Dunia Mu

Dunia Mu
Rencana batal


__ADS_3

"Jadi siapa saja yang ada pada waktu kejadian?" Mendengar pertanyaan itu Andre langsung terdiam menunduk. Satu hal yang tidak ingin dia bicarakan di hadapan Tri dan Sani terutama Tri, tidak mungkin Andre membuka aib yang seharusnya dia tutupi.


"Saya." Jawab singkat terdengar dari arah Tri.


Andre terperanjat mendengarnya dan segera mengalihkan mata ke arah Tri yang saat itu sedang berbicara.


"Jadi saudari Tri waktu kejadian sedang dimana dan sedang apa?" Padahal dari awal Andre tak berharap pertanyaan itu melayang dari mulut polisi yang sangat penasaran.


"Bersama Pak Tarman, Pak Rais. Mungkin." Jawab Tri terdengar biasa saja.


Polisi harus kembali mencerna dua kali perkataan Tri saat itu, karena jawabannya tidak terlalu detail dan juga ada kata-kata mungkin yang dia sematkan.


Sekali lagi dalam waktu tertentu polisi diam dan sorot matanya yang tidak lepas memperhatikan ke arah Tri dengan tatapan yang penasaran.


"Jadi kalian bertiga? Kau tahu siapa yang melakukan itu?" Timpal polisi dengan nada penuh selidik.


Tri menganggukkan kepala dan dengan wajah yang menunduk.


"Kemungkinannya Hany ada dua, satu orang yang bersama saat itu tidak ada di sini sekarang?" Tebak polisi masih dominan berbicara. "Kabur." Simpulnya dengan nada yang ringan.


Tri tak bisa berbuat apapun bahkan dia tidak bisa mengatakan satu katapun, tangannya hanya mampu meremas baju entah karena dia sangat marah.


"Nenek sepuh itu adalah nenek anda, kan? Kamu sudah tahu siapa yang melakukannya?" Polisi mendekat dan kembali menyinggung tentang kematian Nenek sepuh yang mengejutkan banyak orang.


Tak disangka derai air mata saat itu sudah tidak bisa ditahan lagi, keluar tanpa ampun melalui celah kedua matanya. Tri bahkan menahan suara tangis yang semakin lama Isak suaranya mungkin akan terus memaksa keluar dari mulut yang dia tahan. Beberapa saat pemandangan itu berlangsung, melihatnya Sani sangat tidak tega, apalagi Andre yang langsung teringat tentang Nenek yang sudah membesarkannya. Hati anak mana yang tidak akan hancur jika kematian Nenek yang bagaikan sudah menjadi kedua orangtuanya itu.

__ADS_1


Polisi akhirnya menghentikan pembicaraan, tapi bukan karena kendala Tri yang menangis deras. Tapi karena dia meluangkan sedikitnya waktu agar proses pelaporan bisa berlangsung lancar. Terutama dalam kasus pembunuhan seperti sekarang.


"Kalian akan tetap di pantau oleh anggota kami dan semoga itu bisa membantu keselamatan kalian. Karena dalam kasus ini kami perlu mengumpulkan bukti dan juga satu orang yang diduga kabur. Semoga saja kalian baik-baik saja." Terang polisi seperti akan menyudahi percakapan.


Andre langsung menangkap sorot mata Sani yang kebetulan dari tadi mungkin sudah memperhatikan ke arah Andre. Beruntung tatapan mereka bertemu dan kesepakatan bisa dilakukan, dari rencana untuk pulang dan kembali ke rumah Tri atau tinggal sementara di seberang bangunan rumah. Apapun ke depannya bisa direncanakan.


Beruntung karena polisi mengantar mereka pulang kembali.


Setibanya di halaman rumah garis kuning membentang di sepanjang sudut rumah, batas yang tidak boleh dilewati oleh siapapun kecuali petugas kepolisian.


Tri sekilas melihatnya, kali ini dia sudah berubah dan terlihat lebih rapuh, tangisannya juga belum berhenti sama sekali dari tadi, bahkan ketika turun dari mobil dia sampai dipapah oleh Sani.


Hari sudah semakin memperlihatkan cahaya datang menjemput pagi dan terus berangsur hingga berganti siang.


