
Flashback Andre
"Ibu. Kok Ayah gak pulang lagi ya?" Tanya Andre ketika duduk di meja makan.
Bukan sebuah jawaban yang didapatkannya tapi gelas plastik yang terlempar ke arahnya.
Pandangan Andre langsung menatap Ibunya yang terlihat menakutkan. Andre lupa dia seharusnya tidak menanyakan tentang Ayahnya. Ibu pasti marah karena dia selalu menanyakan Ayahnya.
"Andre makan saja ya." Ucap Neneknya yang saat itu tepat duduk di samping Andre.
Andre masih kecil tapi dia akan terus mengingat pertengkaran Ayah dan Ibunya. Pertengkaran yang terus menghantui dalam tidur lelapnya. Bagi Andre itu adalah mimpi buruk, karena dia tidak ingin keluarganya menjadi tidak sebahagia dulu, Ibu marah-marah, Ayah jarang pulang, dan sekarang dia melihat Ibu yang sudah berubah.
"Andre sudah Nek makannya." Ucap Andre terlihat sedih sambil turun dari kursi dan meninggalkan meja makan.
Tidak ada yang tahu seberapa besar hatinya terluka saat ini. Dia hanya rindu keluarganya seperti dulu, dan Ibu yang baik lagi tidak marah-marah.
"Susan sudah cukup Nak! Dia anakmu kenapa kamu? Apa kamu tidak sadar lagi?" Teriak Neneknya terdengar dari dalam kamar.
Andre sedikit merasa terkejut dan jantungnya tak berhenti berdetak dengan kencang saat mendengar teriakkan Neneknya dari luar. Tapi dia tahu mungkin Neneknya berusaha lagi mencegah Ibu untuk menyiksanya karena tindakan Andre tadi.
Mengingat kesalahannya itu membuat Andre meraih kunci dan mengunci pintu kamar dari dalam dengan sangat ketakutan.
"Susan sadar! SUSAN!" Teriakkan lagi.
Andre tidak tahan, tapi dia tidak bisa apa-apa selain mengurung diri.
"Buka pintunya Andre! Kamu mau ya seperti Ayahmu? Jadi lelaki yang tidak menghargai Istrinya? Kamu senang kalau Ayah kamu itu menikah lagi? Kamu itu harus dididik." Ocehan Ibunya terdengar sangat marah.
__ADS_1
Andre tidak tahu sekarang apa yang bisa dilakukannya selain terus menahan pintu sambil menahan tangis.
"Kamu pasti jika sudah besarnya akan seperti Ayahmu, kamu itu anaknya!" Teriak Ibunya semakin membuat hati Andre sakit. Andre langsung menangis dari dalam kamar.
Apa yang harus disalahkan darinya? Bagi Andre yang tidak tahu menahu apapun.
Bagi seorang wanita dengan kekuatan yang terbatas tidak cukup bisa mendobrak pintu yang terkunci dari dalam.
"Sudah melawan ya kamu Andre! Mau jadi apa kamu?" Teriak Ibunya merasa tidak puas karena dia gagal untuk melampiaskan kemarahannya pada Andre.
"Susan, jaga ucapan mu itu! Dia itu anak kamu jangan membuatnya harus menerima semua kesalahan Ayahnya.!" Terdengar suara Nenek dari arah luar yang tidak berhenti menceramahi Susan, berharap jika anaknya itu bisa mengerti dan sadar dengan kesalahannya.
"Kamu dengar itu? Sekarang puas ya ada orang yang membela? PUAS?" Teriak Ibunya terdengar semakin nanar. Lalu dibantingnya sepatu ke arah pintu dan berlalu meninggalkan Andre yang terkunci di dalam kamar.
Andre mendengar setiap kemarahan dari Ibunya sendiri, yang dilakukannya hanya bisa menutup telinga dan perasaan takut yang terus menghantui tentang Ibunya.
"Nenek tahu Ibu itu sangat sedih sebenarnya. Tidak ada yang tahu kesedihan dan penderitaan Ibu mu selain dirinya sendiri. Karena itu Ibu mu menjadi marah-marah. Andre tahu ya, tidak ada seorang Ibu di dunia yang tidak mencintai anaknya. Mental Ibu hanya sedang sakit dia sebenarnya yang paling membutuhkan kita." Ucap Nenek nya meyakinkan Andre tentang semua perasaan Ibunya.
