Dunia Mu

Dunia Mu
Tumbal Setan perempuan


__ADS_3

"San, ini kamu kan?" Tanya Ira sambil meraba tubuh Sani.


"Apa Ra? Ini aku Ra, kita pergi dari sini cepat kamu tahu kan tempat ini?" Rengek lagi Sani meminta temannya untuk pergi bersama.


Ira masih diam dan kesadarannya berusaha mengingat mengapa dia bisa langsung ada di tempat ini dengan Sani?


"Ra kenapa masih diam? Cepat berdiri Ra!" Ucap Sani tidak sabar.


"Jangan San, gimana kalau terjadi sesuatu lagi?" Balas Ira ragu.


"Kenapa sih Ra? Kita harus cepat keluar dari tempat gelap seperti ini. Cepat Ra!" Sani mulai berdiri dan menarik tangan temannya yang masih saja sudah untuk berdiri.


Padahal Ira bukan hanya ragu, dia juga takut jika saja dia harus mengalami lagi sesuatu yang lebih mengerikan dari tadi. Dan mengapa harus ada Sani? Padahal Sani masih pingsan di kamar, di rumah Pak RT.


Dan sore itu, Ira ingat jika dia melihat Pak RT dan Pak Kyai pergi menuju satu tempat lain, dia tak sengaja melihat hutan ini di depan matanya, dan dia masih ingat sosok hitam dari hutan. Setelah berbalik dia melihat Bu RT di depan matanya sedang berbicara dan di sampingnya ada orang. Orang yang berbicara juga.


"Ayo Ra cepat kita harus pergi!" Lagi-lagi ajakan Sani menghentikan pikiran Ira yang berusaha fokus untuk mengingat kejadian di rumah Pak RT.


"Kamu yakin San? Sekarang kita memangnya mau kemana?" Tanya Ira.


"Kita pergi saja dulu dan sebaiknya mencari celah cahaya dari langit, itu lebih baik dari pada semalaman harus menghabiskan waktu di tempat gelap seperti ini. Kamu mau seperti itu?" Jelas Sani panjang lebar.


Bahkan Ira tidak berpikir dia akan seharian tinggal di tempat gelap ini. Mengapa juga tidak ada cahaya bulan sedikitpun dan langit juga tidak terlihat. Sialnya dia harus melewati situasi sulit lagi seperti sekarang setelah kejadian sebelumnya. Mengapa harus dia?


Ira diam tidak menghiraukan lagi rengekan Sani atau pertanyaan Sani yang masih sama, karena dia sendiri tidak tahu harus pergi kemana? Dia tidak yakin tempatnya sekarang tepat di dalam hutan yang dia lihat sore itu, tapi lantas dimana?


Ira terus berjalan dan memegang tangan Sani dengan erat. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya mengapa dia harus terjebak lagi. Ini semua karena Sani dan Andre. Pikirannya mulai kesal, tapi bukan waktunya lagi untuk memikirkan kekesalannya itu, yang terpenting dia harus keluar dari tempat ini.

__ADS_1


"Ra sudah kelihatan di atas ada cahaya langit Ra!" Sorak Sani menghalau lagi pikiran Ira. Padahal Ira berusaha mengingat lagi ingatannya tapi tidak berhasil lagi.


Seperti yang disebutkan oleh temannya, Ira spontan melihat ke atas langit dan benar dia melihat hamparan langit malam dengan sedikit cahaya remang. Setidaknya cukup untuk melihat ke sekitar.


Ira berbalik dan melihat ke arah Sani.


"TIDAK!!" Teriak Ira sambil melepaskan tangannya dan bergerak mundur menjauh dari Sani.


"Ada apa Ra? Kenapa?" Tanya Sani terheran dengan tingkah temannya yang tiba-tiba saja menjauh.


Ira terus berontak dan berteriak ketakutan, teriakan nanar nya bisa Sani rasakan seberapa besar ketakutan yang dia lihat dari arahnya, karena Ira hanya histeris saat Sani terus berusaha mendekat. Ada apa sebenarnya? Sani mulai bertanya-tanya.


"Pergi... Pergi!!" Teriak Ira masih histeris.


Perlahan Sani berhenti dan membiarkan Ira yang berusaha menjauh darinya.


Sani berjalan lagi mengejar, tapi dia langsung menghentikan kakinya. Mengingat jika lebih dalam dia melangkah ke arah dimana Ira pergi, dia juga akan terjebak ke tempat tadi. Itu tidak boleh kan? Dan lagi Sani tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya dia harus bertemu lagi dengan setan itu di sana.


