
Kata-kata polisi terngiang jelas bagi Andre yang sangat bersemangat untuk mengungkap kasus Anis, dia tidak mau jika saja menjadi tanggung.
"Apa Bapak ingat atau ada sesuatu yang bisa membuktikan perkataan Bapak tadi?" Polisi masih berusaha mengorek semua informasi yang mungkin bisa lebih menguatkan kesaksian Andre.
Mendengarnya membuat Andre teringat akan sesuatu hal. "Buku harian Anis." Batin Andre.
"Pak aku tahu, Anis mempunyai buku harian yang disimpan di dalam kamar kosan itu, dia menulis segala sesuatunya di sana termasuk kejadian yang sudah menimpanya!" Ucap Andre penuh semangat. Benar saja dia bisa tahu tentang buku harian itu karena sempat melihatnya di alam bawah sadarnya, rasanya sangat beruntung bisa tahu.
"Di kamarnya? Di dalam kosan itu." Ucap Polisi kemudian kedua petugas terlihat berpikir.
Negosiasi dan strategi ditawarkan oleh polisi, biar kali ini menjadi jalan terbaiknya dan menjadi kasus yang bisa dipecahkan.
Andre keluar dari kantor polisi, tapi perasaannya masih tidak tenang. "Apa semuanya akan berhasil?" Batin Andre yang terus menimbang banyak kemungkinan berkecamuk di dalam otaknya.
Andre menghela napas, sendi-sendi tangan dan kakinya masih bisa merasakan kengerian yang dilakukan oleh pemilik kosan itu, dan sayangnya hanya dia yang tahu. Andai saja Andre bisa mengirimkan semua ingatan pada polisi, mungkin penyelidikan yang rumit tidak perlu dilakukan. Hanya akan memakan waktu saja dan menunda masalah. Sekarang apa yang sedang terjadi di sana? Apakah kasus Anis masih terulang lagi di tempat itu?
Beruntung banyak kendaraan umum yang lewat memudahkan akses pulang pergi kemanapun. Andre masuk ke dalam kendaraan umum yang sudah berhenti saat dia berhasil melambaikan tangan untuk menghentikannya. Dia menghela napas dalam rasanya beban ini tak pernah berakhir, pasti selalu saja ada masalah.
__ADS_1
"Mau kemana Jang?" Tanya seorang ibu-ibu sepuh yang kebetulan duduk berdampingan dengan Andre.
"Mau pulang Bu." Jawab Andre lesu.
"Baru ke tempat ini ya Jang? Sepertinya saya baru lihat." Tebak Ibu-ibu itu masih mengajak Andre bicara.
"Ia Bu, tadi saya dari dekat kantor polisi." Ucap Andre, berkilah dengan kenyataan yang sebenarnya.
"Kalau ada masalah itu jangan di simpan sendirian, masih muda ini." Andre mendengar sebuah nasihat yang datang tak disangka padanya.
Andre menganggukkan kepala, santun menyambut setiap pepatah yang keluar dari mulut wanita sepuh layaknya seperti Nenek dia sendiri.
"Saya tidak pakai yang seperti itu Nek, mana berani saya." Jawab Andre menyanggah tegas perkataan Nenek sepuh, menurutnya mungkin Nenek sepuh bermaksud apakah dia memakai barang seperti pelet, susuk, atau benda lainnya dalam hal mistis.
"Jang, Nenek lihat itu barang bukan sembarangan, dapat dari mana? Kalau boleh Nenek saran jangan sampai dipindah tangankan dengan sembarangan ya." Tukas Nenek sepuh yang mulai membingungkan bagi Andre.
"Nek, saya tidak pake dukun dan barang-barang seperti itu. Saya tidak punya!" Terang Andre dengan bahasanya yang berusaha tidak menyinggung perasaan orang lain, terutama seorang Nenek sepuh.
__ADS_1
"Masa sih Jang? Nenek lihat kok dari tadi ada benda yang ingin menyatu dengan Sukma mu, istilahnya sebagai jin penjaga." Nenek itu masih bersikeras, dia berbicara dengan berbisik karena tidak berharap topik yang dibahasnya bisa menjadi pusat perhatian orang di sekitar.
