
"Itu benar Pak Dean." Lirihnya dengan nada Syok. Andre masih duduk memegangi kemudi mobil. Matanya menatap kosong.
"Aku waktu itu mimpi Pak Dean." Terang Sani di tengah Isak tangisnya. Seberapa mengerikannya mimpi Sani orang lain tidak akan pernah tahu, dia sendiri masih tak bisa menerima jika mimpi itu menjadi kenyataan.
Sani masih tidak bisa berhenti menangis, keduanya bungkam bicara seolah masing-masing mempunyai cerita menakutkan tersendiri.
Benar saja sehari sebelum kematian Pak Dean mimpi itu datang menjadi bunga tidur yang tampak nyata bagi Sani. Untuk pertama kalinya lagi Sani merasa percaya sesuatu tahayul pada mimpi di tengah malam. Membayangkan dan kembali berpikir andai mimpi itu benar adanya, andai saja. Sampai napasnya masih kembang kempis tak tenang.
Pada detik yang sama tiba-tiba kedua pasang mata Andre dan Sani saling bertatapan. Meski masih saja diam tapi masing-masing dari hati mereka tengah menahan hal tabu di dalam hatinya.
Sani segera menarik kembali tatapan mata itu, memaksa dirinya agar bersikap biasa saja.
"Bagaimana? Apa kita perlu pergi ke rumah melayad Pak Dean?" Tanya Andre.
"Gak Andre!" Tolak Sani spontan dengan raut takut.
Andre mengernyitkan dahi tanda tak mengerti namun dia diam saja tidak bertanya apapun pada Sani, karena Andre yakin ada sesuatu yang tidak baik-baik saja dan mungkin Sani tidak kuat untuk mengatakannya.
"Baiklah!" Ucap Andre menyetujui.
Sani masih diam saja, sepanjang waktu dia akan terus menghindari tatapannya dengan Andre. Sesuatu yang dia sembunyikan mungkin dan dia berharap orang lain tidak mengetahuinya.
"Andre kita balik lagi ke rumah!" Ajak Sani.
Padahal tadinya Andre tak berharap cepat pulang ke rumah itu lagi, dia berniat pergi ke tempat lain saja.
"Eh, tapi aku perlu ke ATM terdekat dulu." Pinta Sani menjelaskan jika dia perlu beberapa uang tunai.
Andre segera mencari ATM terdekat, tapi sayangnya sepanjang jalan tidak ada satupun yang dia lihat. Jalanan pun sudah hampir akan membawa mereka sampai ke rumah.
"Ke ATM yang ada di pertigaan kampus aja!" Celoteh Sani, dia baru mengingatnya mungkin hingga Andre harus putar balik kembali mobil menuju kampus.
Bersyukur saja karena semakin lama dia ingin tenang di luar dengan berbagai macam aktivitas yang banyak, tak peduli itu apa. Andre ingin sibuk dengan dunianya sekarang, dengan orang lain dan pekerjaan. Satu hal alasannya karena dia tidak ingin bayangan masa lalu itu kembali datang padanya secara tiba-tiba lagi.
__ADS_1
Mobil sudah terparkir kemudian Sani turun dari mobil sedangkan Andre menolak untuk ikut turun. Andre hanya melihat Sani dari kejauhan.
Jalanan yang ramai, mungkin banyak tempat yang bisa dia datangi kan selain rumah itu? Entah mengapa Andre tak ingin sekali jika kembali pulang terburu-buru ke rumah.
Sekilas melihat Andre melihat seseorang dari kejauhan, hatinya langsung mengenali siapa dia. Karena ragu melihat terhalang oleh kaca mobil Andre bergegas turun dari mobil, matanya masih mengikuti arah orang itu yang berjalan seolah tak ingin melepaskannya. Berulangkali beberapa kali dia mengatur napas mencoba meyakinkan sendiri hatinya siapa yang dia lihat sekarang, parasnya memang tua tapi tidak bisa menghilangkan sosok orang itu di mata Andre, hatinya pun yakin jika itu adalah orang yang Andre yakini sekaligus dia takuti.
Saat akan melangkah maju meyakinkan lagi orang yang dari tadi dia lihat, namun spontan kakinya melangkah mundur. Raut wajah Andre langsung berubah, terlihat kesal sekilas juga tampak takut. Andre sebenarnya tak yakin mengapa bisa melihat orang itu di kota yang sama dan langsung dengan kedua pasang matanya sendiri? Seluas itu dunia mengapa dia harus melihatnya lagi?
