Dunia Mu

Dunia Mu
Kabar buruk


__ADS_3

"Nak Andre!"


"Nak Andre bangun!" Bu Ratih tampak berusaha membangunkan Andre yang masih terlelap tidur.


Setelah beberapa kali akhirnya panggilan itu membuat Andre bangun juga.


"Nak Andre, Ibu khawatir dengan Neng Sani dari tadi katanya mau pulang." Ucap Bu Ratih meski Andre saat itu belum sepenuhnya sadar dari tidur.


Andre hanya menganggukkan wajah, dia tak menjawab tapi langsung berdiri dan keluar dari kamar menuju kamar mandi yang ada di dapur.


Bu Ratih menatap bingung pada keduanya, antara Sani dan Andre. Sampai saat ini dia memang tidak tahu masalah mereka, sampai saat ini juga Andre belum bicara. Apa sebaiknya ditanyakan langsung?


Dari pada terburu-buru memikirkan cara untuk bertanya Bu Ratih lebih tertarik untuk segera menyiapkan sarapan. Tapi matanya kembali teralihkan ke arah Sani yang masih diam saja menatap ke luar jendela.


"Neng Sani apa sakit nya sudah reda sekarang? Ibu bawakan air hangat ya!" Ucap Bu Ratih mengalihkan lamunan Sani.


"Tidak Bu terimakasih." Balas Sani singkat.


Selama Sani bisa menjawab pertanyaan dan duduk sadar seperti itu tidak membuat Bu Ratih khawatir, dia lebih khawatir jika Sani hanya diam saja melamun.


"Neng Sani ikut ibu masak?" Tanya Bu Ratih kembali menarik langkah kakinya.


Sani menoleh ke arah Bu Ratih dan mengangguk. Beruntung sekali Bu Ratih tak perlu banyak cara untuk membuat Sani sibuk dan tidak hanya melamun saja.


"Tapi Neng Sani tidak apa-apa? Kalau masih sakit Neng istirahat aja dulu." Ucap lagi Bu Ratih.

__ADS_1


"Udah baikan kok Bu. Gak apa-apa lagian." Timpal Sani.


Akhirnya Bu Ratih merasa senang dan langsung berjalan lagi ke arah dapur.


"Ibu Senang sebenarnya kalau di rumah jadi rame gini, sudah lama sekali Ibu di rumah sendirian." Ucap Bu Ratih basa-basi.


"Ibu tinggal di rumah emang sendirian ya?" Tanya Sani mulai melanjutkan obrolan.


"2 tahun lalu anak ibu meninggal dunia, suami juga sudah meninggal lama. Ya jadi Ibu tinggal di sini sendirian gak mungkin Ibu balik kampung lagian ibu sudah gak ada orang tua juga." Terang Bu Ratih saat dia mulai sibuk mencari bahan makanan di dalam kulkas.


Sani tertegun mendengarkannya. Padahal jalan hidup yang Ibu Ratih alami itu tidak mudah, tapi mengapa begitu terucap dengan enteng. Sani merasa dia tahu bagaimana perasaan Bu Ratih saat ini, karena dia sendiri juga kesepian tanpa sosok orang tuanya.


"Ibu Sani juga sudah meninggal lama." Ucap Sani singkat seperti dia sedang berusaha menahan perkataan itu sebenarnya.


Obrolan keduanya di dalam dapur yang begitu mengalir bagaikan air, dan Andre yang sedang mandi di kamar mandi jelas mendengarkan percakapan keduanya, tapi dia memilih sibuk mandi sampai selesai.


Sani terdiam, tapi jelas dari sudut bibirnya nampak gemetar menahan Isak tangis. Ibu Ratih kemudian mendekap Sani dengan hangat. "Pokoknya kita harus bisa bahagia bagaimanapun caranya, karena kebahagiaan terbesar yang diharapkan oleh orang yang sudah tiada adalah senyuman dari orang-orang yang ditinggalkan. Neng Sani lebih kuat dari Ibu kan!" Bu Ratih berusaha menenangkan hati Sani yang bagaikan lilin sudah meleleh hingga Sani tak bisa menghindari tangisan yang mengalir melewati kedua pipinya itu.


