
Saat jarum jam sudah menunjukkan angka 7 pada malam yang baru saja datang, suasana langsung berubah. Rasa sepi di rumah megah nan besar yang kini menjadi tempat tinggal Andre di perantauan kota masih terasa sama. Antara percaya dan tidak, mata batinnya memang belum tertutup sempurna, tapi sekarang dia mulai kehilangan kemampuan untuk melihat hal gaib. Harusnya Andre bersyukur namun itu tidak menjadi akhir yang baik untuknya. Batin Andre selalu mengatakan jika akan ada sesuatu yang besar entah itu apa.
Suara langkah sepatu menaiki anak tangga terdengar jelas terpantul di dalam ruangan yang mungkin sekarang hanya ada Andre dan Sani yang harus tetap berdiam di lantai atas.
"Nak Andre, sebaiknya ikut bapak saja." Suara lantang dari orang tua tadi terdengar langsung menjadi peringatan bagi Andre.
Bukan hanya Andre namun Sani juga ikut menoleh.
"Loh Pak, bukannya Andre juga harus ikut ke atas!" Protes Sani.
"No Sani duluan saja nanti Bapak sama Nak Andre naik ke atas." Jawabnya singkat.
Hanya sekali saja menjawab tapi Sani langsung tidak keberatan dan langsung mengangguk tanda setuju.
Andre ingin bertanya tapi melihat orang tua yang berdiri menunggu nya di bawah membuat dia bergegas turun.
"Kamu sebaiknya ikut Bapak kita patroli bersama malam ini." Ajaknya.
Andre sedikit tercengang, sebelumnya dia mendapatkan sebuah larangan untuk tidak turun dari lantai dua dan sekarang dia malah diajak untuk pergi berpatroli.
"Bapak tahu apa yang kamu lihat dan alami." Bagaikan sebuah teka teki Andre mendengar pernyataan itu seolah sedang membuatnya berusaha bicara.
Andre tidak keburu lagi bicara karena Bapak penjaga di rumah ini sudah berlalu berjalan sambil membawa sebuah senter.
__ADS_1
Sekarang dia untuk pertama kalinya berada di luar rumah pada malam hari, beruntung karena penglihatannya hilang dia tidak bisa melihat banyak hal di rumah ini.
"Syukurlah jika kamu sekarang tidak banyak melihat yang seharusnya tidak kamu lihat." Ungkapan orang tua yang ada di dekatnya mengalihkan perhatian Andre. Jika semakin dicerna lagi Andre semakin tahu maksud dari pernyataannya, apakah mungkin Bapak-bapak ini tahu jika dia dapat melihat sesuatu yang tak kasat mata.
"Apakah Bapak sudah tahu?" Andre langsung menyerang dengan pertanyaan.
"Bukan hal yang luar biasa, namun antara jiwa dan ragamu tidak siap untuk penglihatan itu bukankah lebih baik ditutupi mulai dari sekarang." Jawabnya santai.
Andre tertegun dia mulai mengerti. "Bapak yang sudah menutup penglihatan saya?" Tanya Andre.
Andre tak mendapatkan sebuah jawaban namun tatapan sinis seperti biasa. "Saya ingin berterimakasih, setidaknya Bapak sudah membantu tanpa saya minta." Ucap Andre bersikap baik, dia lebih tahu bagaimana caranya berterimakasih.
"Ilmu turun temurun dari keluargamu itu bukan sesuatu yang harus dipelajari oleh anak muda zaman sekarang. Sebaiknya kamu membuang semuanya dan kembali pulang, lihat keluargamu di kampung sana." Pak Arman mengatakan nya dengan tegas.
Andre dibuatnya terdiam, dia tahu itu sebuah peringatan namun mengapa setelah mendengarnya dia menjadi semakin tidak tenang Andre merasa ada sesuatu dengan Nenek di kampung.
Andre sampai melotot tak mengerti, di satu sisi dia hanya bekerja tidak lebih namun mengapa dia harus pergi dan meninggalkan pekerjaan juga.
"Kamu harus pergi jauh dari sisi nya, jangan sampai kembali lagi dan melihat masalalu mu." Peringatan itu terdengar begitu tegas.
