Dunia Mu

Dunia Mu
Sebenarnya siapa Pak Tarman?


__ADS_3

Apa yang sebenarnya terjadi di luar kesadarannya? Betul memang saat kalung itu disematkan di leher Sani spontan kesadarannya langsung hilang. Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang tidak lagi Sani permasalahkan saat ini. Kebiasaan dan rutin dilakukan oleh Pak Tarman tidak lagi dia perdebatkan. Sekarang tidak ada pilihan selain harus melakukan apapun yang diminta Pak Tarman terhadapnya.


Tidak adil memang tapi apa daya Sani masih ingat betul dengan kematian Sri. Sebelumnya Sri juga korban dari Pak Tarman dia sampai stress dan kehilangan akal hingga harus meninggal dengan cara yang tidak adil.


"Tunggu apa lagi? Cepat pakai!" Pak Tarman membuyarkan lamunan Tri.


Tangannya gemetar terpaksa harus menerima sebuah kalung dan perlakuan biadab setelahnya. Mau apalagi Tri tidak bisa mengatakan apapun dan menolaknya.


Hingga kalung iblis itu sudah ada di tangan, Tri menatap lekat dengan perasaan yang campur aduk. Sampai kapan sebenarnya dia harus melakukan ritual biadab yang selalu diinginkan Pak Tarman darinya? Sampai kapan?


Tapi tanpa perlawanan dan pikiran yang lebih berani Tri tidak bisa melakukan perlawanan yang sudah direncanakan dari awal. Tangannya bergerak mengikuti kebiasaan yang sudah sering dilakukan. Hingga kalung tersemat diantara lehernya saat itu juga. Dan pandangannya menjadi kosong yang terlihat hanya gelap tanpa cahaya yang menembus ke retina nya.


"Sudah saatnya lagi, aku sangat merindukanmu Ratih." Seru Pak Tarman melihat puas ke arah tubuh Tri yang sudah tergeletak tak berdaya.


Tapi selanjutnya sepasang mata Tri terbuka, membalas tatapan Pak Tarman dengan gairah yang lebih mendebarkan. Tanpa diminta Tri dengan gelagat yang berbeda, senyum berbeda, dan Sukma yang berbeda juga. Datang mengelilingi tubuh Pak Tarman dengan mengendus setiap inci leher Pak Tarman. Menjamahnya dengan kecupan basah dari bibir yang sangat tidak sabar itu. Menarik Pak Tarman dan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Hingga tanpa diminta Tri menanggalkan seluruh pakaiannya, duduk diantara kaki Pak Tarman. Mengeluarkan suara yang tidak pernah mungkin akan dia katakan dengan Sukma Tri yang tertidur. Dengan lincah dan berusaha mencari kepuasan menggeliat tak sadar di atas tubuh tua lelaki yang sudah berumur itu. Apapun itu yang penting puncak kepuasan segera didapatkan.


Geduk...


Suara kaca yang terdengar digedor dari luar.


Tak menanggalkan sedikitpun perasaan khawatir dari keduanya. Tubuh Tri semakin gencar ingin menguasai momen dan membuat Pak Tarman sampai mengeluh kepuasan.


Hingga akhirnya berakhir.


Pak Tarman mengeluh mengeluarkan suara gairahnya dan kembali bisa mengatur napasnya yang beradu tak beraturan.


Tri disampingnya sudah tak sadarkan diri lagi, Pak Tarman hanya menarik selimut dan menutupi seluruh tubuh Tri yang tanpa tertutup busana itu.

__ADS_1


Menyeringai senyum lalu merampas lagi sebuah kalung yang dia ambil.


*****


Andre semakin gelisah menunggu di luar teras kontrakan. Pikirannya tak pernah tenang setelah kejadian itu. Sekarang dia dihadapkan oleh dua pilihan yang tak mungkin rasanya. Pertama menghadapi Pak Tarman dan tetap di rumah ini atau kedua memilih kabur dengan Sani dan pergi kemana saja selain harus berada di rumah Tri.


"Nak Andre!" Suara khas Pak Tarman terdengar memanggil.


Andre berbalik dengan mata yang spontan membulat melihat Pak Tarman berjalan mendekat ke arahnya, senyuman Pak Tarman dan tingkahnya menandakan jika sesuatu yang dilakukan Sani tadi tidak disadarinya juga. Apakah itu pertanda bagus? Andre semakin bingung dan tak bisa mengatur kewarasannya apalagi sekarang saat dia belum siap harus menghadapi Pak Tarman.


