Dunia Mu

Dunia Mu
Pamit


__ADS_3

"Syukurlah, Ibu jadi seneng banget mendengarnya. Kalau bisa kapan-kapan mampir ya. Ibu dan Bapak juga sangat menunggu kalian untuk datang lagi." Lanjutnya menjelaskan pada Sani dan Andre.


"Mudah-mudahan saja ya Bu, Andre juga sebenarnya ada rencana untuk pulang ke rumah nenek dulu." Andre memang sudah merencanakan untuk tidak tinggal di tempat sebelumnya.


"Oh ia, Ibu jadi lupa. Ngomong-ngomong Nak Andre pulang nya masih tetap di kota ini?" Karena diingatkan Istrinya Pak Dean balik bertanya tentang tempat tinggal Andre.


"Andre juga memang tinggal di sini Pak, tapi sepertinya Andre mau pulang aja ke rumah nenek." Jawab Andre yang tampak murung juga.


"Oh jadi gitu ya." Cetus Pak Dean.


"Ibu kaya detektif banyak nanya ya!" Diakhiri dengan tertawaan renyah membuat suasana tidak begitu tegang.


Istrinya Pak Dean hanya tersenyum.


Memang tak lama, hanya butuh waktu sekitar 30 menit saja akhirnya sudah bisa sampai ke tempat Sani. Tepat sebuah perumahan elit, tampang gapura depannya juga sudah memperlihatkan kondisi di dalamnya.


Pak Dean yang pertama kali datang ke rumah Sani cukup membuatnya melongo kagum. Dalam pikirannya Sani bukanlah orang biasa-biasa. Namun ketika tak sengaja melihat ekspresi Sani membuat Pak Dean heran, Andre maupun Sani sepertinya tidak cukup mengenal jauh.


"Wah elit gini." Puji Pak Dean mantap dengan semua pemandangan yang disuguhkan dari pertama kali masuk tampak seperti halaman hotel berbintang saja.


"Neng Sani ternyata tinggalnya di sini, enak banget ya." Istrinya Pak Dean tak mau kalah memuji sesuatu yang dia lihat.


Sani diam saja tak menanggapi, semenjak kejadian di rumah sakit Sani semakin murung dan menjadi pendiam seperti sekarang. Tak ada yang menyadarinya selain istrinya Pak Dean.


Sekilas keluarga Sani cukup rumit, dia tidak bisa menyembunyikan tingkah Ayahnya yang sudah menua seperti saat ini, namun tentang wanita-wanita dekat Ayah membuat Sani malu setengah mati. Dia tidak bisa menerima mereka sebagai teman, pacar, ataupun calon ayahnya. Apalagi Sani langsung membayangkan jika saja entah Pak Dean ataupun istrinya akan berkomentar apa jika melihat Ayah dan teman wanitanya.


"Neng Sani! kalau blok F itu dari sini belok ya kemana?" Tanya Pak Dean yang tampak bingung ketika melihat jalan dua arah di depannya.


"Oh ia, Belok ke kiri saja Pak." Jawab Sani.


Sebagaimana yang dikatakan Sani Pak Dean mengambil jalan ke kiri dan di depan sudah terlihat rumah hang berjajar dari blok F.

__ADS_1


"Di depan Pak!" Ucap Sani menunjukkan salah satu rumah nya.


Andre ikut melihat penasaran, namun entah mengapa dia langsung merasa jika Sani sudah mengatakan sesuatu yang berbeda, padahal jika diingat lagi dulu teman Sani pernah menceritakan keluarganya, bahkan rumah Sani persisnya dimana.


"Sudah sampai." Seru Pak Dean dengan tersenyum, tampak lega dengan ekspresinya akhirnya satu tugas yang harus dia lakukan kini sudah selesai.


Pak Dean tak menunjukkan akan ikut keluar dari mobil, begitupun Sani yang tak berbicara apapun. Melihat pemandangan itu membuat Andre bingung sendiri.


"Neng, salam ya sama keluarga!" Ucap Pak Dean.


"Andre pak!" Tiba-tiba Sani berbicara.


Pak Dean tampak bingung maksud ucapan Sani.


"Andre juga tinggal di kota ini, tapi kenapa dia tidak ikut turun saja di sini?" Tak ada yang menyangka nya termasuk Andre sendiri yang malah memperlihatkan ekspresi bingung.