Namun kedekatan antara Bu Ratih dan Sani segera teralihkan karena Andre baru saja membuka pintu kamar mandi. Andre menunduk berpura-pura dia tidak melihat apapun ke arah keduanya.


"Eh Nak Andre udah selesai mandinya? Duh jadi nunggu nih Ibu belum beres masak." Sambut Bu Ratih saat Andre membuka pintu. Andre hanya tersenyum simpul dan segera berlalu dari hadapan Bu Ratih.


"Sebenarnya Ibu berharap kalau kalian berdua tinggal lebih lama disini. Tapi Neng Sani kayaknya udah mau pulang. Ibu bisa rindu berat nih." Celoteh Bu Ratih yang sama sekali tidak bertanya tentang Sani atau menyinggung Sani dengan banyak pertanyaan. Bu Ratih terlampau baik sampai membuat Andre dan Sani merasa nyaman tinggal di rumahnya walaupun sebagai pertemuan pertama ini.


Sani tersenyum dia tidak mengatakan apapun tapi mungkin Bu Ratih juga bisa menebak perasaannya saat itu.

__ADS_1


"Bu Kita harus ke rumah sakit sekarang!" Seru Andre terburu-buru dia nampak khawatir tapi tidak menjelaskan bagaimana kondisinya.


Bu Ratih langsung bingung. "Loh ada masalah? Yuk cepat kita ke rumah sakit sekarang." Tegas Bu Ratih yang sigap langsung bersiap-siap berlari ke arah kamar mungkin untuk mempersiapkan keperluan pergi ke ruang sakit. Sedangkan di dapur tinggal Sani dan Andre yang saling diam.


Sani tampak tak berkomentar apapun lagi. Andre mendekat ke arahnya dengan perasaan bersalah. "Kita gak bisa buru-buru pulang. Maaf! Sepertinya Tri kondisinya tidak terlalu baik aku tidak bisa mengabaikan hal itu." Ucap Andre lembut sambil menundukkan kepala.


"Aku bisa pulang sendirian kok!" Balas Sani membuat Andre langsung melihat ke arahnya.


Tidak mungkin Andre membiarkan Sani pergi sendirian, apa yang akan terjadi? Setelah kejadian malam itu saja membuat Andre masih merasa Parno sampai sekarang, dan bagaimana bisa Sani mengatakan hal itu?


Andre ingin sekali membantahnya tapi sekilas melihat ekspresi Sani dia tahu bukan saatnya untuk berargumen dan membuat Sani tersinggung, dia bisa pergi kapan saja tanpa sepengetahuan Andre dan itu yang lebih dikhawatirkan olehnya.


"Baiklah jika itu keinginanmu. Tapi apa kamu yakin tidak menengok Tri dulu dan menemui Pak Dean dengan istrinya untuk pamitan?" Tiba-tiba Andre berbicara seolah dia sengaja ingin membuat Sani ikut bersamanya.


"Nak Andre, Ibu sudah siap dan Ibu sudah telpon tetangga untuk pinjam mobil, sekarang kita tinggal berangkat saja!" Ucap Bu Ratih tampak sudah berjalan ke teras rumah.


Andre manish menatap bingung ke arah Sani yang hanya diam saja. Bagaimana caranya untuk mengajak Sani saat ini.


"Baiklah aku ikut." Balas Sani singkat.


Sani berjalan mendahului Andre menuju teras rumah menyusul Bu Ratih. Saat ketiganya sudah berkumpul Bu Ratih sudah siap pergi begitupun Andre dan Sani.


"Ibu khawatir banget, semoga tidak ada apapun ya!" Ucap Bu Ratih saat sebelum memasuki mobil, Sani sudah menyusul membuka pintu mobil di jok penumpang bersama Bu Ratih, sekarang adalah giliran Andre.


Saat ingin membuka pintu, mata Andre cukup terbelalak melihat sosok yang ada di dalam mobil. Entah siapa dan apalagi ini tapi Andre tidak bisa menolak bantuan mobil dari tetangga Bu Ratih karena tidak mungkin jika dia beralasan untuk batal hanya gara-gara sosok dari yang hanya bisa dia lihat saja kan.

__ADS_1


__ADS_2