
Batinnya menuntun Andre untuk terus berjalan melewati orang-orang yang beruntung tidak memperhatikan kedatangannya. Sedikit heran tapi Andre tidak membuang waktu satu detik pun.
Tanpa sadar dia sudah berdiri di sebuah pintu kamar, jika diingat-ingat itu adalah kamar yang Mamang kosan tunjukkan untuknya. Sekarang suasananya memang berbeda, dari pintu bagian kiri dan kanan terbuka dan terlihat ada aktivitas orang-orang di dalamnya, hanya pintu di hadapan Andre yang masih tertutup sepi seperti tanpa penghuni.
Tak lama pintu terbuka dengan sendirinya seperti ingin Andre langsung masuk ke dalam. Dari ambang pintu matanya mengintip, betapa terkejutnya saat melihat sesajen sudah tertata rapi di sana dan ada Anis yang sibuk mempersiapkan, kemudian Anis membuka sebuah kertas yang dilipatnya dari saku celana, menghapalkannya mantra yang entah berarti untuk apa.
Andre mematung kali ini dia mengerti sesajen itu ulah siapa. Saat Anis keluar dari kamar dia berjalan menuju pintu kamar Mamang kosan, Andre sudah siap membuntuti dari belakang.
"Malam besok kamu harus membawa seseorang ke sini, mau tidak mau kamu harus melakukannya." Ucap Mamang kosan. Menyikapi kata-kata yang seperti perintah baginya, raut wajah Anis menunduk bahkan saat keluar dia menunjukkan rasa keberatannya.
Andre semakin heran dengan kata-kata Mamang tadi, dia tidak diam saja terus mengikuti Anis sampai masuk ke kamarnya.
Saat senja mulai datang Anis segera menempelkan kertas tadi dengan terburu-buru, Andre menyaksikan ketakutan yang menyiksanya. Entah untuk apa tapi Andre menebaknya jika kertas itu digunakan sebagai penangkal sesuatu semacam sebuah jimat.
Lampu langsung padam saat jam sudah menunjukkan pukul 22.00, Andre tahu di dalam kamarnya Anis diam menutup rapat mulut sampai suasana menjadi hening.
Andre penasaran dia pergi keluar menantikan sesuatu, dia ingat jika dalam situasi seperti itu suara lain dari luar datang mengendus. Saat berbalik Andre sudah melihat sesuatu yang bergerak cepat sampai membuatnya terkejut, sosoknya sangat gelap hingga penampakannya seperti sesuatu yang hitam besar sampai tepat ke pintu kamar Anis. Saat sosoknya berdiri Andre melihat berubah menjadi seorang wanita berparas semampai, dia berjalan dan mengubah arah mungkin menuju kamar Mamang tadi.
"Nyai sudah datang, aku sangat merindukan Nyai untuk datang." Ucap Mamang itu.
"Aku ingin seorang wanita muda dan cantik." Ucap sosok itu yang disebut Nyai.
"Itu mudah." Ucap Mamang.
"Saya akan memuaskan Nyai malam ini tanpa mengecewakan sedikitpun."
Selanjutnya terdengar suara tertawa yang melengking hingga Andre merasa merinding untuk mendengarnya.
Seperti sebuah ritual, Mamang tadi melakukan ritual dengan iblis yang mungkin sudah lama dipujanya. Andre masih belum tahu tujuan sebenarnya dari yang dilakukannya, apakah untuk kekayaan, kejayaan, atau kekuatan?
__ADS_1
Dari dalam kamar Andre melihat Anis yang sangat sedih bahkan dia sampai menangis. Di atas meja Anis seperti sudah menulis sesuatu, kemudian dia menyimpan lagi buku ke dalam laci meja. Andre semakin penasaran sebenarnya apa yang dia tulis, apakah tadi buku hariannya?
Anis masih duduk di sudut kasur dan menangis.
"Mah maafin Anis. Tapi kalau tidak melakukannya bagaimana Anis punya uang." Gumam Anis ditengah tangisannya.
Anis seperti menyesali sesuatu yang dia lakukan sesuai yang dikatakannya.
Ternyata tahun itu tepatnya 2 tahun sebelum kedatangan dan pertemuan Andre dengan Anis.
Anis juga sudah bekerja di RSJ itu.
Memakai seragam rapih dan berdandan di depan cermin, pagi itu masih pukul 06.00. Anis terburu-buru pergi menuruni anak tangga. Karena letak kosan dan rsj tak begitu jauh Anis tidak merasa kesulitan, dia hanya cukup jalan kaki beberapa menit.
Anis memicingkan matanya melihat keramaian di depan pintu RSJ. Dia segera bergegas masuk kedalam kerumunan orang. Di depan pintu dia melihat seorang perawat yang sudah meninggal dunia dan dari bisikan dari kiri dan kanan dia bisa tahu alasan mengapa perawat itu meninggal. Orang mencelanya karena tak mau menggubris pantangan di rumah sakit, seperti jangan lembur malam bahkan bagi anak baru yang belum genap 3 bulan ketika Maghrib tepat pukul 06.00 harus cepat pulang.
