
Andre tampak mengerutkan dahinya tanda tidak begitu mengerti dengan maksud pertanyaan Sani.
"Salah, maksudnya apa kita harus berangkat hari ini?" Ucap lagi Sani mempertegas pertanyaannya tadi. Meski dia tampak ragu tapi Sani sudah berusaha baik untuk berbicara.
"Kenapa emang kalau hari ini?" Tanya Andre.
"Misalnya aja nih, kalau besok gitu." Ucap Sani hati-hati.
Andre langsung terdiam mendengarkannya, dia hanya menduga apakah maksud perkataan Sani itu dia masih ingin tinggal di rumah Bu Ratih?
"Kan rasanya gak enak aja, aku egois banget kalau buru-buru pulang. Kabar kematian Tri saja masih satu hari yang lalu apalagi kita sudah banyak merepotkan anak Pak Rais." Terang Sani memberitahukan asumsinya.
Andre sekarang cukup yakin dengan arah pembicaraan Sani. "Emangnya gak apa-apa kalau beberapa hari masih tinggal di sini?" Tanya Andre, dia tidak ingin jika keputusan keduanya malah menjadi masalah apalagi Sani sudah terlalu lama jauh dari keluarganya kan.
Sani tampak berpikir, sama halnya seperti yang dilakukan Andre.
"Wah kebetulan sekarang udah ada Sani. Mumpung udah ngumpul juga." Seru Pak Dean yang tiba-tiba muncul lagi dari dalam rumah.
Andre dan Sani langsung menoleh dan melihat Pak Dean juga Istrinya yang tampak membawa tas dan seperti sudah siap pergi keluar.
"Bagaimana Pak?" Tanya Andre tidak mengabaikan Pak Dean.
"Langsung aja ya Bapak ngobrolnya." Jawab Pak Dean semakin membuat penasaran saja.
"Bapak dan Ibu harus ke kantor polisi sekarang, tapi sepertinya polisi meminta Nak Andre sama Neng Sani untuk datang juga. Bapak udah minta waktu yang lain tadi tapi sepertinya bagaimana lagi." Jelas Pak Dean terlihat sangat hati-hati saat berbicara dengan Andre, ditambah mungkin dia merasa tidak enak karena kemungkinan bisa membatalkan rencana Andre dan Sani pulang.
"Wah harus cepat-cepat Pak, penting banget kayanya." Timpal Sani. Pak Dean langsung memperhatikan ke arah Sani, dia mungkin merasa kikuk dan tak percaya jika Sani akan mengatakannya dan jauh dari dugaannya.
__ADS_1
"Kalian gak apa-apa kalau harus kembali ke kantor polisi sekarang?" Tanya lagi Pak Dean memastikan.
"Kenapa tidak Pak? Kayanya emang penting banget kan." Jawab Andre gantian. Akhirnya bisa membuat Pak Dean menghela napas lega.
"Syukurlah. Kita berangkat sekarang aja ya?" Seru Pak Dean dan langsung berjalan ke arah grasi mobil.
"Duh udah pada berangkat lagi." Bu Ratih menyusul keluar dari rumah. .
"Ibu mau ikut? Ayo Bu! Duh sampai lupa." Ucap Pak Dean terburu-buru.
"Harus dong ikut." Jawab Bu Ratih dan segera menarik pintu lalu menguncinya dari luar.
Akhirnya semua orang pergi dengan mobil Pak Dean. Tak disangka jika Andre memang masih harus tinggal lagi, meski sebelumnya sudah direncanakan dan Pak Dean sendiri yang meminta agar Andre pulang, tapi mau bagaimana lagi jika sekarang situasinya sudah berbeda kan.
"Bapak minta maaf banget, jadi ada gangguan kaya gini." Ucap Pak Dean sambil pandangannya yang tetap fokus ke arah depan.
"Padahal Bapak yang minta kalian pulang cepat, eh tahunya Bapak lagi yang harus merepotkan kalian." Jawab Pak Dean terdengar sungkan.
