
Rasa trauma kehilangan Ibu membuat Andre sangat bergantung pada satu-satunya keluarga yang dia miliki, dan tak lain itu adalah Neneknya. Satu teman yang dia temukan adalah Ira, seorang gadis yang kebetulan tinggal satu komplek perumahan dengan tempat dimana Andre bekerja sebagai sopir di sana. Andre tidak bisa begitu akrab dengan orang-orang, dia masih tidak bisa menerima jika orang-orang terdekatnya bisa pergi dari kehidupannya, Andre merasa orang-orang tidak bisa bertahan di sisinya.
Di sepanjang jalan langkah gontai Andre mengantarkannya kembali ke tempat duduk di taman kota. Dia masih merasa kaget dengan kejadian yang baru saja menimpanya. Mengapa kecelakaan itu bisa kebetulan terjadi di hadapannya? Andre bingung dan tidak bisa berkata-kata.
Guyuran hujan yang mulai turun tidak membuat Andre cepat pergi dari tempatnya. Meski tetesan air hujan sudah membuat tubuhnya menggigil dan kedua matanya yang sulit lagi melihat ke arah mana saja karena air hujan yang mengalir deras ke wajahnya. Andre berbalik dan dia melihat lagi tempat di seberang jalan adalah tempat kecelakaan tadi. Dan matanya samar melihat lagi ada seseorang yang berdiri tidak begitu jauh di tempat itu. Seorang wanita berdiri diam memandangi ke tempat dimana kecelakaan tadi. Andre kembali merasa heran, guyuran hujan tidak membuatnya berteduh juga? Tingkah wanita itu sangat aneh.
Andre berbalik lagi tidak ingin menghiraukan sikap dari orang aneh yang dilihatnya itu. Hanya saja tiba-tiba pemikirannya yang lain muncul lagi, dia merasa wanita itu mungkin saja...
Andre cepat mengalihkan pandangannya lagi ke arah tempat tadi yang dia lihat. Tapi sudah tidak ada siapapun, bahkan saat dia mencari ke sekitarnya tidak juga terlihat ada satupun orang di sana. Dalam gerimis hujan yang terus mengguyur Andre cukup merasa terkejut lagi, seluruh hatinya tidak ingin mengakui apapun yang dia pikirkan sekarang. Dia tidak ingin menganggap jika tadi hanya penampakan yang dilihatnya.
Beberapa menit berlalu, tubuhnya yang menggigil mulai terasa, dia segera bergegas mencari tempat berteduh dari hujan. Tidak lama Andre melihat ada gedung, dia datang ke gedung itu dengan cepat.
Tidak ada yang bisa dilakukannya, dia hanya bisa berharap hujan cepat turun atau ada kendaraan umum yang datang.
Andre terus berusaha berteduh sendirian di gedung seperti toko yang sudah tutup. Dan hari semakin sore saja, Andre melihat samar jam tangannya lagi. Dia berharap bisa cepat pergi dan menemukan tempat untuk tinggal. Tidak ada pilihan memang dan tidak ada orang yang bisa dia hubungi untuk dimintai pertolongan.
Sorot mata Andre semakin bingung, sudah cukup lama berdiri dan berteduh dari hujan. Andre tidak diam terus mengamati ke arah jalanan raya, tapi tidak ada kendaraan umum yang singgah juga.
Dan tidak terasa waktu terus berlalu. Andre semakin bingung apa yang akan dilakukannya sekarang? Di tempatnya berdiri hanya kawasan gedung toko yang berjajar, sebagian sudah tutup. Dan satu-satunya jalan yang terpikirkan hanya kembali datang lagi ke rumah sakit. Sekilas memikirkannya membuat Andre semakin merasa sulit. Dia tidak mungkin kembali datang ke RSJ itu lagi? Menghadapi semua kengerian di sana? Andre tidak bisa. Apalagi harus tinggal di tempat itu, Andre tidak mungkin melakukannya.
Andre menghela napas panjang, tubuhnya semakin menggigil dan dia merasa sudah hilang kendali menahan rasa dingin yang menempel dan membungkus tubuhnya.
