Dunia Mu

Dunia Mu
Ternyata?


__ADS_3

"Mas? Masih ada?" Tanya perawat itu.


Andre kaget dia sudah melamun lagi. "Maaf mbak maaf, jadi seperti itu ya. Saya kira saudara saya benar akan keluar sore ini." Andre sedikit kecewa. "Terimakasih mbak untuk informasinya dan sudah mau mendengarkan saya." Sambung Andre seperti akan menutup telpon.


"Tunggu Mas!" Cegah perawat itu. "Saya akan coba bertanya pada staf yang lain. Saya janji akan mengabarinya Mas lewat Wa. Gak apa-apa Mas kalau nunggu?" Andre menangkap maksud dari perawat yang akan mengusahakan permintaannya.


"Maaf sekali sudah merepotkan Mbak, saya jadi tidak enak seperti ini." Ucap Andre.


"Tidak apa-apa Mas, pokoknya Mas tunggu aja kabar selanjutnya ya!" Sarannya. "Mas saya tutup dulu, sepertinya ada yang manggil saya dari tadi." Beruntung perawat itu akan menyudahi telpon dengan sendirinya.


"Silahkan Mbak. Saya tutup telponnya." Pamit Andre.


"Anis." Batin Andre saat kembali memastikan Anis sudah tidak ada di tempat tadi. Andre sedikit menyesal karena sudah terlalu lama berbicara sehingga Anis tidak terlihat. Dia sedikit bingung dan merasa jika ada sesuatu yang ingin Anis bicarakan atau ingin dia tunjukkan entah apa. Apa harus mencari Anis? Andre mulai bingung dengan tindakannya saat itu.


Tapi Andre tak bisa menahan lebih lama rasa penasaran yang mengganggu pikirannya. Dia harus mencari Anis meski itu terdengar tidak mungkin. Bagaimanapun caranya Andre harus memastikan, dia juga melihat ke arah jam tangan yang masih menunjukkan beberapa jam lagi menuju sore, setidaknya cukup waktu satu jam yang bisa dia gunakan untuk pergi keluar dan setelah itu cepat kembali ke rumah sebelum Pak Tarman mencarinya.


Andre berbalik dan langsung terkejut saat mendapati Pak Rais yang berdiri di belakangnya dan menatapnya tajam. Sekarang dia tahu bagaimana rasanya kaget seperti ditangkap basah karena sudah berbohong itu.

__ADS_1


Andre masih tercengang sampai tidak bisa mengatakan satu katapun. Satu hal yang dia pikirkan, Pak Rais pasti menguping pembicaraannya di telpon.


"Maaf Pak!" Ucap Andre yang ketar-ketir menahan canggung dan takut. Takutnya jika Pak Rais sudah menangkap inti dari pembicaraan dan akan mengadukan kepada Pak Tarman jika dia sudah meragukannya.


"Bagaimana ini?" Batin Andre saat melihat gelagat Pak Rais yang masih diam tidak langsung menjawabnya.


"Jadi rumah sakitnya ditutup? Kenapa gak bilang dari tadi?" Celoteh Pak Rais terlihat sedikit marah. Andre memang tidak bercerita tentang rumah sakit yang ditutup sengaja saat siang tadi.


Andre menganggukkan kepala tanda menjawab Ya. "Saya kira Pak Tarman sudah bercerita Pak." Jawabnya lemah.


"Dia tidak bercerita kalau rumah sakitnya tutup." Ucap Pak Rais yang terdengar masih tidak menurunkan nada bicaranya itu membuat Andre semakin dag-dig-dug tak karuan. "Pasti ada sesuatu yang tidak beres!" Simpulnya yang membuat Andre memutar matanya menatap heran ke arah Pak Rais. "Tentu saja! Mana mungkin kali ini ada pasien yang mau keluar dari rumah sakit sementara rumah sakitnya ditutup." Terang Pak Rais saat menangkap tatapan Andre dengan sangat yakin.


"Sekarang bagaimana Pak? Bagaimana dengan teman saya, saya takut teman saya ada sesuatu di sana." Andre mulai gusar tidak tenang, terus mempertanyakan kekhawatirannya itu.