Anis bukan orang yang gampang percaya dengan hal-hal mistis dia terkesan orang yang berani, tapi hal itu hanya karena Anis belum pernah melihat sosok jin. Sekarang ceritanya sudah berbeda.
Saat ingin beranjak jauh pikirannya langsung mengingatkan. Tentang sebuah pemujaan yang dilakukan pemilik kos, mungkin Anis akan butuh itu anggap saja jika kalung dari keluarganya akan berguna.
Anis berbalik kembali dan tangannya meraih kalung di bawah keramik, lalu dia simpan asal ke dalam saku celana.
Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi tak lama bisa dibuka jam besuk keluarga. Ini adalah hari yang merepotkan bagi Anis, menangani orang-orang yang terganggu jiwanya bahkan dalam satu waktu dia sampai harus bisa membela diri dari orang-orang seperti mereka yang seketika mengamuk.
"Perawat tadi udah diamanin?" Seseorang terlihat mengobrol, kebetulan Anis duduk di kursi kantin yang tidak jauh dari dua orang di belakangnya.
"Beres, aman." Terdengar sebuah jawaban.
"Ngeri ya pokoknya sekarang aku gak mau ngurusin orang gila yang lagi ngamuk, kan kalau kitanya gak bisa bisa-bisa jadi kaya dia." Seseorang berbicara ngeri terdengar seperti komentarnya.
__ADS_1
"Bukan gitu. Kau belum tahu ya sampai sekarang? Tahu gak katanya orang gila disini kebanyakan karena kerasukan setan." Suara mereka mungkin awalnya berniat untuk saling berbisik tapi Anis tetap saja bisa mendengar samar obrolan mereka.
Anis langsung pergi tak ingin berurusan dengan hal yang bisa menakuti dirinya sendiri.
Dia mematung di antara lorong rumah sakit memandangi satu persatu kesibukan di sana. Suara tangis, tertawa, bahkan teriakkan yang berlebihan bukan hal aneh lagi baginya. Bagi Anis yang tidak terlalu ingin mempercayai hal mistis itu hanya hal yang biasa dan tidak membuat mentalnya turun atau menjadi orang yang penakut.
Saat melamun Anis teringat peringatan Pamannya. Dia harus membawa seorang perempuan? Untuk apa dia melakukannya?
Anis membagikan pandangannya dengan bingung, dia tak yakin harus mengajak siapa.
Hingga peringatan itu perlahan tidak diperhatikannya karena kesibukan yang mulai membuat Anis harus mengerahkan seluruh kekuatan fisik dan mental pikirannya.
Tak terasa waktu hampir sore, Anis bergegas pergi keluar dari rumah sakit.
Sialnya saat ingin keluar dan baru saja dia menghela napas lega karena susah terbebas dari pekerjaan, tapi peringatan pemilik kosan terngiang jelas.
Apa jadinya jika dia mengabaikan peringatan itu? Tapi hutang yang belum dibayarkan sepeserpun pada pemilik kosan membuat Anis harus bisa melakukannya.
Anis berjalan dan mengutuk hatinya yang sangat bingung. Dan tanpa sengaja dia melihat seorang perempuan dewasa yang terlihat linglung bingung.
Anis langsung memikirkan inisiatif nya. Dia segera mendekat dan aktif bertanya, karena bagaimana pun caranya Anis harus bisa membawa perempuan itu ke kosannya seperti permintaan pemilik, Anis juga tidak keberatan karena dia hanya perlu membawanya menginap satu malam atau beberapa malam, hanya itu kan pemilik kosan memberinya sebuah tantangan.
Dengan percaya diri dan obrolan yang mengalir juga karena keramahan Anis dan sikapnya yang periang, berhasil membawa perempuan itu pulang ke kosannya yang tidak jauh dari rumah sakit.
Ternyata dia adalah pengunjung atau saudara dari pasien yang dirawat di sana, sangat kebetulan karena dia sedang bingung mencari tempat tinggal yang bisa disewanya beberapa hari.
Senyuman bahagia terpancar dari bibir Anis, akhirnya tugas yang diberikan untuknya sangatlah mudah.
Padahal tanpa Anis ketahui jika pada malam nanti adalah tragedi yang tidak pernah bisa dia lupakan seumur hidup.
__ADS_1
Anis tidak pernah tahu tentang tujuan pemujaan dan tugas dari pemilik kosan, dia hanya tahu ritual yabg sering dilakukan di kamar kosong itu untuk menjaga agar kosan tetap aman terkendali. Dan tugasnya membawa orang baru dia tidak pernah tahu, karena Anis juga pendatang baru. Yang Anis tahu adalah balas Budi yang harus bisa dilakukannya kepada pemilik kosan karena sudah memberinya uang pinjaman uang tidak sedikit, angkanya hampir menembus angka 70juta.