Tidak ada cara lain, Andre berlari ke arah rumah sakit kembali ke sana tapi tidak untuk tinggal dan tidur di tempat itu.
__ADS_1
Andre menghentikan langkah kakinya, dia berjalan pelan menuju kerumunan orang di teras rumah sakit. Ada banyak perawat juga yang mungkin sedang menunggu hujan reda. Mau tidak mau dia harus membuang ego nya, dia harus bisa memaksakan diri berdiri di tengah orang-orang yang tidak dikenalinya.
"Ini Mas yang tadi kan?" Tiba-tiba terdengar suara lantang yang menyapanya.
Andre bingung dia tidak langsung menjawab.
"Mas yang ada di kecelakaan di depan sana kan?" Tegas lagi perawat itu.
Andre melihat wajahnya yang ramah, dan itu sedikit membantu sikap canggungnya. Perlahan Andre hanya mengangguk dan tersenyum.
"Loh Mas ini sengaja ya hujan-hujanan sampai basah semua." Seorang gadis yang diperkirakan seumuran dengan Andre.
Andre masih tidak bisa menjawab, dia hanya melihat seorang perawat yang terus berbicara padanya.
"Tidak perlu, saya tidak apa-apa." Ucap Andre gugup.
"Tidak apa-apa Mas ayo saya bantu, silahkan masuk duluan!" Ucap Perawat itu.
Andre membisu dia bingung apa yang akan dilakukannya, apakah harus menuruti niat baik orang lain? Atau menolaknya saja?
Terlihat ragu-ragu Andre mengikuti instruksi dari perawat itu. Dia harus merasa beruntung karena masih ada orang baik yang memperhatikan hal kecil seperti ini.
Dari pintu masuk Andre memilih jalan di belakang perawat, dia berjalan pelan dan matanya tidak pernah diam melihat kesana kemari.
__ADS_1
Suasana di RSJ mulai sepi, bahkan lorong-lorong menuju kamar pasien juga sepi. Andre dan perawat berjalan melewati setiap pintu yang digembok dari luar. Pemandangan yang tidak aneh jika memasuki RSJ memang seperti itu.
Andre melihat kebersihan di tempat ini cukup diperhatikan baik juga, di setiap lantai dan dinding semuanya bersih.
"Setan... Setan... Ada di sana... Setan. SETAN!" Teriakkan langsung terdengar di salah satu ruangan di balik pintu kamari itu. Andre tertegun masih terkejut dengan teriakkan yang tiba-tiba dalam selang waktu singkat langsung kembali tenang.
Ceklekk... Suara pintu dibuka.
Andre melihat seorang perawat dan dokter keluar dari ruangan itu, lalu pasien yang dibawa di kursi roda itu juga berpakaian sama dengan semua perawat di tempat ini. Andre terus memandanginya heran saat 2 orang itu melewatinya begitu saja.
"Mas masih diam di situ. Cepat Mas!" Ucap Perawat yang membawanya itu. Andre melihat ekspresinya yang cemas. Dan sebenarnya ada apa?
Terpaksa Andre meneruskan jalannya, mengikuti perawat itu yang sangat tergesa-gesa. Hingga akhirnya dia memasuki sebuah ruangan tanpa pintu dan dalam tulisan di atasnya adalah gudang.
"Mas cepat!" Perawat terus membuatnya harus terburu-buru.
Andre ragu untuk masuk ke sana, dia hanya diam dan terlihat bingung.
"Mas pakai jas hujan ini dan sebaiknya kita cepat pergi dari sini. Ayo Mas kita harus cepat sebelum jam 06.00 kita harus pergi." Jelas perawat itu dan dia sangat tergesa-gesa memakai jas hujan di tangannya.
"Cepat Mas!" Peringatannya lagi.
Andre cepat menurut dan segera memakai jas hujan yang sudah dibawakan oleh perawat itu.
__ADS_1
Setelah selesai bahkan tanpa disangkanya, tangan Andre ditarik dan Perawat mulai berlari. Andre hanya mengikutinya lagi tanpa bertanya apapun.