Dunia Mu

Dunia Mu
Bu Ratih dan cerita Pak Ustadz


__ADS_3

"Syukurlah Neng Sani dan Nak Andre sudah sadar lagi." Ucap Bu Ratih senang.


"Bagaimana ya saya mengucapkan terimakasih kepada Bapak yang sudah memberikan bantuan. Mungkin ini tak seberapa tapi tolong diterima." Sedangkan Pak Dean sedang mengobrol dengan orang yang baru saja membantu Sani dan Andre.


"Jangan seperti itu, Pak. Berterima kasih saja pada sang kuasa, saya hanya perantara saja." Jawabnya membuat Pak Dean tidak bisa berkata-kata lagi. "Oh ya, Bu Ratih bisa ikut saya sebentar kan?" Ucapan orang itu terdengar samar oleh Andre, membuat Andre penasaran.


"Silahkan saja Pak akan saya bantu sampaikan!" Jawab Pak Dean yang tidak menunda waktu lagi langsung menghampiri Bu Ratih yang sedang menemani Sani.


Bu Ratih terlihat begitu canggung saat Pak Ustadz tiba-tiba memanggilnya karena sesuatu. Dan yang membuat Andre lebih penasaran karena Bu Ratih diminta untuk berbicara 4 mata saja.


Tak ada yang curiga, selain Andre dan juga Sani. Andre memandangi Sani, di matanya mungkinkah Sani juga mengalami hal yang sama seperti yang dia alami di alam bawah sadarnya? Entahlah, tapi untuk saat ini Andre belum bisa bertanya pada Sani apalagi dia tidak akan berani membahasnya di depan Pak Dean maupun Bu Ratih.


"Eh rupanya semua ngumpul di sini." Istri Pak Dean baru saja datang dengan beberapa kantong plastik yang dia bawa.


"Syukurlah Nak Andre dan Neng Sani sudah siuman, Ibu sengaja pergi ke depan mencari makanan." Ucapnya beralasan.


"Pak, Ibu Ratih sama siapa?" Tanyanya lagi pada Pak Dean.


"Oh, itu Pak ustadz yang menolong Andre dan Sani, tapi sepertinya beliau ada urusan dengan Bu Ratih." Terang Pak Dean.


"Oh jadi sampai manggil ustad ya tadi?" Komentarnya tak percaya.


Tak lama Bu Ratih langsung masuk lagi ke dalam ruangan. Saat Andre menatap matanya Bu Ratih langsung menghindarinya, tapi sepertinya bukan untuknya saja karena Bu Ratih menghindari langsung tatapan orang-orang. Andre tak berharap karena melihat pemandangan itu hatinya menjadi yakin tentang mimpinya tadi.


"Saya sepertinya mau pergi dulu." Ucap Bu Ratih tiba-tiba.


"Loh pergi kemana Bu?" Pak Dean cukup terkejut mendengarnya.


"Sepertinya ada urusan Pak, saya tidak bisa meninggalkannya." Ucap Bu Ratih tampak canggung dan gugup.

__ADS_1


"Saya antar saja ya, Bu!" Pak Dean langsung menawarkan untuk mengantar Bu Ratih.


"Tidka perlu Pak." Bu Ratih langsung menolaknya dengan tatapan yang bingung. "Maksud saya terimakasih, tapi lebih baik Bapak dan yang lainnya mengantar Neng Sani dulu untuk sampai ke rumah, saya masih bisa naik kendaraan umum." Kilah Bu Ratih yang tentu saja dia sangat enggan untuk diantar, selain itu mungkin alasan Bu Ratih karena dia tidak ingin Pak Dean atau yang lainnya sampai tahu.


"Loh Bu, gak apa-apa padahal kita antar saja dulu apalagi kalau itu dekat kan." Timpal istrinya Pak Dean.


"Tidak Bu, biar saya pergi sendiri. Saya langsung pamit ya." Bu Ratih masih kekeh dengan pilihannya, apa boleh buat Pak Dean tidak mungkin memaksakan diri.


