Dunia Mu

Dunia Mu
Keributan


__ADS_3

"Oh ya Nak Andre tentang ucapan bapak tadi bisa ya kalau temannya cepat dibawa ke tempat lain saja jangan di rumah sakit itu, bapak yakin rumah sakit itu ada sesuatu yang tidak beres bapak gak mau pengalaman Bapak dan keluarga terulang oleh orang lain." Perkataan Pak Tarman di tengah hangatnya suasana sarapan pagi berubah menjadi obrolan renyah dengan antusias yang lainnya ikut mendukung dan sangat mendukung Andre.


Andre tidak tahu harus mengatakan apa selain biaya dia juga belum bisa menemukan keluarga Sani. Masalah sebesar itu tidak bisa dia beberkan di hadapan mereka semua, Andre hanya harus mencari jalan keluarnya sendiri.


"Nak Andre sudah menginap saja di sini jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri. Nanti kalau sudah ke rumah sakit itu pulang nya ke sini lagi ya!" Seru lagi pak Tarman.


Andre bahkan tidak bisa menikmati enaknya goreng pisang yang hangat saat itu, pikirannya keburu kalut.


"Udah Tarmin biarkan Nak Andre menghabiskan sarapannya nanti dia ke rumah sakit akan mengurus semuanya kan?" Ucap Bapak-Bapak yang satunya lagi dan terlihat lebih sepuh dari pak Tarmin.


"Nak Andre Bapak antar saja ya ke rumah sakit?" Tanyanya.


Andre langsung kesulitan untuk menelan makanannya sampai tersedak, dia sangat kaget dan tak menyangka keadaannya akan seperti itu. Apalagi pertanyaan yang sangat Andre hindari kali ini terdengar jelas.


"Mas ini diminum dulu." Tri yang berdiri dekat dengan Andre langsung menyodorkan air minum.


Beberapa saat hingga akhirnya Andre mulai bisa bersuara lagi.


"Saya akan ke rumah sakit sekarang terimakasih semuanya nanti saya kembali ke sini." Ucap Andre terburu-buru.


"Mas dihabiskan dulu makanannya." Timpal Tri.


Tapi Andre menolaknya dan berterimakasih. Dia beralasan untuk segera pergi menjenguk Sani.


Saat berjalan keluar akhirnya dia bisa bernapas lega, setidaknya tidak akan ada orang yang banyak bicara dan ikut campur dengan masalah besarnya. Andre harus menemukan keluarga Sani dulu bagaimana pun caranya, meski satu-satunya jalan saat itu hanya dengan bertanya kepada keluarga Ira. Memikirkan solusi yang baru saja melintas di otaknya Andre hanya menggelengkan kepala dengan gelisah, dia tidak mungkin menemui keluarga Ira bahkan untuk meminta maaf dan menjelaskannya belum membuat keberanian yang besar.

__ADS_1


Andre bingung sekarang dia sudah menghadapi masalah yang sangat besar. Sebagian besar pikirannya mulai dipengaruhi oleh kata-kata dari orang-orang tadi, tentang RSJ itu mungkin Andre hanya satu-satunya orang yang tidak tahu. Apa Andre harus mempercayainya dan segera mengeluarkan Sani? Bagaimana caranya?


Andre sudah melihat dengan jelas dari kejauhan gedung rumah sakit yang akan dia tuju saat itu. Hatinya semakin gelisah, dia hanya berharap Sani sembuh dan baik-baik saja. Seperti yang dikatakan dokter jika Sani tidak gila.


Seketika Andre menghentikan kakinya, teringat dengan dokter yang waktu itu. Mungkin melalui dokter itu Andre bisa meminta tolong dan mengeluarkan Sani, bukankah karena dokter itu juga Andre bisa memiliki keyakinan jika Sani tidak mengalami gangguan jiwa.


Andre segera bergegas mempercepat langkah kakinya hingga dari kejauhan lagi dia masih melihat sosok wanita yang sama dan wanita itu berlari ke dalam rumah sakit.


Dengan tidak berpikir lagi Andre segera berlari ke dalam rumah sakit, rasa penasarannya sekarang sejalan dengan tujuannya untuk pergi ke dalam rumah sakit itu.


Hingga saat kakinya sudah berada di teras rumah sakit dia menyaksikan para petugas yang sangat sibuk, orang-ornag berlari ke sana kemari seperti panik. Hingga suara teriakan membuat Andre membulatkan matanya.