Siapa yang akan menyangka, mungkin setelah sekian lama tahun terus berlalu dan masalah akhirnya terjadi di rumah yang sudah dia tinggali dari dulu.


Harus bagaimana dan dengan apa? Tak ada takdir yang bisa ditawar. Yang tersisa hanya banyak sekali kenangan yang menyayat hati dan entah akan berlangsung sampai kapan.


Tidak ada orang satupun juga yang akan mengerti dalamnya kesedihan Tri sebagai anak yang sudah tidak memiliki orang tua dan keluarga, tapi bukan hal itu yang dia tangisi dari tadi melainkan sebab kematian yang begitu tragis.


Ingin rasanya hati menyalahkan diri sepenuh hati sampai luas dan sampai semua perasaan sesal hilang, tapi apa daya?


Tri masih menangis dengan tatapan kosong dan air mata yang tetap berjatuhan melintas melalui kedua pipinya.


Andre yang tidak tahu harus berbuat apa hanya bisa membalas tatapan Sani yang tampak bingung juga. Kini ketiganya memilih sementara tinggal di rumah kontrakan.

__ADS_1


Andre terduduk diam di sudut ruangan yang dekat dengan pintu, begitupun Sani dan Tri yang duduk berdua tampak linglung.


Kali ini Andre benar-benar sudah terlibat dalam masalah yang sangat besar. Itu artinya dia tidak bisa cepat pulang, dan semoga saja harapannya jika Sani tak pernah menyinggung prihal itu.


#####


Tak lama dari bisikan yang keluar dari hatinya tiba-tiba dering telpon membuat Andre langsung mengalihkan perhatian.


Saat diperiksa dan nama pokisi muncul. Sekarang dia baru teringat jika masalahnya tentang Anis belum selesai juga, dia dalam kasus itu masih dilibatkan sebagai saksi dan bagaimana bisa sekarang datang Maslaah tanpa ampun padanya.


Mau tidak mau karena desakan kewajibannya untuk melapor dan bersaksi, Andre mengangkat panggilan untuknya itu, semoga saja dia berharap jika akan mendengar sebuah kabar baik.


Andre pergi keluar rumah untuk berbicara dalam telpon, tapi langkahnya langsung terhenti seketika dengan ekspresi yang sangat syok.


Karena sekarang semua kemampuannya sebagai manusia indigo sudah kembali sempurna, Andre bisa melihat dengan jelas segala sesuatu situasi yang terjadi dalam dimensi lain. Dan kali ini yang dia lihat bukankah sesuatu yang biasa saja, melainkan sosok dari roh nenek sepuh itu. Nenek sepuh yang abru saja meninggal.


Meski dia sudah sadar dengan kemampuannya tapi beberapa kali Andre masih harus merasa takut dan langsung gugup jika berhadapan dengan mereka yang tak kasat mata.


Panggilan itu terabaikan, dia baru sadar saat kembali mengecek layar hp yang sudah terkunci.


Andre terperanjat dan segera mengecek log panggilan, meski dengan tangan gemetar dan sekujur tubuhnya masih merasakan sensasi takut dia terpaksa harus memaksa dirinya agar sanggup menyelesaikan permasalahan di kehidupan nyata.


Ketika di luar rumah ada begitu banyak roh yang terlihat, dan mungkin bukan saatnya untuk memperdebatkan masalah itu karena yang terpenting dia harus bisa menghadapi masalahnya yang nyata sekarang.


Dalam percakapan yang dia lakukan dengan polisi akhirnya Andre sepakat untuk menemani salah satu anggota berkunjung ke tempat itu. Entahlah meski ragu dan menyesal setelah menyanggupinya tapi bagaimana lagi karena sudah terlanjur dan dia sudah bertekad untuk menyelesaikan semua permasalahan sebelum akhirnya memutuskan pergi mengantar Sani pulang.

__ADS_1


Langkah lunglai Andre kembali membawanya ke dalam ruangan sempit kontrakan yang di dalamnya sudah ada Sani menunggu bersama Tri. Melihatnya Andre sangat bingung akan mengatakan pamit untuk kepentingannya karena dia cukup berat untuk meninggalkan kedua orang wanita di tempat itu, bagaimana jika ada satu kejadian yang tak pernah diharapkan lagi.


__ADS_2