Dunia Mu

Dunia Mu
Pengganggu di rumah Bu Ratih.


__ADS_3

"Tapi kayaknya kita butuh mobil. Ibu telpon tetangga lain dulu ya kita bisa pinjam mobil." Tapi Andre tak begitu yakin dia masih terganggu dengan kemunculan Pak Tarman dan juga gangguan yang terjadi tadi.


"Bu, kita besok saja perginya. Siapa tahu Sani hanya masuk angin." Ucap Andre gugup, dengan hati-hati dia berusaha meyakinkan untuk tetap tinggal.


"Ibu gak tega lihat Neng Sani, tenang kok Ibu ada tetangga di sini yang bisa kita tanya dulu."


"Bu, sebaiknya jangan." Balas Andre tak membiarkan kesempatan pada Ibu-ibu di hadapannya untuk menelpon.


Tak aneh jika Andre langsung mendapatkan tatapan heran dari lawan bicaranya. Dan sekarang dia juga tidak bisa terus menyembunyikan keadaan yang sebenarnya kan.


"Yasudah bantu Ibu untuk jaga Neng Sani, semoga keadaannya semakin membaik." Bersama perkataan Ibu itu Sani yang masih duduk dengan dipegangi oleh Ibu-ibu itu dan Andre, tak disangka tangan Sani langsung meraih lengan Andre dan menatapnya sayu.


"Aku ingin pulang." Ucap Sani sebelum dia kembali ambruk saking tak tahan menahan rasa sakitnya.


Andre kembali terhenyak mendengar kan kata-kata itu. Apalagi di hadapannya ada orang lain yang juga mendengarkan.


Andre langsung menidurkan Sani dengan mengangkat tubuhnya dulu dan ditidurkan di atas kasur kembali. Dia masih diam saat Sani terkahir berbicara padanya.


"Sepertinya ada masalah yang serius, maaf sekali jika Ibu tiba-tiba menebaknya." Ucapnya penuh hati-hati.


Andre mengalihkan perhatian dan dia saat itu benar-benar bingung, sebenarnya Andre ingin mengatakan semua hal masalahnya tapi bagaimana dia akan berbicara.


"Sebaiknya kalian istirahat dulu, Neng Sani biar Ibu yang jaga dan kamu istirahat dulu ya! Kalau bisa kamu makan dulu Ini sudah masak tadi sore." Tak disangka Ibu-ibu yang belum diketahui namanya kembali membuat Andre menerima kesempatannya untuk berpikir lagi.

__ADS_1


"Bu, bisa saya tahu nama Ibu?" Tanya Andre sebelum dia berniat pergi ke ruangan lain tepatnya ke sebuah kamar untuknya beristirahat.


"Nama Ibu Ratih, semoga kamu betah ya! Sekarang kamu boleh beristirahat dulu." Sarannya lagi memperingatkan.


Meski berat rasanya tapi Andre kembali melangkah berjalan pergi keluar kamar dan meninggalkan Sani yang sudah sangat mengkhawatirkan.


Andre bukannya ingin tega atau mementingkan kepentingannya sendiri, padahal Sani memang sangat butuh perawatan sekarang karena kondisinya itu. Tapi bagaimana Andre harus kembali menghadapi Pak Tarman, yang paling dia takutkan jika Pak Tarman sudah tahu dia akan pergi ke rumah Bu Ratih saat ini. Selain itu kejadian yang baru saja terjadi membuat Andre harus memikirkannya lebih matang, karena setan yang berulah dan membuat Sani atau dirinya sendiri bisa celaka. Bukan kabar yang baik.


Setelah berjalan tak terasa Andre sudah berdiri di tengah-tengah ruangan. Dia mencari sebuah kamar lain yang disebutkan oleh Bu Ratih. Tapi mengapa dia rasanya cukup bingung karena tidak ada pintu ruangan lain selain kamar tadi yang dia lewati dan juga pintu dapur dan pintu yang menuju kamar mandi. Itu artinya dia harus tidur di kamar itu kan? Andre kembali merasa ragu tapi dia tidak mungkin memilih tidur di luar dan beralasan karena dari kamar dia tidak akan tahan oleh kemunculan setan anak-anak itu.


Terpaksa saja Andre harus memberanikan diri, masuk ke dalam kamar dan akan beristirahat di dalam kamar itu.