Braakkk...
Suara tabrakan.
"Aduh." Keluh seseorang. Andre baru sadar jika dia baru saja sudah menabrak orang tanpa sengaja.
"Loh Andre, ngapain sih kamu?" Gerutu Sani saat yang dia lihat orang yang baru saja menabraknya adalah Andre.
Andre tak langsung merespon.
"Lagi ngapain kamu jalan mundur-mundur terus!" Sani masih mengomel.
Mendengar kata-kata Andre cara bicaranya yang berubah Sani langsung bisa menyadarinya saat itu.
Meski Sani tahu ada sesuatu namun dia tak berniat untuk langsung menanyakannya, mungkin bukan apa-apa.
"Udah sekarang kita balik ke rumah!" Ajak Sani berusaha mengajak bicara Andre yang dari tadi tampak melamun karena tatapan matanya tampak kosong.
Andre segera sadar lagi melihat Sani yang terus bicara padanya. Entah apa, sebenarnya Andre tak mendengarkan apa yang dikatakan Sani.
Sani langsung berjalan masuk kembali ke dalam mobil, Andre yang tampak bingung ingin bicara atau bertanya apa itu lanjut mengikuti Sani juga.
"Loh kok masih diam terus, ayo kita pulang!" Tegur Sani karena Andre tidak langsung menyalakan mobil sesuai dengan yang dia minta.
Andre sedikit terperanjat karena Sani masih saja memintanya untuk pulang ke rumah. Padahal dia tidak ingin cepat pulang kan.
__ADS_1
Andre sudah menyalakan mobil dan kembali ke jalanan utama.
Sani masih memandangi Andre yang tak biasa menurutnya, dia penasaran apa yang dipikirkan Andre saat itu. "Mikirin apa sih?" Cetus Sani. Dan mengejutkannya ternyata Andre tak menjawab. "Andre!" Sedikit geram lagi Sani harus menyadarkan Andre.
"Ia gimana San?" Andre baru bisa merespon.
"Kamu gak fokus dari tadi, coba kenapa?" Tanya Sani.
Andre menghela napas, benar juga dia tidak bisa fokus. Dari tadi dia hanya memikirkan tentang orang itu yang tak lain adalah ayahnya sendiri.
"Ia nih gak bisa fokus." Jawab Andre malas.
Sani terdiam tidak merespon, dia cukup pengertian mungkin saja Andre tidak bisa fokus karena sesuatu masalah lagi. Dia kembali teringat tentang Pak Dean dan mulai menebak jika sikap Andre seperti itu mungkin karena kabar kematian Pak Dean.
"Kita balik ke kampus aja ya!" Pinta Sani tiba-tiba.
"Hah? Ke kampus lagi?" Sontak Andre syok, baru saja dia dari jalanan yang dekat dengan kampus dan setelah mobil melaju jauh Sani meminta ke kampus lagi.
"Yaudah deh kita kemana aja, terserah." Ucap Sani memperbaiki permintaannya tadi.
Andre terdiam mencerna kata-kata Sani.
"Kita pergi ke suatu tempat?" Tanya Andre meminta persetujuan Sani.
"Emm... bisa. Terserah saja!" Seru Sani terdengar santai tak keberatan.
Apapun itu Andre harus bersyukur karena dia tidak dulu pergi ke rumah, dia tidak ingin pergi ke tempat seperti itu dulu. Pikirannya butuh sedikit penenang.
Sepanjang jalan Sani hanya diam saja menikmati perjalanan keduanya. Melihat pemandangan di sepanjang jalan lewat jendela kaca mobil, keadaan yang memang sangat ramai dan dia juga tahu jika perjalanan Andre ini mungkin akan pergi ke tempat yang cukup jauh dari penatnya keramaian hiruk pikuk suasana kota.
"Kamu gak apa-apa?" Tanya Andre.
"Udahlah jalan aja!" Tantang Sani.
__ADS_1
"Aku nekat gini, gak enak sebenarnya sama ayah kamu San. Harusnya aku minta izin dulu kan." Andre mengungkapkan perasaan tidak enaknya. Secara dia sudah kelewat batas.
"Gampang lah, ayah aku gak bakal nyariin. Udah deh jangan bahas soal itu!" Sani benar-benar menghindari pembahasan tentang ayahnya itu. Sebenarnya Sani tak ingin mengingat hidupnya yang paling menyedihkan, dia hanya mempunyai ayah setidaknya itu sudah membuat dia bersyukur. Namun, dia tidak memiliki perhatian keluarga.