Sani terdiam dan tidak lagi mendengar suara sepatu dan suara Ira yang histeris ketakutan seperti tadi. Dia diam sendirian di tempat yang dia sendiri tidak bisa tahu dimanakah dia sekarang.


"Sani..."


"Sani..."


Sebuah suara tak diundang kembali terngiang lebih dekat dari telinganya. Sani langsung terdiam kaku, tubuhnya ketakutan merespon suara yang lirih terdengar memanggil namanya. Dengan berani Sani berbalik dan mencari, tapi dia tidak menemukan apapun.


Tiba-tiba ingatannya kembali membawa Sani pada sosok setan perempuan yang selalu mengikutinya itu, dia tak tahan dan tidak ingin lagi bertemu dengan setan sebelumnya, apalagi sekarang dia sendirian. Tanpa sadar Sani berlari ke arah berlawanan, Sani berlari dan terus berteriak minta tolong, dia seperti tidak peduli lagi jika ada penghuni seisi hutan yang terganggu atau mengetahui keberadaannya, tidak ada cara lain, dia hanya ingin terus berteriak minta tolong dan berharap seseorang mendengarkannya.

__ADS_1


Saat retina matanya tidak bisa meraba cahaya sedikitpun, langkah kaki yang sembarang berjalan, dan irama langkahnya yang berpacu dengan perasaan takut menggebu, memompa jantung hingga akal pun tidak bisa pulih. Setengah sadar Sani terus berlari tidak memperhatikan arah dan sesuatu yang ada di depan matanya. Hingga suara yang keluar dari mulutnya langsung berhenti diganti dengan suara lirih kesakitan. Karena badan pohon berhasil menghentikan laju dari pelarian Sani. Sempoyongan Sani berusaha untuk terus sadar meski rasa sakit karena benturan di pelipis kepalanya terus berdenyut, dia seperti baru saja menerima kesakitan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Sani merengek sendiri memegang kepala yang teramat sakit, jangan ditanya bagaimana kondisi tubuhnya yang menabrak pohon, sudah pasti terasa remuk saking kerasnya dia sampai terpental dan jatuh ke tanah.


"Sani...! Ira! Sani! Ira! Dimana kalian?" Samar terdengar sebuah suara yang melewati celah telinganya. Tapi tiba-tiba pandangan menjadi samar dan telinganya terus berdenging sampai Sani kehilangan lagi keseimbangan saat berusaha berdiri. Hingga dalam hitungan detik tubuhnya ambruk ke tanah lagi. Suara yang terus meneriaki namanya dan Ira masih terus terdengar, dan semakin lama semakin dekat. Hingga rombongan orang-oramg yang membawa alat seadanya sebagai pencahayaan menemukan Sani yang ambruk di tanah.


"Sani Pak RT! Itu Neng Sani!" Teriak seseorang sambil menunjuk ke arah Sani.


Tidak lama warga membantu dan mengangkat tubuh Sani.


"Tinggal Neng yang satunya lagi Pak RT, itu Neng Ira." Sebut nya memperingatkan.


Warga yang ikut tidak bereaksi sedikitpun, semuanya bisu termasuk Pak RT yang terlihat gelisah dan bingung.


Laki-laki yang bertanya langsung memperhatikan setiap ekspresi dari orang-orang dan baru bisa paham.


"Tidak ada Pak Kyai yang ikut, dan seperti ya warga tidak bisa pergi terlalu jauh ke dalam hutan sana. Kamu pasti tahu kan di sini tidak aman dan aku tidak bisa menjamin keselamatan semua orang." Jelas Pak RT yang tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya juga.


"Kita pulang Pak RT!"


"Sebaiknya pulang."


"Kami tidak mau pergi ke dalam hutan dan lebih lama tinggal di sini."


"Kami tidak bisa."


Jawaban setiap orang langsung terdengar.


Tidak ada cara, meski berat hati Pak RT tidak bisa membahayakan semua orang dengan memaksakan pencarian ke jalan selanjutnya. Hanya sedikit harapan Neng Ira bisa ditemukan langsung. Karena baik cerita, kejadian, dan hal gaib yang terjadi di desanya sudah menjadi hal yang lumrah diketahui oleh warga.

__ADS_1


Akhirnya Pak RT langsung mengajak semua untuk hati-hati keluar dari hutan dan kembali ke rumahnya. Karena Pak Kyai sudah berpesan untuk disegerakan ruqyah pada Neng Sani yang berhasil ditemukan dan juga pemanjatan doa semalaman untuk jaga-jaga dan keamanan desa. Semua orang tanpa terkecuali harus ikut.


__ADS_2