"Ibu juga gak tahu kok polisi langsung nelpon bapak lagi tadi. Jadi gak enak gini." Tambah istrinya Pak Dean memperjelas maksud dari pembicaraan Pak Dean.
"Jadi polisi udah nelpon lagi? Ya, gak apa-apa kalau gitu berarti aku udah harus siap untuk penyelidikan." Jawab Andre tanda tak begitu keberatan.
"Neng Sani gimana ya?" Istrinya Pak Dean langsung bertanya lebih peka sebagai perempuan dia lebih mengerti soal perasaan karena dari tadi Sani hanya diam saja.
"Gak apa-apa kok Bu, aku ngikut gimana Andre aja." Balas Sani segera membuat raut wajah Pak Dean tenang.
"Semoga saja cepat selesai ya gak terlalu memakan waktu, dan semua masalahnya selesai." Celoteh Pak Dean seolah sudah mewakili hati Andre, bukan hanya dirinya ternyata semua orang mengharapkan yang sama.
__ADS_1
Mobil melaju dengan kecepatan rata-rata santai, Pak Dean tidak terlalu terburu-buru dia masih tenang membawa mobilnya.
Sedangkan Bu Ratih masih diam saja hanya menyimak percakapan orang-orang.
"Pak. Tentang Tri, kematiannya itu." Tiba-tiba Andre bertanya di tengah suasana yang tenang.
Orang di sebelah Andre langsung mengalihkan perhatian padanya, termasuk Bu Ratih dan Sani terkecuali Pak Dean dan istrinya.
Pak Dean tampak sedikit terhenyak mendengar kan pertanyaan itu, tapi dia dengan tenangnya menghela napas.
"Kematian Tri, kita katakan itu adalah takdir. Tri meninggal tanpa sebab apapun memang." Terang Pak Dean membuat Andre mengerutkan dahinya tanda tak mengerti.
"Jadi Neng Tri itu tiba-tiba aja meninggal gitu, Pak?" Timpal Bu Ratih yang sama sekali dia juga tidak tahu menahu tentang Tri, dari reaksinya tentu saja memperlihatkan Bu Ratih yang cukup terkejut dan tidak percaya.
"Kalau sudah takdirnya, kapanpun, dimana pun, dalam keadaan bagaimanapun. Siapa yang tahu Bu. Saya juga sempat syok dan tak percaya, tapi kematiannya benar-benar murni tidak ada sebab lain yang bisa mencurigakan." Jelas Pak Dean mulai menerangkan isi hatinya sekarang, tentu saja Pak Dean yang lebih tahu jadi dia tampak sudah menerima kematian Tri, tidak seperti yang lainnya.
Hingga orang-orang yang mendengar langsung terdiam.
Tak lama mobil terparkir di halaman gedung kepolisian. Bisa-bisanya Andre akan trauma melihat kantor polisi, karena di tempat itu dia saat ini akan menghadapi kasus yang begitu serius.
Orang-orang turun dari dalam mobil. Andre sudah bersiap bersama Sani berjalan menuju ruangan dan bertemu dengan salah satu polisi yang menyelidiki kasus Pak Tarman.
Saat ingin duduk di sebuah ruangan tunggu salah seorang polisi datang dan menunjukkan arah agar Andre dan Sani ikut ke sana.
Ketika masuk ke dalam ruangan sesuai yang diinstruksikan, mata Andre langsung terbelalak melihat di depan matanya adalah Pak Tarman yang sudah duduk dan juga ada beberapa orang polisi. Andre langsung menundukkan wajahnya, dia bukan hanya tak siap tapi ketika melihat Pak Tarman Andre bisa langsung membayangkan kejadian malam itu yang bisa membuatnya trauma.
Mengapa Andre tak sempat memikirkan jika dia sekarang akan bertemu langsung dengan Pak Tarman. Termasuk Sani yang ada bersamanya saat itu mungkin akan bertanya hal yang sama.
__ADS_1
Dari penuturan polisi Andre dan Sani diminta untuk melakukan reka adegan di TKP, sesuatu yang tidak pernah diinginkan Andre. Dia tidak ingin harus kembali ke tempat itu rasanya sangat menyiksa.