Dunia Mu

Dunia Mu
Tulisan di tembok rumah


__ADS_3

"Ia tadi pingsan. Kenapa Andre Lu ada sakit apa sebenarnya?" Tanya Sani tanpa basa-basi.


Andre tampak berpikir. "Gak ada. Aku gak ada riwayat sakit keras." Jelas Andre.


"Yasudah istirahat saja, besok jadwal ngampus. Kamu juga ikut!" Pinta Sani.


Andre langsung terkejut mendengarnya. "Ikut juga?" Tanya Andre.


"Ikut dong, kan udah mulai kerja." Jawab Sani sambil melangkah kan kaki nya menaiki anak tangga.


"Mau tidur lagi di atas?" Andre merasa heran karena Sani masih nekat tidur ke kamarnya.


"Ia. Masa tidur di sini." Jawab Sani singkat.


"Kalau mau makan kamu masak sendiri! Cari aja di kulkas." Sani memberitahu kebutuhan Andre.


Andre menganggukkan kepala tanda setuju. Andre tidak pernah berpikir akan sejauh ini, bekerja dengan Sani dan terlibat dengan masalah di rumah.


Kadang Andre berpikir untuk pergi jauh dari rumah ini, semakin lama tinggal di sini dia semakin tertekan dengan situasi rumah. Entah apa yang terjadi tapi Andre yakin jika rumah Sani ada masalah yang harus dia cari tahu nanti. Tapi untuk sekarang Andre butuh Nenek, dia harus menemui Neneknya jika bisa secepatnya.


Andre menghela napas, duduk dan berpikir lagi. Rasa lapar memang memaksanya untuk bangun. Dia pun memeriksa isi kulkas seperti yang dikatakan Sani.


Ada sebuah kulkas, alat untuk masak, lengkap sekali. Ketika kulkas dibuka Andre melihat ada begitu banyak makanan instan uang bisa dia masak saja.


Beruntung sekali, Sani memfasilitasinya dengan baik.


Andre mengambil beberapa sosis, NuGet, dan telur. Dia akan masak, pekerjaan yang mudah seperti ini sudah sering dia lakukan sendirian.


Selama Andre memasak suasana menjadi semakin tenang saja, Andre juga mulai tidak melihat kemunculan mereka, beruntung sekali.


Hingga dia terkejut karena yang dimasaknya adalah sosis dan makanan yang sudah penuh belatung. Bau busuk pun tak dapat terhindarkan.


Kedua pasang mata Andre terbelalak. Dia penasaran dan membuka kulkas, ternyata isi kulkasnya hanya penuh belatung dan abu busuk, lampu kulkas juga tidak menyala. Itu sebabnya semua makanan busuk.


Andre merasa mual yang hebat, dia akan memberitahu Sani sekarang.


Andre berlari menaiki anak tangga, mengetuk pintu kamar Sani.


Pintu terbuka dengan sendirinya, Andre menatap aneh mengapa tidak ada Sani yang membukakan pintu, namun pintu terbuka dengan sendirinya.

__ADS_1


Tak ingin penasaran Andre masuk ke dalam kamar, melihat Sani yang sedang tertidur pulas di sana. Tidak ada yang aneh di kamar Sani, kecuali di kamar dirinya.


Saat ingin kembali turun ke bawah karena tidak mungkin dia membangunkan Sani yang sudah tidur, tiba-tiba Andre mendengar seseorang ada di kamarnya. Entah siapa. Andre tak berpikir lagi dia langsung menutup pintu kamar Sani dan menetap di sana. Sekarang dia tidak berani untuk turun apapun alasannya.


Pilihan Andre dia akan tetap tidur di kamar Sani dari pada harus berhadapan dengan sesuatu yang tampak aneh di kamar bawah. Saat melihat lagi ke arah pintu Andre melihat sesuatu yang ditempel di pintunya, seperti tulisan, namun menggunakan tulisan dan bahasa Jawa mungkin, dia tidak tahu apa artinya.


Andre menatap lagi ke arah Sani, selain tulisan di dinding ada juga tulisan yang sengaja ditempel di rumah ini. Semakin aneh saja apakah tulisan di pintu Sani semacam penangkal? Untuk apa?


"Andre!"


Panggil Sani.


Andre segera berbalik dan melihat Sani yang terbangun.


"Kenapa disini?" Tanya Sani.


