Dunia Mu

Dunia Mu
Alasan dan rahasia Pak Arman


__ADS_3

"Syukur saja Neng Sani belum bangun." Ucap Pak Arman sambil menutup pintu kamar.


Andre masih berdiri bingung dan ragu di dekat Pak Arman. Namun ketika dia mengalihkan matanya sekali lagi sesuatu yang mengejutkan membuat dia syok. Entah sosok apa namun penampilannya yang serba hitam seperti manusia namun mungkin tidak memiliki tulang karena tubuhnya seperti samak menyatu dengan lantai. Keberadaannya tepat di belakang Pak Arman.


Mengerikan sekali, karena Andre baru pertama kalinya lagi dia mendapatkan penglihatan itu jadi membuat segalanya menjadi seperti semula lagi.


"Nak Andre, cepat!" Ajak Pak Arman saat itu.


Ajakan Pak Arman tak langsung dihiraukan karena saat itu Andre sibuk dengan segala sesuatu yang bisa dia lihat mulai dari sekarang.


Pak Arman tertegun karena langsung bisa menebak apa yang terjadi pada Andre saat itu.


"Abaikan saja semuanya mereka tidak ada di dunia nyata." Pak Arman memperingatkan.


Andre langsung menoleh mendengarkan sedikit pepatah untuknya saat itu. Dia benar-benar ketakutan sampai tidak bisa mengatakan satu kata pun.


Hanya menganggukkan kepala sambil berusaha fokus melangkahkan kakinya saat itu.


Mungkin bisa dibayangkan bagaimana perasaan batinnya saat itu. Sesuatu sedang mengguncang kewarasannya, sesuatu sudah terjadi dan hanya bisa dilihat oleh matanya sendiri. Untuk pertama kalinya lagi Andre belajar mengabaikan apa yang dia lihat meski batinnya tersiksa, tertekan sekali.


Langkah demi langkah, beruntung Pak Arman sabar memapahnya saat itu. Rasanya untuk melangkahkan kaki satu langkah saja membuat Andre harus mengumpulkan kekuatan yang sangat besar dalam dirinya. Sulit sekali saat itu, terasa akan membuatnya gila secara perlahan.

__ADS_1


"Kamu bisa pulang sekarang! Untuk bekal Bapak akan kirim ke rekening kamu." Ucap Pak Arman ketika keduanya sudah ada di ambang pintu keluar. Namun Andre masih tak berkutik saat itu, mungkin ucapan Pak Arman juga tidak didengarkannya.


Pak Arman menatap Andre cemas, batinnya juga tersiksa karena tidak tega melihat Andre seperti itu. Tapi harus bagaimana lagi? Tidak ada pilihan selain harus membuat Andre pergi jauh dari Sani.


"Nak Andre! Andre!" Setengah membentak Pak Arman memanggil Andre. Matanya sudah berkaca-kaca.


Seolah usaha Pak Arman berhasil menarik kesadaran Andre saat itu juga. Andre menatap Pak Arman yang sudah hampir akan menangis. "Maafkan Bapak. Tapi Bapak mohon jangan kembali lagi ke rumah ini, itu untuk kebaikan kalian berdua." Nada bicara dan suara Pak Arman berubah mungkin karena benar Pak Arman sudah menangis saat itu.


Andre menatap Pak Arman kemudian hatinya langsung luluh. Meskipun Andre masih mempermasalahkan alasan Pak Arman yang tidak diketahuinya, namun ketika melihat Pak Arman yang sangat berusaha keras untuk melakukan sesuatu yang mungkin itu adalah kebaikan untuk semua orang seperti yang dikatakan oleh Pak Arman berulangkali.


Andre berbalik tak membalas satu kata pun ucapan Pak Arman, dia mulai bisa berjalan melangkahkan kakinya saat itu dan sudah sedikit menjauh dari teras rumah.


Entah apalagi namun hatinya mengakui jika usaha Pak Arman adalah sesuatu yang baik, yang membuatnya merasa berat selama ini hanya Sani. Andre tak membayangkan bagaimana kehidupan Sani di rumah itu. Semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi.