"Kita akan temui Tarman untuk memastikannya lagi." Ucapnya. "Dan juga perawat yang kau telpon tadi." Sambungnya lagi yang langsung membuat Andre membulatkan matanya. Akhirnya dia harus memilih menemui perawat itu, bagaimana itu?


"Cepat lah, kita ke rumah sekarang!" Pak Rais kembali memperingatkan Andre yang selalu saja melamun. Andre tergesa-gesa mengikuti langkah Pak Rais memasuki rumah.

__ADS_1


Di dalam rumah, De Tri, Pak Tarman, Pak Rais dan Andre. Duduk diam di ruangan tamu. Semuanya memasang wajah serius saat itu. Andre hanya bisa sesekali menatap Pak Tarman yang sangat serius melihat ke arah Pak Rais tanpa berbicara, dia kembali menundukkan wajahnya lagi. Sedangkan Tri terlihat kebingungan mungkin dalam hatinya dia terus bertanya-tanya mengapa sekarang terlibat dalam obrolan ke tiga lelaki yang tetap saja mempermasalahkan RSJ cempaka.


"Jadi sebaiknya kita gimana, Tarman?" Tanya Pak Rais memecah hening.


Pak Tarman terlihat diam dengan wajah dingin, bukan berarti dia tidak bisa menjawab atau memberikan saran, diamnya justru menunjukkan amarahnya yang sedang berusaha dia tahan.


Andre yang sebenarnya mempunyai masalah dalam hal ini karena tentu saja semua masalah itu hanya berhubungan dengan Andre, tapi terbalik karena Pak Tarman, Pak Rais yang lebih mempermasalahkan segalanya tentang rumah sakit itu.


"Tentu saja ini gak beres, Rais. Kita gak bisa diam saja." Keluh Pak Tarman yang terlihat tenang saat mengatakan itu, padahal sekilas Andre melihat emosi yang menggebu terpendam di dalam dirinya.


"Kamu mau gimana Nak Andre?" Tak disangka Pak Rais balik bertanya padanya. Andre hingga terperanjat saat tahu pertanyaan itu untuknya. "Jadi, gimana Pak. Saya cukup bingung." Jawab Andre gugup, bahkan kata-kata nya yang dia ucapkan tidak lancar. Tentu saja hatinya masih gentar melihat ekspresi Pak Tarman.


"Loh, kamu harus lebih tahu. Sekarang yang sedang kamu hadapi adalah masalah besar." Terang Pak Rais membuat Andre terkesiap melihat Pak Rais yang tak kalah antusiasnya. Tapi justru dari sikap semua orang mengundang banyak tanya yang menggebu-gebu di pikiran Andre. Sebenarnya masalah sebesar apa yang pernah keluarga ini hadapi tentang rumah sakit itu? Mereka seperti menyimpan perasaan marah yang sebesar-besarnya, tapi semuanya tertunda hampir seolah menjadi dendam besar.


"Ini seperti kejadian dulu, Rais. Adiknya Tri juga seperti itu kan? Rumah sakit ditutup, tidak bisa dihubungi, kita gak bisa masuk kesana kan? Tapi akhirnya, Sri tewas!" Jelas Pak Tarman dengan nada emosi yang meluap-luap.


Mendengarnya bagaikan ribuan bom hang meledak hancur di hadapan Andre. Beribu alasan hilang untuk bisa khawatir sekarang Andre tidak bisa memerlukan alasan apapun. Dia bisa tahu seberapa hebatnya masalah Sani yang sedang diperdebatkan di ruangan itu. Andre tahu seberapa besar rasa marah pada setiap hari orang-orang yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Kita telpon perawat tadi Pak, sebaiknya sekarang. Tadi juga perawat itu menawarkan diri untuk bertemu." Andre langsung lancar menyarankan ide yang muncul dibenaknya seketika. Logisnya bagi Andre dengan perawat itu dia bisa meminta bantuan untuk mencari tahu.


"Gak ada waktu lagi. Kita gak bisa basa-basi lagi dan nunggu sampai Sani mati di sana." Tolak Pak Tarman dengan sangat yakin dan sudah pasti membuat Andre terkejut dengan pernyataannya.


__ADS_2