Andre bingung untuk mengatakannya, dia tidak tahu apakah Sani akan percaya atau tidak.


"Andre?" Sani kembali memanggilnya.


"Aku gak bisa tidur di bawah San." Jawab Andre ketus.


Beruntung sekali Andre mengira jika dia nanti akan dimarahi rupanya Sani dengan senang hati membiarkannya.


Tok...tok...tok...


"Non!" Seseorang mengetuk pintu dari luar.


Andre belum sempat membukakannya tapi pintu sudah dibuka terlebih dulu dari luar.


Ternyata Bapak penjaga yang datang.


"Eh, temennya Neng Sani ada di sini, pantesan gak ada di bawah. Cepet tidur di bawah!" Perintahnya pada Andre.


"Ada apa Pak?" Tanya Sani yang terbangun lagi mendengar suara gaduh.


"Ini saya biasa keliling, ternyata Neng Sani udah tidur." Jawabnya.


Andre segera berdiri mengikuti Bapak Penjaga.

__ADS_1


"Loh, bukannya mau tidur di sini?" Sani segera mencegahnya.


"Biar temannya Bapak yang temenin di bawah Non." Sebelum sempat menjawab lebih dulu Bapak Penjaga mendahului Andre berbicara.


"Oh gitu. Yasudah tutup lagi pintunya!" Ucap Sani.


Mau tidak mau Andre hanya bisa kembali ke kamar sebelumnya bersama Bapak penjaga.


"Kamu jangan tidur di atas, tempat mu di sini. Awas ya kalau sampai macam-macam sama Non Sani!" Ancamnya. Andre membulatkan mata.


"Siapa yang mau macam-macam Pak, Saya ke atas mau memberitahu Sani tadi kalau kulkasnya rusak, makanan semuanya basi. Cek aja sendiri!" Andre membela diri.


Tanpa menunggu lagi Bapak Penjaga itu segera mengecek kulkas, dan benar saja dia juga hampir muntah melihat seisi kulkasnya.


"Waduh kok bisa rusak ya." Gumamnya.


"Yasudah kamu ikut ke bawah? Mau masak kan?" Tanya Bapak Penjaga itu pada Andre.


"Tapi ingat, jangan kemana-mana, jangan macem-macem, pokoknya ikuti saya saja." Ucapnya pada Andre memperingatkan.


Andre hanya menelan ludah, sepertinya memang banyak yang tidak biasa di rumah ini, termasuk sikap Bapak Penjaga. Tapi sebaiknya Andre menuruti tanpa membantah.


Perlahan kakinya sudah melangkah menuruni anak tangga satu persatu, perasaannya mulai merasa tak nyaman, Andre merasa banyak sekali pandangan yang mengancam ke arahnya.


Tak butuh lama Andre sudah tiba di lantai bawah. Sama seperti yang sudah dia bayangkan sebelumnya. Lantai bawah adalah sarangnya semua makhluk tak kasat mata, Andre tak mengerti mengapa ada begitu banyak makhluk tak kasat mata yang tinggal di lantai itu.


"Jangan Meleng. Ingat ya apa yang Bapak katakan tadi!" Andre terperanjat mendengarkan lagi peringatan itu, hampir saja dia kembali terjebak dalam dunia mereka.


Bapak penjaga pergi ke sisi lain yang ada di belakang tangga, sebuah pintu di sana dan di dalamnya ternyata dapur.


"Bapak tidak akan tinggalkan kamu di sini, jadi santai saja silahkan masak sekarang." Beruntung sekali Bapak penjaga pengertian, jika diingat lagi Andre tak akan pernah berani sendirian di dapur ini. Tak habis pikir mengapa Sani begitu nyaman tinggal di rumah yang hanya dihuninya sendirian.


"Bapak mau di masakan apa?" Tanya Andre menawarkan.


"Tidak usah, kamu saja masak semua keperluannya." Jawab Bapak itu.


"Oh ya, Bapak tidur dimana kalau malam gini? Tidur di atas saja sama Andre." Tawar Andre, sebenarnya dia ingin ditemani teman, cukup ngeri juga mentalnya terasa dipukul telak.


"Bilang saja kalau mau ditemani, Bapak gak keberatan juga. Tapi kamu yang bilang sama Neng Sani." Ucapnya membuat Andre senang.

__ADS_1


__ADS_2