Andre berbalik dan melihat Pak Arman mulai menutupkan pintu, namun bukan Pak Arman yang menjadi perhatiannya melainkan sesuatu yang ada di balik tubuh Pak Arman. Tak lain adalah sosok perempuan itu, sosok sama di masalalu.


Tiba-tiba Andre berpikir jika Pak Arman melakukan semua itu karena ulah makhluk keji itu. Apa yang akan terjadi sekarang?


Pikirannya mulai menerka-nerka membayangkan apa yang akan terjadi pada Sani di rumah itu. Sejelasnya Andre tidak bisa berpikiran baik saat itu. Perasaan cemasnya kian nyata, namun sayang kedua kakinya benar-benar gemetar. Sekarang tantangannya bukan hanya sosok perempuan lagi, melainkan apa yang dilihatnya sekarang.


Sesuatu yang sangat menakutkan sekali ada begitu nyata bagi penglihatannya. Seperti serangga yang sedang berdiam di sarangnya, dan sarang itu adalah rumah Sani. Sosok seperti mereka berkumpul begitu banyak sekali memenuhi rumah. Antara percaya dan tidak namun itu yang dilihat Andre kini.

__ADS_1


Setelah mendapatkan semua yang dia lihat Andre yakin tidak bisa kembali ke rumah itu. Tidak ada keberanian yang tersisa meskipun sedikit.


Andre kemudian ingat apa yang dikatakan oleh neneknya, jika mereka sadar akan penglihatan Andre mungkin sesuatu yang tak biasa akan terjadi. Satu-satunya jalan dari semua masalah itu Andre hanya harus bisa mengatur perasaannya, dia tidak boleh sampai dikuasai oleh rasa takutnya sendiri karena semakin merasa takut maka penglihatan Andre akan semakin terbuka.


Sekuat yang dia bisa Andre berusaha mengatur kewarasannya saat itu. Tidak ada jalan baik jika kembali ke dalam rumah. Dalam keadaannya sekarang apalagi dengan ketakutannya yang tak terkendali mungkin bisa menjadi sesuatu yang membahayakan, sialnya bagaimana jika hal itu berdampak juga pada orang lain.


Tanpa sadar Andre berlari menjauhi rumah itu hingga akhirnya dia sudah berhasil keluar melalui gerbang rumah.


Sekarang dia harus mencari tempat aman, tempat lain yang bisa dia tinggal 1-2 hari saja. Tapi harusnya tidak sampai selama itu, jika terlalu lama apa yang akan terjadi pada Sani? Sekarang dia benar-benar sangat frustasi sekali.


*******


"Ada pemuda pingsan di depan rumah besar itu lagi." Desas-desus sebuah rumor langsung tersebar cepat dari mulut ke mulut.


"Benar ya, ih... saya gak berani deh Bu baru lihat sekilas tadi." Timpal seseorang dengan ekspresi ketakutan.


"Pemuda itu pasti baru saja keluar dari rumah besar, sepertinya bukan orang komplek ini." Percakapan itu semakin riuh, orang-orang memang sedang menggosipkan hal yang sama.


Sedangkan di tempat kejadian sampai sekarang belum ada kabar terbuka dari pihak penjaga komplek, memang siapa yang berani menyebarkan rumor itu. Orang-orang bahkan tidak berani mendekati rumah Sani apalagi jika menggosipkan sesuatu yang tidak-tidak karena bisa ditebak setelahnya akan terjadi sesuatu yang buruk. Entah sebuah teror atau apapun, sampai sekarang semuanya benar-benar bungkam dan menjaga setiap perkataan tentang pemilik rumah.


Di rumah Pak RW yang tak jauh dari komplek itu. Andre memang tak sadarkan diri di depan gerbang rumah, dia bahkan belum sadar meski sekarang sudah pukul 07.00 Pagi. Sudah cukup lama memang.

__ADS_1


Mau bagaimana lagi bukan tidak ada usaha namun Pak RW sangat ketakutan jika harus membawanya ke puskesmas atau rumah sakit, sebagai penduduk asli di sekitar komplek itu Pak RW juga sangat menjaga tentang gosip-gosip. Pak RW tidak ingin membuat keadaan semakin buruk karena seseorang yang mungkin secara kebetulan pingsan di depan rumah Sani.


__ADS_2