Dunia Mu

Dunia Mu
Kematian Tri


__ADS_3

Andre dan Sani nampak bingung dan tidak percaya.


"Ada yang bisa saya bantu?" Seorang petugas langsung bertanya saat Andre sudah berdiri pada gilirannya.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" Ucapnya lagi untuk kedua kalinya.


Andre terperanjat saat Sani segera menepuk tangannya.


"Ada yang bisa saya bantu?" Seorang petugas bertanya lagi.


Andre mengangguk dan matanya langsung melihat ke arah Sani.


"Cepat tanyakan tentang Tri!" Sani langsung memperingatkannya.


"Saya mau bertemu dengan dokter yang menangani Pasien atas na Tri di ruangan Delima nomor kamar 05." Andre langsung menjelaskan maksudnya.


"Baik silahkan tunggu sebentar." Petugas itu berkutat lagi dengan layar monitor yang ada di hadapannya.


"Pasien atas nama Tri. Dokter sudah membawa jenazah nya ke ruangan mayat dan tadi 10 menit yang lalu sudah selesai dimandikan." Tak butuh waktu lama petugas itu langsung memaparkan informasi yang dibutuhkan Andre, namun bagaikan tersambar di tengah hari mendengar kabar buruk yang sudah diucapkan oleh 2 orang berbeda padanya.


Andre mematung diam hingga tanpa sadar dia langsung meninggalkan tempat tadi dan berjalan lunglai ke arah tak tentu.


"Andre!" Panggil Sani.


Andre melihat ke arah Sani dan baru sadar dia sudah salah arah memilih jalan.

__ADS_1


Hatinya seketika terasa runtuh, tubuh Andre terasa ambruk lemas. Dia tidak bisa percaya setelah mencerna kata-kata dari dua orang padanya. Padahal baru kemarin dia bersama Tri di rumah dan sampai ke rumah sakit, apa yang membuat Tri meninggal, apa alasannya? Hatinya tak berhenti berdebat.


Sebuah kabar yang tidak biasa, setelah Andre melihat lagi ke arah istri Pak Dean asumsinya mengatakan jika tangisan itu untuk kepergian Tri kan?


Andre bersama Sani berjalan lunglai ke arah Bu Ratih.


"Gimana udah bisa ketemu Tri sekarang?" Tanya Bu Ratih langsung menyerbu kedatangan Andre. Bu Ratih tidak terlalu fokus dan memperhatikan, dia sibuk menenangkan istrinya Pak Dean yang masih menangis.


"Jenazahnya sudah dimandikan Bu!" Seru Andre.


Perkataan Andre langsung menghentikan Bu Ratih yang sibuk, pikirannya pasti sama seperti yang Andre pikirkan juga, perasaan Bu Ratih juga pasti sama seperti yang Andre rasakan saat itu.


"Jenazah? Jenazah siapa?" Seru Bu Ratih tampak syok. Bu Ratih berjalan dan mendekat ke arah Andre. "Jenazah siapa Nak Andre?" Bentak Bu Ratih, perasaannya pasti tak menentu dia juga pasti sudah bisa membayangkan perkataan Andre saat itu.


"Astagfirullah, Neng Tri. Padahal Ibu sudah datang sekarang. Astagfirullah." Bu Ratih langsung menangis dan ambruk di lantai untuk saat itu juga.


Ternyata benar tangisan istri Pak Dean karena kematian Tri. Andre sampai merasa jika saat ini dia hanya sedang mimpi, tidak ada kenyataan yang bisa membuatnya percaya kan?


"Bu, gak apa-apa Bu?" Beruntung Pak Dean langsung datang saat itu juga, dengan cepat memburu Bu Ratih yang cukup sepuh dan juga kondisi istrinya yang tidak baik-baik saja.


"Ayo cepat semuanya kita ke mobil. Bapak udah telpon ke pihak polisi dan petugas pemakaman." Terang Pak Dean sekaligus menyarankan agar Andre cepat membantu.


Andre saat itu membawa Bu Ratih menuju ke mobil tadi yang ia bawa.


