Dunia Mu

Dunia Mu
Penguntit


__ADS_3

Pak Dean tak ingin membuang waktu, dia berniat untuk membawa mobilnya melaju lebih cepat lagi. Bukan hanya perasaan Andre atau Bu Ratih, dia juga merasakan panik.


"Pak, rumah!" Seru istrinya sambil bersemangat menunjuk ke arah jendela.


Pak Dean memperlambat laju mobilnya saat itu, dia ragu untuk berhenti karena disekitarnya masih dikelilingi hutan yang luas kan.


"Cepat pak!" Serunya lagi membuat Pak Dean terpaksa langsung menginjak rem hingga mobil berhenti.


"Bu di depan ada rumah kita minta pertolongan di sini saja kan?" Tanya istrinya Pak Dean langsung pada Bu Ratih yang saat itu duduk bersama Andre dan Sani.


Bu Ratih langsung mengintip ke balik jendela, memang di seberang jalan ada sebuah rumah kecil, tapi itu hanya satu-satunya rumah dan juga di sekeliling masih hutan apakah ini pilihan yang baik. Dia juga memikirkan hal yang sama seperti Pak Dean, tidak langsung menyetujuinya.


"Bu masih hutan." Timpal Andre, akhirnya dia yang berani berbicara seperti yang diharapkan oleh Pak Dean dan Bu Ratih.


"Tidak ada rumah di sana! Kita masih di dalam hutan." Terang Andre membuat orang yang mendengarnya sedikit terkejut.


Pernyataan Andre langsung membuat orang-orang terpaku heran, apa yang dikatakan Andre? Jelas di depan itu adalah rumah. Begitulah yang dipikirkan orang-orang di dalam mobil.


"Di sana ada rumah kan!" Terang Bu Ratih yang saat itu duduk paling dekat dengan Andre.


"Di sana tidak ada rumah atau apapun, itu hanya sebuah pohon dan kita masih di dalam hutan seperti ini." Andre bersikeras meyakinkan. Tapi sepertinya hanya dia yang memiliki penglihatan itu sendirian, sedangkan yang lainnya memiliki penglihatan yang berbeda.


"Nak Andre apakah tidak bisa melihat jika di sana adalah rumah?" Timpal Pak Dean dengan tatapan bertanya-tanya.

__ADS_1


Andre langsung mengangguk sangat yakin menatap Pak Dean agar bisa percaya dengan kata-katanya. Tapi Pak Dean tidak langsung merespon, perasaan Andre semakin tidak tenang dan firasatnya sangat buruk. Satu-satunya yang harus dilakukan adalah untuk secepatnya pergi dari hutan ini.


"Kita lebih baik jalan lagi, Bapak bawa mobilnya dan tetap fokus. Kita tidak bisa berhenti dan membuang waktu." Andre terus berusaha meyakinkan, dia tidak ingin jika perdebatan ini malah membuat semuanya celaka karena itu Andre bersikeras untuk membuat orang-orang agar bisa menerima perkataannya.


"Tunggu apalagi? Di sini masih hutan dan tidak ada siapapun untuk bisa menolong Sani kan!" Tanpa dia sadari nada bicaranya berubah.


Tapi orang-orang malah saling pandang seperti bingung, sebuah respon yang sangat tidak Andre harapkan.


"Pak ini di tengah hutan lagian perjalanannya masih jauh." Ucap Andre sekali lagi.


"Tapi Neng Sani gimana?" Tanya istrinya Pak Dean yang tidak lepas memperhatikan ke arah Sani.


Sebelum berhasil menjawab mata Andre lagi-lagi tertuju pada sosok yang sama, perempuan itu lagi. Apa yang membuatnya bisa sejauh ini mengikuti perjalanan Andre?


"Pak Dean! Cepat yu pergi aja dulu semoga setelah hutan akan ada banyak pemukiman." Celoteh Bu Ratih tiba-tiba dominan mengambil keputusan, akhirnya perasaan Andre bisa tenang karena sekarang ada Bu Ratih yang berpikiran sama dengannya.