Andre segera pergi ingin tahu apa yang sudah terjadi.


Di dalam ruangan Andre mengedarkan penglihatannya kemana pun, tapi dia tidak mendapatkan satu orang pun yang bisa ditanya karena semua sibuk dan cemas. Andre mencari lagi sebenarnya suara tadi berasal dari ruangan mana?


Dari arah yang Anis lalui menyadarkan Andre sesuatu, bukankah arah jalan itu menuju ke ruangan Sani juga? Dia tidak ingin banyak berpikir lagi dan langsung berlari mencari Anis kemanapun. Dimulai ke ruangan perawat, mengintip ke setiap kaca pintu, dan menyusuri lorong rumah sakit. Anis masih juga tidak ditemukan. Mata Andre teralihkan dengan sebuah pintu yang bertulisan angka 105 seharusnya pintu ruangan Sani juga dekat di sana. Dia bergegas pergi.


Napasnya terengah-engah seperti baru saja menyudahi lari maraton. Andre terdiam sejenak menarik napas.


"Setan... Setan..." Teriakkan yang sama. Andre membulatkan mata setelah mendengarkan teriakkan yang sama seperti tadi. Dia perlahan berjalan dan melihat pintu di ruangan Sani terbuka.


Betapa hatinya langsung tak berdaya melihat Sani yang ketakutan dan berusaha melepaskan diri dari pegangan petugas.


Andre berusaha ingin masuk, saat berada di ambang pintu langkahnya dihadang dia diberi peringatan untuk tidak masuk ke dalam oleh dua orang petugas. Andre merasa kesal karena seharusnya dia diperbolehkan masuk.

__ADS_1


Dari arah luar Andre memberanikan diri langsung meneriaki dokter yang menangani di dalam, dia tahu itu adalah dokter yang sama.


Seharusnya untuk beberapa teriakkan sudah cukup membuat dokter itu sadar dengan kedatangannya, tapi Andre merasakan sesuatu yang berbeda lagi. Bahkan dokter itu tak menoleh dan malah terus menenangkan Sani.


Pintu pun ditutup rapat. Andre sangat tidak tenang menunggu di luar. Teriakkan Sani sudah berhenti tapi tidak ada satupun petugas yang keluar.


Tanpa harus memiliki alasan Andre menunggu kabar Sani di luar pintu. Dia penasaran apa yang dilakukan orang-orang di dalam sana mengapa mereka membuat semuanya tertutup.


Tak lama saat berpikir jantung Andre kembali dipacu dengan paksa. Dia melihat seorang pasien yang berjalan ke arahnya, dan yang paling membuat Andre ketakutan saat pasien itu memegang sebuah pisau.


Andre sampai melotot melihatnya, dengan hati-hati dan gerakan perlahan Andre mundur. Kedua pasang matanya tak lepas memperhatikan sorot mata perempuan itu. Yang membuat Andre cemas karena warna merah seperti noda darah dalam balutan pakaian yang dipakai wanita itu.


Satu hal yang dipikirkan Andre, dia tidak ingin jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti wanita itu mulai menyerangnya.


Andre terus bergerak mundur teratur, wanita itu masih menatapnya penuh amarah.


Saat sudah menjauh tanpa diduga wanita itu terus berteriak dan mencakar pintu dengan pisau yang dia pegang. Pintu dimana di dalam sana ada Sani, petugas, dan dokter. Dia mengamuk tak bisa dihentikan bahkan berhasil membuat kaca pintu pecah oleh tangan kosong yang ia gunakan untuk memecahkannya. Andre terus memandanginya dengan seram, dia tidak mengerti jika wanita itu adalah pasien juga mengapa bisa datang dan menuju ke kamar Sani.


Selang beberapa menit muncul seorang petugas yang membawa sebuah tongkat. Andre sampai membuka mulutnya tak percaya, mengapa para petugas itu membawa tongkat pukul?


Duaag...


Suara benturan benda tumpul.


Darah segar mengalir melalui kepala.

__ADS_1


Satu orang petugas yang menghantam kepala wanita itu dengan senjata yang dia pegang, tak lama petugas lain datang dan langsung mengevakuasi tubuhnya.


Andre mematung tak berbicara sedikitpun, dia yang menyaksikan semua kejadian tidak bisa berkata-kata. Andre tidak paham apa yang sedang terjadi di rumah sakit ini?


__ADS_2