuhan?


Setiap kali Pak Tarman menatapnya spontan Andre langsung memalingkan mata ke arah lain. Sedangkan Sani terasa erat memegang lengan Andre dia pasti sangat ketakutan.


Pak Tarman sesekali melihat ke arah Andre tapi dia kembali berjalan lagi dan sudah masuk ke ruangan lain, beruntung saat itu karena dari tadi Andre berharap jika dia bisa keluar dari pintu yang dilewati Pak Tarman barusan, maka setelah kesempatan datang Andre tak tinggal diam lagi.


Padahal saat itu sudah hampir tengah malam. Ketika masuk ke jalanan raya tampak tidak ada satupun sorot lampu kendaraan yang melintas. Andre langsung berhenti dulu melihat ke arah belakang. Dia cukup bingung sekarang, ternyata sedari tadi dia berlari Pak Tarman tak mengejar, benarkan?


Andre kembali mengatur napas dulu sambil berdiri menunggu Sani yang tampak ngos-ngosan berusaha untuk datang padanya saat itu, karena rasa panik Andre sampai lupa tidak memperdulikan jika seseorang yang berlari di belakangnya adalah perempuan.


"Udah capek!" Keluh Sani.


Andre masih memperhatikan dengan mata yang terjaga saat itu, dia tak berharap jika Pak Tarman tiba-tiba muncul kan.

__ADS_1


"Sini Sani, kamu ingat kan rumah tetangga yang ditunjukkan Pak Dean itu kita pergi ke sana." Tekad Andre beruntung sekali karena dia masih ingat pesan Pak Dean.


"Jam segini? Emangnya ada orang yang mau buka pintu jam segini?" Komentar Sani. Ternyata saat Sani berbicara Andre sudah berjalan lebih dulu, bisa-bisanya Andre tak memberikan ruang bernapas untuknya sedetik saja.


Dengan sisa tenaga Sani kembali berjalan menyusul di belakang Andre. Arah berjalannya saat itu tepat pada rumah yang ada di seberang jadi hanya tinggal menyeberang saja melewati jalanan raya.


"Andre!" Teriak Sani saat itu dan perkataannya langsung terhenti.


Andre yang tadinya tenang sedang berjalan langsung berbalik panik ke arah Sani, tapi dia hanya melihat Sani yang kesulitan saat akan berjalan dia merengek sakit saat itu sambil memegangi sebelah kakinya.


Apalagi? Batin Andre, namun sekilas pemandangannya langsung berubah. Andre melihat seseorang menahan kaki Sani saat itu dan pasti dia adalah makhluk yang jahil.


"Cepat Andre sakit banget!" Keluh lagi Sani.


Andre tajam melihat sosok yang menyebabkan Sani kesakitan sampai tak bisa menggerakkan kakinya. Bisa-bisanya makhluk seperti itu mengganggu dalam suasana yang genting seperti ini. Andre cepat berlari tapi dia ragu saat pandangannya semakin jelas melihat sosok itu, sampai-sampai dia tak yakin lagi jika harus mendekat ke arah itu.


Saat berpikir cara untuk menolong Sani suara klakson mobil besar terdengar dari kejauhan. Mendadak sekali Andre melotot panik, apa jadinya jika mobil itu tak menyadari ada Sani di tengah jalanan raya seperti itu? Bisa saja terjadi suatu kecelakaan yang tidak dia inginkan.


Andre langsung berlari tanpa berpikir lagi seperti tadi. Saat tiba dia berusaha menarik kaki Sani namun begitulah rasanya sangat berat dan sulit sekali.


"Gimana ini?" Sani panik tak bisa mengontrol perasaannya saat itu yang sudah kalut, apalagi saat dia sadar ada sebuah mobil besar yang menuju ke arahnya. Membayangkan jika saja terlindas maka seluruh tubuhnya akan hancurkan? Sani menangis panik sambil berusaha sekuat tenaga untuk menarik kaki yang tidak bisa digerakkan itu. Di sisinya ada Andre, perhatiannya terbagi ke arah mobil dan mobil itu masih melaju dengan kecepatan yang sama dari tadi memberikan Andre pemikiran jika supirnya tak menyadari mereka berdua?


"Ayolah! Cepat! Jalan!" Teriak Andre sekaligus dan sangat beruntung sekali berhasil.

__ADS_1


Andre sigap menarik lengan Sani saat itu untuk segera ke samping jalan. Masih dengan napas tak beraturan dan pikirannya yang beluk tenang Andre berbalik dan melihat ke arah samping. Tapi dia langsung melotot tak percaya, yang dilihatnya adalah setan perempuan sama saat diperjalanan tadi. Lantas Sani?


Andre panik melihat ke arah tadi. Ternyata Sani masih ada di sana.


__ADS_2