"Jadi, Nak Andre juga tinggal di daerah-daerah sini?" Pak Dean memastikan dengan bertanya pada Andre.


"Cepat!" Seolah tak memberikan kesempatan pada Andre untuk menjawab, Enak yang tak sabar kembali memanggilnya.


"Jadi gimana? Bak Andre mau turun juga disini?" Pak Dean mengulangi maksud pertanyaannya yang belum dijawab Andre.


Andre bingung menatap ke arah lain, tapi ketika matanya menangkap Sani yang masih berdiri dia tahu jika Sani memang sengaja menginginkannya juga untuk turun dari mobil, seperti isyarat yang Sani beritahukan dengan sedikit anggukan kepalanya.


"Seperti memang seperti itu. Jadi gak enak gini." Ucap Andre, dia sudah bingung tapi terlalu tak nyaman jika menolak rencana Sani.


"Baiklah, tapi Bapak senang karena Nak Andre sudah memutuskan keputusannya. Bapak sama Ibu pamit saja ya!" Ucap Pak Dean.


Andre mengangguk dan tersenyum lalu turun dari mobil.


Andre maupun Sani keduanya melambaikan tangan ketika mobil Pak Dean melaju di hadapan mereka.

__ADS_1


Menit berlalu mobil pun sudah tak kelihatan.


Sani terdengar membuang napas. "Kamu pikir bisa pergi seenaknya? Harusnya kamu menepati janji kan!" Ucap Sani memperingatkan Andre dengan janjinya.


Andre sudah lupa jika dia pernah berjanji akan ikut Sani pulang. Tapi jika diingat-ingat lagi memang sangatlah salah jika dia malah lepas dari tanggung jawabnya kan. Tugasnya sekarang mengantar Sani ke rumah aslinya.


"Kamu pasti udah tahu kan rumah ku dimana. Sepertinya tidak ada pilihan lain lagi pula aku belum mau pulang sekarang." Pernyataan Sani langsung membuat Andre mematung bertanya-tanya. Sebenarnya Andre tak mengerti apakah maksudnya Sani tidak ingin pulang dulu?


"Jadi benar kan rumahnya bukan di sini " Balas Andre menebak.


"Tentu saja bukan disini. Sebaiknya kita jalan kaki dan itu bukan apa-apa kan?" Celoteh Sani menerka pikiran Andre, padahal Andre tak merasa jika perkataan Sani benar adanya.


Sani sudah memimpin berjalan di depan Andre, selama perjalanan itu keduanya memang tidak banyak mengobrol. Sani seperti tak ingin banyak bicara begitupun dengan Andre yang tak ingin banyak melihat Sani.


Sampai detik ini pun Andre benar-benar melihat sosok wanita itu cukup menempel di tubuh Sani, entah bagaimana dia mengatakannya apakah ada sebuah kesempatan yang bisa Andre gunakan untuk segera bertanya tentang sosok wanita itu? Dan sampai kapan sosok wanita itu pergi dari Sani.


"Cape banget. Aku udah gak sanggup." Komentar Sani, akhirnya dia mengeluh juga. Dari awal Andre cukup terkejut dengan pernyataan Sani yang akan berjalan kaki, buktinya pasti akan seperti sekarang.


Andre mencoba mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap ke arah Sani. Rasanya beruntung karena sosok wanita itu hilang sementara.


"Capek kan!" Ledek Andre merasa puas.


Sani tak bicara, tapi matanya jelas mengatakan sebuah permohonan.


Andre tak ingin menjadi lelaki yang kejam, karena dia tahu untuk menemukan taxi itu harus berjalan lagi cukup jauh.


Andre langsung menundukkan tubuhnya lebih rendah, dalam posisi itu Andre sedang menawarkan punggung untuk Sani.


"Apaan?" Tanya Sani bingung.


"Cepat naik! Masih jauh aku gak mau kalau kita bisa menghabiskan waktu semalaman berjalan di sini." Terang Andre.

__ADS_1


"Baiklah. Bagus sekali karena aku tak akan kecapekan." Sani tak canggung lagi mulai memberanikan diri naik ke punggung Andre, hingga perjalanan pun bisa dilanjutkan.


__ADS_2