Sangat hati-hati sekali bahkan dia cukup terjaga ketika masuk ke dalam kamar. Padahal memang tidak ada yang aneh dan kamar sangat bersih juga tertata rapih. Tak lama mengamati seisi kamar sudut matanya menangkap sesuatu seperti yang sedang berlari. Lagi-lagi Andre merasa kaget dibuatnya, tapi dia harus terbiasa kan Karena tidak ada pilihan lain.


Di saat seperti sekarang bukannya dia semakin tenang, tapi masalah langsung menghampiri ke dalam pikirannya. Dan yang membuatnya tidak bisa tenang saat mendengar keinginan Sani lagi untuk pulang. Bagaimana caranya dia bisa mengantar Sani pulang, dia cukup menyesal dan sangat merasa bersalah karena masalah yang bertubi-tubi ini menahannya akan lebih lama tinggal di tempat yang seharusnya dia tidak akan terus menetap di sini.


Hingga tak terasa sepanjang Andre. berpikir dan melamun, lambat laun rasa ngantuk menjebaknya untuk tidur, bahkan Andre langsung tertidur pulas lagi.


#####


Di dalam kamar Sani tampak kembali terlihat menggerakkan tubuhnya dan pertama kali tangannya langsung spontan menahan perutnya.


Melihat Sani yang sadar lagi Ibu Ratih sedikit lega, akhirnya Sani bisa sadar. Tapi rasa syukur itu kini bercampur dengan perasaan tak tenang lagi, Sani terllihat meringis menahan sakit yang tampak dia kesakitan karena sesuatu di dalam perutnya.

__ADS_1


"Neng Sani bisa dengar Ibu? Neng Sani bisa minum dulu?" Tanya Ratih yang begitu mengkhawatirkan Sani.


Sani menggelengkan kepala dan masih menahan perutnya.


"Neng Sani kesakitan apa ada sesuatu yang bisa Ibu bantu untuk meredakan rasa sakitnya?" Tanya lagi Ibu Ratih sangat telaten meskipun kenyataannya Sani adalah orang baru tapi dia memang sangat baik mengurus Sani bagaikan sedang merawat anaknya sendiri.


"Sakit Bu, saya datang bulan!" Ucap Sani.


Mendengar jawaban Sani Ibu Ratih langsung melotot, dia mengerti sebagai perempuan bagaimana kesakitan yang Sani hadapi saat ini. Tapi Sani bisa sampai bereaksi seperti itu juga.


Sani tak mengatakan apapun lagi, tapi Ratih cukup sigap dia ingat ada obat pereda nyeri di kotak obat dan untuk meredakan nyeri juga dia bisa menggunakan botol air hangat kan.


"Neng Sani tunggu dulu ya! Ibu akan ambilkan obat sebentar." Pamitnya yang langsung pergi menuju dapur, semua keperluan obat memang sengaja dia simpan di dapur.


Saat keluar kamar Ratih perhatian Ratih teralihkan dengan pintu kamar yang tampak terbuka, mungkin Andre sudah tidur dan lupa menutup pintunya. Dia segera pergi berniat untuk menutup pintunya.


Saat melihat ke arah dalam Ratih melihat Andre yang sudah tertidur pulas, tapi tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca. Ada sesuatu yang langsung terlintas dipikirannya saat itu.


Ratih kembali terburu-buru pergi ke arah dapur, dia harus secepatnya membawa obat pereda nyeri itu.


Belum masuk menuju dapur tiba-tiba terdengar sebuah suara seperti piring yang terjatuh. Hatinya langsung terhenyak kaget mendengarkan pantulan suara dari piring uang jatuh ke lantai, dan sumber suara itu berasal dari dapur. Kali ini Ratih terlihat ragu-ragu, langkah kakinya kembali pelan. Saat memasuki dapur matanya langsung mengamati ke seluruh bagian yang tidak memperlihatkan suatu keanehan apapun dan Ratihe coba mencari piring yang terdengar jatuh tadi, harusnya piring ada di bawah meja atau di dekat lemari piring. Tapi matanya tidak menemukan benda yang terus dicarinya.


Ratih kembali berusaha berpikir jernih dan seperti sedang mengumpulkan keberanian dalam dirinya. "Tolong jangan ganggu tamu ini, mereka anakku!" Ucap Ratih.

__ADS_1


__ADS_2