Mendengar penjelasan itu jantung Andre serasa langsung berhenti seketika, dia hanya memiliki kalung yang dipakai dari Anis dan memang fungsinya mungkin bisa untuk menjaga dari hal-hal gaib lain. Nek, apa maksudnya kalung ini." Andre dengan susah payah merangkai kata menjadi pertanyaan yang akan memutuskan rasa penasarannya.
Nenek itu mengangguk, sesuatu yang tidak diharapkan oleh Andre. Mengapa kali ini dia merasa ngeri dan sedikit merinding dengan ceritanya. Dan apakah Nenek itu cukup bisa atau dia adalah orang pintar seperti Nenek? Karena dari awal peringatannya langsung tanpa basa-basi mengarah pada kalung yang masih menggantung di lehernya.
Andre terdiam membisu, tubuhnya langsung terasa kaku merasakan sensasi ketakutan dari alam bawah sadarnya. Apa mungkin kalung ini malah akan membuatnya celaka? Tapi rasanya tidak mungkin jika mengingat ketulusan Anis.
"Nek!" Seru Andre berbalik melihat Nenek sepuh tadi yang sudah hilang dari pengawasan. Andre hanya bisa menelan ludah dan menarik napas untuk bisa tenang. Entah apa lagi sekarang apakah dia baru saja bertemu dengan makhluk lain selain manusia? Jika saja itu benar, untuk apa maksudnya?
Andre masih tidak bisa tenang setelah kepergian Nenek sepuh tadi yang langsung menghilang tanpa jejak, kendaraan yang ditumpanginya sedari tadi juga tidak pernah dirasa berhenti di penghentian, artinya sudah cukup jelas jika Nenek sepuh tadi memang bukanlah manusia biasa.
Andre berbalik mulai memperhatikan ke sekitar seisi kendaraan umum yang ditumpanginya. Awalnya pemandangan biasa saja hingga dia menatap mantap sebuah luka menganga dari kepala seseorang tepat terhalang dua jok ke depannya. Andre merasa tak percaya dan berulangkali mengedipkan mata, tapi pemandangan itu masih tidak berubah juga. Hingga dia memutuskan menggerakkan kepalanya perlahan ke arah samping karena saat itu seseorang tengah duduk bersamanya. Tepat ujung sudut matanya mengabsen sosok yang duduk tegak menghadapkan wajahnya ke depan. Andre merinci apapun dari ujung kaki yang sudah membuat dia langsung berpikir lain. Kakinya tidak memakai alas kaki apapun, lalu matanya bergerak hingga sekarang Andre melihat jelas wajah dari orang itu meskipun hanya dari samping tapi sangat jelas.
Andre merasa harus menahan napas lagi, hati-hati dia menggeser sedikit jarak duduknya hingga terpojok di tepi kursi yang dia duduki. Bulir keringat menetes dari setiap pori-pori kulit, entah mengapa rasanya suasana menjadi tegang seperti dimana dia baru pertama kali bertemu dengan hantu.
Andre berusaha tetap bertahan meski rasanya sulit untuk bernapas sedetik pun. Dalam-dalam dia menarik napas, berharap bisa menghempaskan satu persatu perasaan yang menyiksa di dadanya. Pandangannya kini mengarah pada supir kendaraan yang terlihat tenang dan biasa saja, supir pasti manusia biasa bukan hantu seperti mereka. Sedikit kabar baik yang bisa membuat hati Andre tenang, sekarang yang harus dilakukannya adalah tentang sikapnya sendiri, seharusnya dia sudah terbiasa dengan banyak penampakan yang muncul datang dan pergi tak pernah beralasan. Dia harus bisa seperti itu, bukan merisaukan kedatangan mereka dan merasa tidak waras karena sering melihat sosok tak kasat mata.
__ADS_1
Andre menutup kedua kelopak matanya, dia masih terus membacakan hatinya agar tetap tenang dan waras. Biarkan saja semua makhluk ada dimana pun tak melewati setiap sudut kosong. Dia harus membiarkannya meskipun terkadang pemandangan wajah seram pucat pasi dan terdapat keburukan lain, tapi Andre harus terbiasa dan tidak mempermasalahkannya lagi.