Andre memang baru pertama kalinya melihat seseorang mengatakan banyak hal seperti itu, entah mengapa dia melihat jika Bapak-bapak ini mengetahui segalanya apalagi ketika dia menyinggung tentang masalalu yang disebutkan membuat Andre gentar takut.
"Bapak tahu segalanya. Aku masih belum bisa percaya itu." Lirih Andre. Dia masih merasa keberatan jika harus pergi meninggalkan Sani. Benar saja, bukan sebagai asisten saja tapi lebih dari itu.
__ADS_1
Andre kembali mendapatkan tatapan sinis. "Kau dan Sani harus hidup tenang. Bapak hanya peduli itu dan tolong untuk kali ini saja sebaiknya menurut." Tak mengerti mengapa nada bicara Bapak-bapak itu melunak menjadi sebuah permohonan yang sangat dalam.
Andre pernah mendengar cerita tentang keluarga Sani, dia tahu dari mulut Bapak penjaga sendiri yang mengatakannya. "Bapak seolah bagaikan keluarga Sani, yang lebih peduli dan mungkin rasa tulus bapak lebih besar dibandingkan Ayahnya Sani." Ucap Andre.
Mata Bapak penjaga sempat berkaca-kaca, bukan lagi sebuah kebohongan dia memang salah satu adik dari mendiang Ibunya Sani yang sudah meninggal. Kedatangannya sebagai asisten di rumah Sani hanya untuk menjaga hidupnya tidak ada alasan lain karena Sani sudah menjadi seorang anak baginya.
Andre menyadari rasa sedih yang tidak dimengerti nya, dia mengira ada sesuatu yang salah dengan ucapannya tadi.
"Bapak sangat sayang Non Sani, Non Sani adalah seorang anak bagi Bapak. Dia sudah tidak memiliki Ibu sejak kecil dia sudah tidak memiliki keluarga utuh. Bapak sangat tahu perasaan sedih Non Sani yang kadang ingin menemui keluarga dari mendiang Ibunya, karena dia sangat kesepian." Suasana haru pilu itu terjadi, berurai air mata Bapak penjaga menceritakannya, mungkin Andre adalah orang pertama yang mendengarkan curahan hati Bapak penjaga itu.
"Keluarga Sani masih ada?" Tanya Andre terkejut. "Apakah Bapak?" Lanjut Andre asal menebak.
Seketika Bapak penjaga mendongak memperlihatkan wajahnya pada Andre meski air mata terus berurai pada kedua pipinya. "Saya adalah paman yang gagal. Saya tidak bisa membawa Sani pergi sampai detik ini juga!" Ungkapnya semakin membuat cerita itu kian menarik.
Andre terdiam dan sangat tak menyangka, mengapa ada seorang keluarga yang menyamar menjadi seorang penjaga rumah di rumah keluarganya sendiri, dan ayah Sani benar-benar tidak mengenalinya. Hubungan dan cerita keluarga apa yang terjadi pada Sani.
"Bapak menjadi penjaga di rumah keluarga bapak sendiri. Apakah Sani tidak tahu sampai sekarang?" Andre lanjut bertanya.
Sebuah anggukan pelan, Andre melihat dengan matanya bagaimana kesedihan dan ketakutan kian ditahan oleh Bapak itu.
"Pak, apa yang terjadi? Apakah ada sesuatu masalah? Mengapa Bapak tidak berterus terang juga?" Desak Andre, sebenarnya dia tak tahan mengapa masih ada cerita keluarga seperti ini.
"Apakah Ayah Sani yang melarang Sani untuk mengetahui keluarganya sendiri?" Tebak Andre, dia masih sibuk bertanya karena hatinya semakin yakin ada sesuatu yang terjadi ada suatu masalah antara Ayahnya Sani dan keluarga Sani. Lalu mengapa Sani masih tetap bertahan di rumah ini? Andre sudah tahu segalanya, tentang rumah itu dan sesuatu yang tidak beres di dalamnya. Ada sesuatu hal itu pasti.
__ADS_1
Lamanya Andre melamun saat itu. Tiba-tiba kesadarannya kembali tertarik saat sebuah tepukan di pundaknya.
Andre menoleh dan pandangannya langsung berubah, bagaikan ada di dunia lain.