Walaupun kenyataannya pikiran Andre masih membuat dia harus mengingat dengan jelas bagaimana kehadiran sosok setan itu membuatnya sial, bahkan bisa membuatnya celaka dengan sebab apapun yang tiba-tiba datang.


"Yasudah Bu kita lanjut lagi ya!" Pak Dean langsung mengatakan keputusannya dengan mudah setelah diminta langsung oleh Bu Ratih.


Tidak ada lagi yang bersikukuh untuk tetap mendatangi tempat yang mereka katakan itu adalah rumah, entah mengapa Andre tak bisa membayangkan apa yang membuat mereka bisa melihat sesuatu yang berbeda.


Setidaknya hal baik selalu terjadi seperti keberuntungan meski awalnya Andre harus tidak tenang.

__ADS_1


Sekarang sosok perempuan itu sudah menghilang lagi entah kemana. Andre masih melihat ke satu sisi dimana sosok setan itu muncul, entah sosok itu roh baik atau sebaliknya, tapi berdasarkan pengalaman Andre tidak mendapatkan apapun yang baik. Saat Andre berbalik, tepat di sampingnya adalah Bu Ratih, entah mengapa sekilas melihat Bu Ratih ke satu sisi yang sama seperti yang Andre lihat tadi tentang setan itu, Andre langsung berpikir jika Bu Ratih juga bisa melihatnya.


"Nak Andre." Tiba-tiba Bu Ratih langsung berbalik dan menyapa. Andre cukup terperanjat dibuatnya, dia tidak berpikir jika Bu Ratih bisa memergoki tingkahnya.


"Kok Nak Andre seperti yang kaget saja, kenapa lihat ibu? Apa ada yang aneh?" Bu Ratih bertanya lagi.


Andre menunduk dan cukup salah tingkah saat mendapatkan sebuah pertanyaan dari Bu Ratih. Jelasnya Andre sudah melakukan sesuatu yang membuat Bu Ratih tidak nyaman. "Maaf Bu!" Ucap Andre terburu-buru.


"Eh kok malah minta maaf. Gak apa-apa kok Nak Andre jangan jadi sungkan gitu kan Ibu jadi bingung." Jawab Bu Ratih.


Andre mengangkat wajahnya kemudian tersenyum melebarkan bibirnya, setidaknya dia harus berusaha agar suasananya tidak canggung.


Bu Ratih langsung tersenyum membalas senyuman Andre. Tanpa bermaksud lain, Bu Ratih langsung kembali memastikan Sani yang saat itu masih pingsan. Tapi pandangannya mendapatkan sesuatu yang berbeda dan sangat membuat nalarnya gentar karena ngeri. Tepat dari arah spion mobil Bu Ratih melihat jika di belakang jalan yang tadinya di sana adalah rumah yang sudah dilihat Bu Ratih, namun kali ini Bu Ratih tidak melihat penampakan rumah yang dimaksudkan, melainkan hanya sebuah pepohonan yang berbaris.


Seperti yang dikatakan Andre tadi, di sana adalah pohon dan tidak ada rumah. Seketika Bu Ratih langsung merasakan aura yang membuat jantungnya berdegup lebih kencang karena perasaannya semakin tidak tenang.


"Bu kayaknya Sani gak apa-apa kan?" Andre bertanya di tengah-tengah perasaan Bu Ratih yang tak menentu.


"Gak kok, dia baik-baik saja." Ucap Bu Ratih dengan nada gemetar.


Andre langsung memperhatikan ke arah Bu Ratih yang sudah kembali duduk dengan posisi tegak. Entah mengapa Andre merasa jika Bu Ratih seperti takut.


Meskipun Andre mulai bertanya-tanya tapi dia tidak berani sedikitpun bertanya, dia hanya bisa berharap Bu Ratih akan baik-baik saja termasuk semua orag juga.

__ADS_1


Pandangan Andre kembali beredar ke arah depan, dia melihat Pak Dean yang sudah bersikap biasanya lagi tenang dan tetap fokus. Istri Pak Dean juga tampak akan tidur lagi, tidak apa-apa dia akan berbicara dengan Pak Dean, apapun itu dia akan mengobrol agar suasana tidak sebening tadi.


__ADS_2