Sekilas Bu Ratih tampak menoleh ke arah Andre, tapi dia tidak mengatakan apapun karena cukup terburu-buru pergi entah kemana dengan alasan yang tidak bisa dipahami oleh semua orang.


"Mau bagaimana lagi, Pak! Biarkan saja semoga Bu Ratih baik-baik saja." Ucap istrinya berharap tidak ada yang merasa bersalah karena pilihan Bu Ratih.


"Lebih baik semuanya makan dulu, Ibu sudah menyiapkannya." Ucapnya berharap semua orang bisa langsung untuk menikmati makanan yang dibawa Istrinya Pak Dean.


"Aku mau keluar sebentar." Ucap Sani yang tiba-tiba membuat Andre langsung melihatnya cemas.


"Biar saya yang antar, jangan sendirian!" Ucap Andre.


"Ia, Neng Sani istirahat dulu, kalau mau apa-apa biar Ibu yang ambil atau belikan. Neng Sani kan baru juga pulih." Timpal istrinya Pak Dewan menambahkan.


"Sani pergi keluar sebentar Pak, Sani sedikit kurang nyaman di dalam ruangan rumah sakit seperti ini." Ucap Sani jujur.


"Saya yang antar ya, Bapak sama Ibu jangan khawatir pasti Sani juga hanya sebentar saja kan?" Timpal Andre.


"Baiklah, hati-hati dan jangan jauh ya! Bapak sama Ibu mau beres-beres sepertinya kita bisa langsung keluar dari rumah sakit ini." Terang Pak Dean.


"Baik Pak! Hanya sebentar saja." Ucap Sani.


Andre mengikuti langkah Sani dari belakang. Entah mengapa Sani tiba-tiba membuat Andre cemas saja.

__ADS_1


"Heh, gak apa-apa kan?" Ucap Andre yang lebih dulu mengajak bicara.


"Udah baikan." Jawab Sani singkat. Sani benar-benar ingin keluar dari rumah sakit karena dari arah berjalannya dia memang menuju pintu untuk keluar.


"Jangan jauh-jauh!" Ucap Andre.


"Ia!" Jawab Sani tiba-tiba sedikit kesal.


Andre diam lagi dan kali ini dia tidak ingin banyak bicara.


"Mau ngikutin sampai masuk ke toilet?" Tanya Sani. Saat menggerakkan matanya Andre melihat sebuah tulisan toilet perempuan, dia segera mundur dan langsung bersiap menunggu di luar saja.


Sani sudah masuk ke dalam, tapi entah mengapa perasaan Andre selalu cemas pada Sani, setelah kejadian yang sudah banyak dilalui rasanya bagi Andre yang sedikit mulai dekat dan mengerti tentang Sani, semua karena ketidaksengajaan yang membuat mereka masih bersama.


"Aku mau menunggu di luar, kamu bantu Pak Dean aja!" Ucapnya.


Andre langsung tidak setuju, tentu saja dia keberatan.


"Tolong, aku mau sendiri dulu!" Ucap Sani yang tampak memang tidak begitu nyaman jika terus diikuti.


"Baiklah." Jawab Andre singkat. Meskipun berat hati tapi tidak mungkin dia membuat Sani terbebani karena dirinya.


Andre sudah berlalu pergi sesuai permintaan Sani.


Untuk kesekian kalinya lagi Sani merasa tidak begitu tenang dan dia juga tidak mengerti kadang perasaan itu datang padanya.


Sani tidak pergi keluar seperti yang dikatakan dia tadi, dia memilih duduk di kursi tunggu sambil menunggu Pak Dean dan yang lainnya datang.


Saat berbalik dan melihat orang-orang mengantri untuk mendaftar, awalnya sangat tenang hingga Sani melihat sesuatu yang membuat dia melotot tak percaya.

__ADS_1


"Ayah!" Ucap Sani.


Meskipun dia memang sudah yakin melihat Ayahnya tapi Sani masih tak pergi beranjak sedikitpun, Sani tak berharap akan menemui Ayahnya dengan seorang perempuan entah siapa. Seketika perasaan Sani semakin kesal, dia langsung berdiri dan berjalan ke luar rumah sakit.


__ADS_2