"Andre kita satu mobil saja! Biar bapak yang bawa mobil." Pak Dean langsung menghentikan Andre saat itu juga.

__ADS_1


"Mobilnya gimana Pak?" Tanya Andre karena itu artinya dia akan meninggalkan mobil di rumah sakit.


"Nanti bawa telpon suruh orang yang bawa. Sekarang kita fokus ke pemakaman saja." Pak Dean yang tegar dan sangat kuat dalam situasi saat itu, mungkin karena mentalnya sebagai orang tua memiliki pemikiran yang berbeda dengan Andre.


Akhirnya Andre langsung menuju mobil Pak Dean, sekarang semua orang ada di dalam mobil yang sama.


"Ibu tenang ya!" Ucap Pak Dean pada istrinya itu. Segera tak lama mobil melaju.


Andre tak bisa bersemangat, seolah sesuatu sudah hilang lagi dan dia merasa dirinya cukup bersalah sampai merasa menyesal seperti sekarang.


Bu Ratih di sampingnya masih terisak namun Sani cepat membuatnya supaya Bu Ratih bisa tenang. Sedangkan Andre yang tidak bisa berbuat apapun dia memilih diam saja memandangi langit di sepanjang jalan.


Suasana cukup sunyi karena tidak ada orang yang mau berbicara dalam keadaan duka seperti sekarang, mungkin beberapa saat atau beberapa hari rasa dukanya akan masih sama. Di tengah suasana yang hening hanya Andre yang beberapa kali mendengar namanya disebut. Dia menoleh ke arah Bu Ratih dan ke arah Pak Dean, padahal keduanya sama-sama diam lantas suara itu berasal dari mana.


Andre terlihat menarik napasnya kembali, berat memang jika terus menerus menjalani harinya sekarang dengan penglihatan tak biasa. Sampai sekarang Andre belum terbiasa bahkan dia sedikit kesulitan jika membedakan mereka dengan orang biasa. Dan yang lebih membuatnya berat karena dia harus kehilangan dua benda yang bisa menangkal penglihatannya itu, tapi apa boleh buat karena ternyata ada benda yang bisa membuat dirinya celaka, seperti penampakan setan dari wanita tua jin penjaga dari kalung yang diberikan Anis dulu.


Andre terdiam sebentar dan memejamkan mata, jika seperti itu rasanya tenang sekali. Kemudian dia membuka mata tapi sesuatu membuatnya terkejut lagi sampai-sampai dia hanya bisa berkeringat dingin mematung menahan agar dirinya tak bergerak sama sekali, apalagi matanya jangan sampai menatap sebuah mata yang lebar dari seseorang yang tepat saat itu berada di hadapannya.


Tanpa diduga setan itu datang lagi tanpa diundang, tepat berdiam diri di hadapan Andre dengan wajah yang hampir menempel pada wajah Andre.


Di jarak yang begitu dekat Andre bisa melihat sekilas detail pori-pori wajah yang membesar dan sebagain terlihat ulat menggeliat keluar dari pori-pori itu. Andre tak bisa tahan, meski hatinya merasa ngeri dan takut tapi dia berusaha tetap tenang saja di hadapan semuanya, dan Andre memilih terus memejamkan mata seolah dia saat itu sedang tidur, beruntung orang-orang di dalam mobil tidak sedang memperhatikan ke arahnya, dia tidak perlu memikirkan cara untuk membuat orang lain berhenti bertanya padanya. Andre terus saja memejamkan mata sampai nalurinya sendiri mengatakan jika setan itu sudah pergi dari hadapannya.


"Andre! Andre!" Terdengar sebuah teriakkan yang membuat pikiran Andre buyar hingga dia langsung terperanjat membuka matanya.


"Ngapain tidur terus? Ayo sudah sampai!" Ucap Sani memperingatkan. Andre segera menyusul untuk turun dari mobil, tapi sebelum sudut matanya tetap saja melihat ke arah lain seperti selalu tertarik memperhatikan ke sekeliling.

__ADS_1


__ADS_2