"Ibu jahat. Ibu selalu mukul Andre. Ibu tidak puas membuat Andre ketakutan." Timpal Andre terdengar sangat kecewa.
"Ibu hanya tidak ingin kamu menjadi seorang anak yang kelak jika dewasa akan seperti Ayah mu." Jawab Nenek nya.
Andre tidak menjawab, namun Isak tangisnya bisa didengar begitu jelas.
"Kamu pasti sudah mendengarnya. Ayahmu sudah menikah lagi tanpa sepengetahuan Ibu, termasuk Nenek dan kamu sebagai Anaknya. Bagaimana rasanya kamu pasti kecewa kan? Ibu mu bisa lebih merasakan sakit dari hati yang kamu rasakan." Jelas Neneknya memberi pengertian kepada Andre yang baru berusia 9 tahun, entah pengertian itu akan berhasil atau tidak dimengerti oleh Andre.
Tiba-tiba pintu terbuka. Andre yang terlihat sudah menangis memeluk Neneknya dengan erat, berharap dia tidak merasa kecewa, kesal, dan sedih lagi tentang Ibunya.
__ADS_1
"Ayah jahat Nek, kok nikah lagi? Andre gak tau ada Ibu baru. Andre kan gak mau punya Ibu baru." Ucap Andre dengan polosnya.
Tangisannya pecah dan semua beban di dada Andre sebagai anak yang baru berusia 9 tahun dikeluarkannya dengan berbicara kepada Nenek yang sudah mengurusnya dari kecil.
Hingga setelah kejadian itu berlalu dan hari sudah berganti. Ayahnya tiba-tiba pulang tanpa disambut Ibu. Kebetulan Ibu tidak ada di rumah.
Dari percakapan Ayah dan Nenek Andre mendengar jika Ayah ingin membawa seorang Anaknya. Anak lain dari perempuan lain, karena istrinya meninggal dunia.
Mendengar sebuah kenyataan itu membuat Andre langsung mematung tidak percaya. Baginya yang masih berusia 9 tahun sudah cukup mengerti sedikit apa yang dikatakan Ibu setiap kali Ibunya marah dan memakinya, dan perkataan Ayah yang didengarnya sekarang. Jadi Ayah memang sudah menikah lagi dan dia sudah mempunyai Anak. Jadi Andre mempunyai seorang Adik lain.
Nenek terdengar mengeluh, dia sendiri tidak setuju mengingat seberapa besar Anaknya akan kecewa termasuk Andre. Dia tidak ingin cucunya, Andre menyaksikan sendiri kesalahan yang sudah diperbuat oleh Ayahnya. Dia tidak ingin jika mental cucunya tertekan karena masalah orang tua yang egois.
"Mau apa kamu ke sini?" Terdengar suara Ibu yang membuat Andre semakin penasaran.
"Susan, Anakku sekarang sebatang kara, Ibunya sudah meninggal." Ucap Ayahnya.
"Itu hukuman kalian, dan jangan berharap aku dan Andre mau terima anak dari simpanan mu itu ya!" Jawab Susan Ibunya Andre.
"Sekarang kamu pergi, aku sudah bisa cari uang sendiri!" Bentak Susan mengusir Suaminya.
"Susan aku mohon, terima anakku itu!" Ucap Suaminya yang bagi Susan sangat tidak pantas dan sudah terlalu lancang mengatakan itu semua di hadapannya sendiri sebagai satu-satunya istri sah.
"Kamu gak tahu malu ya, aku gak butuh kamu lagi. Jangan sebut anak itu di hadapanku. Dan mulai sekarang aku tidak ingin menjadi istrimu lagi!" Ancam Susan yang langsung membuat Suaminya mematung tidak berdaya.
Terdengar sangat lancang memang, tapi apa yang bisa dilakukannya lagi. Untuk mengurus anak rasanya dia tidak mungkin, selain pekerjaan apalagi?
Tatapan Suaminya langsung berubah menjadi dingin, hatinya sangat sakit karena Susan tidak pernah ingin menolongnya padahal selama dia menjadi Suami dia sudah berusaha memberikan yang terbaik, semua uang, fasilitas, dia penuhi selama pekerjaannya lancar dan membuahkan hasil.
__ADS_1
Suaminya berlalu meninggalkan Susan dan Anaknya Andre tinggal di rumah Ibu mertua yang bukan mertuanya lagi. Dia tidak ingin terus memohon jika tidak bisa dikabulkan sebagai permohonan untuk anak kecil yang juga adalah anaknya.