"Kenapa masih di luar?" Tanya Pak Tarman yang kembali disambut gugup oleh Andre.


"Anu Pak. Pintunya." Jawab Andre canggung.


Pak Tarman bergerak lebih dulu menggerakkan kenop pintu yang ternyata susah dibuka.


"Masih dikunci, ya. Saya lupa." Ucap Pak Tarman sambil tertawa.


"Akhirnya pergi juga." Batin Andre.


"Setaaan." Teriak Andre karena saat berbalik dia melihat sosok Nenek tua sudah berada dekat dengannya.


Nenek tua yang memakai kebaya itu tadi kan keluar dari arah kamar Tri. Sebenarnya siapa Nenek tua itu?


Andre perlahan mengatur napasnya lagi untuk tenang. Dia tidak boleh memperlihatkan sisi lain dari kemampuan yang dia miliki itu.


Tapi tiba-tiba kepala Nenek tua bergerak sendiri tanpa tubuh uang mengikutinya, bergerak 180 derajat hingga tak disangka menghadap ke arah Andre. Melihatnya Andre langsung merasa jantungan. Bagaimana bisa setan bisa menyadari kehadirannya sekarang?

__ADS_1


"Nak Andre kenapa berdiri di situ? Lagi memperhatikan apa?." Saking kagetnya karena sosok Nenek tua membuat Andre tak bisa menyadari kedatangan Pak Tarman yang sudah berdiri memperhatikannya.


"Eh, Bapak. Tidak ada." Jawab Andre singkat.


Melihat sikap Andre yang membuat Pak Tarman bisa langsung menyimpan rasa curiga sampai memicingkan mata melihat ke arah Andre.


Andre tak ingin peduli tidak mengambil pusing dengan pikirannya tentang Pak Tarman kali ini. Tidak cukup buruk kan jika dia harus memperlihatkan sisi lain pada Pak Tarman. Memangnya apa Yang akan terjadi!


"Yasudah. Ini kuncinya kamu bisa tinggal di dalam kamar itu sendirian." Celoteh Pak Tarman yang langsung membuat Andre melihat memperhatikan kearahnya.


Bukannya seperti itu kan? Perkataan Pak Tarman berbeda dengan ucapan awalnya. Dan bagaimana bisa Andre tidur sendirian di dalam kamar kontrakan ini.


Bahkan tak ada sedikitpun keberanian bagi Andre untuk melarang Pak Tarman yang perlahan sudah berjalan kembali ke arah rumah itu. Dia tidak bisa mencegahnya atau memperdebatkan masalah itu, bebas saja karena ini rumahnya Pak Tarman kan.


Andre hanya bisa berdecak kesal menahan dalam-dalam rasa kecewa yang bercampur dengan emosinya. Apalagi saat berbalik sosok nenek sepuh masih berada di luar duduk di tempat semula menambah suasana yang kian runyam.


Hubungan tentang Nenek sepuh dan Pak Tarman. Tiba-tiba pikiran itu muncul.


Andre tidak ingin memikirkannya lagi, besok saja dia harus mengurus masalah kematian Anis yang belum ada ujungnya. Setelah itu dia bisa pulang mengantar Sani ke rumahnya.


Belum sempat memejamkan mata saat baru saja tubuhnya roboh ke atas kasur, muncul lagi bayangan lain yang membuat pikiran Andre bisa berkhayal kemana saja.


Di satu sisi dia sangat menyesal dan tak sabar untuk menyudahi drama yang terjadi sekarang. Apalagi yang paling membuat pikirannya kacau jika bukan setiap masalah yang sedang dihadapinya sendiri.


Andre mencoba untuk damai dengan hati dan pikirannya beberapa saat saja, tubuhnya lelah meminta waktu untuk beristirahat walaupun hanya terhitung satu atau dua jam itu tidak menjadi masalah kan.


Praaang...

__ADS_1


Suara kaca pecah.


Sontak matanya membulat dan pikirannya terjaga lagi. Di dalam ruangan yang menurutnya sempit, hanya muat satu kasur saja dan sedikit jarak antara kasur dengan tembok. Matanya meneliti ke setiap jengkal yang tidak memperlihatkan sumber suara yang baru saja didengarnya. Padahal suaranya sangat dekat tapi tidak ada wujud nyatanya.


__ADS_2