
"Kamu sepertinya anak baik." Ucap Bapak pada Andre.
Mendengarnya Andre langsung tersenyum. "Wah Bapak belum tahu saya sudah asal bicaranya." Dengan tersenyum Andre berbicara. Tak lama keakraban terjadi juga diantara keduanya.
"Semoga saja seperti itu, tolong jadi temannya Neng Sani ya! Bisa kan?" Andre langsung merasa aneh.
"Mengapa Bapak berbicara seperti itu? Toh saya sudah jadi asisten Sani." Jawab Andre sedikit sombong, tapi sepertinya dia hanya bercanda saja.
"Wah belagu nih sombong. Mentang-mentang udah jadi kepercayaan tuan rumah." Andre langsung terkekeh mendengarnya padahal dari tadi dia bercanda saja.
"Bapak syirik terus dari tadi." Tak kapoknya Andre masih mempermainkan orang tua.
"Ia lah Bapak nyerah, yang penting Neng Sani aman dan senang." Andre melihat kasih sayang Bapak itu pada Sani. Atau wajar saja seperti itu pada seorang majikan.
"Bapak kayaknya udah lama banget bekerja di sini." Tebak Andre, sebenarnya dia ingin bertanya banyak tapi tidak enak lebih baik Andre mengajak bicara banyak hingga dia menemukan sendiri jawabannya.
"Sejak Neng Sani dalam kandungan sampai lahir dan sampai sekarang, Bapak selalu setia bekerja di rumah ini." Terangnya.
"Ternyata Bapak adalah senior ya." Ucap Andre sambil tertawa. "Bapak sudah lama bekerja dengan keluarga Sani, tapi rumah sebesar ini sayang ya tidak banyak penghuninya. Kalau Andre bisa ketakutan." Lanjutnya lagi.
"Siapa bilang gak ada penghuninya? Banyak." Ucap Bapak itu menjawab pertanyaan Andre. Seketika Andre melihatnya. "Kan ada Bapak, ada pembantu yang lain, ada supir juga " Lanjutnya menjelaskan lagi pada Andre.
Andre tadi sempat berpikir tentang hantu-hantu penghuni rumah.
"Udah belum masaknya? Lama bener!" Protesnya pada Andre.
"Aku udah buat dua porsi spesial untuk Bapak." Ungkap Andre sambil memperlihatkan dua buah piring penuh yang berisi nasi goreng.
__ADS_1
"Bagus!" Pujinya pada Andre.
"Kita harus cepat ke atas lagi kan Pak?" Tanya Andre, sebenarnya dia hanya asal.menebal saja apa yang dipikirkan Bapak itu.
"Betul sekali. Bapak udah gak nyaman dari tadi terus duduk di sini." Sesuai dengan tebakan.
Akhirnya Andre dan Bapak Penjaga bersiap akan naik lagi ke atas, tepatnya ke kamar Andre.
Belum melangkah sampai ke pintu Andre dan Bapak penjaga langsung berhenti kompak, sebuah suara sandal yang beradu dengan lantai terdengar sedang berjalan ke arah atas. Andre yakin jika itu adalah suara langkah seseorang.
Tapi Andre melihat tingkah Bapak penjaga yang tidak menunjukkan sesuatu yang membuatnya terkejut. "Diam terus, cepet kita naik!" Ajaknya pada Andre.
Padahal suaranya masih jelas terdengar tapi Andre melihat jika suara itu bisa saja tidak terdengar orang lain selain dirinya saja.
Kali ini Bapak penjaga yang berjalan lebih dulu DNA Andre mengikutinya dari belakang.
Hingga Andre benar-benar sudah melewati pintu, matanya langsung melihat ke arah tangga telat sumber suara tadi yang terdengar. Namun Andre kembali tertegun sangat kaget, Andre melihat seorang yang berbadan lelaki dengan satu kaki dan ngerinya tanpa kepala berdiri tepat di depan pintu kamarnya.
Dengan perasaan yang semakin tak tenang tapi dia masih berusaha bersikap sebagai manusia normal, sama seperti Bapak penjaga itu. Tetap berjalan tenang dan tidak boleh takut, hanya seperti itu kan syaratnya?
Dan jaraknya dengan hantu itu sudah tidak jauh lagi, anehnya Andre mulai mencium bau amis atau bau bangkai yang jika lama kelamaan bisa langsung mengeluarkan isi perutnya. Sambil menahan napas Andre berjalan setengah berlari bahkan mendahului Bapak penjaga.
"Eh itu anak gak ada sopan-sopannya. Kebelet mungkin?" Gerutu Bapak itu ketika Andre melewatinya tanpa mengatakan sesuatu. Yang dilakukan Andre sebenarnya adalah menahan napas. Dia tidak tahan dengan bau amis yang membuat perut nya mual.
Bapak penjaga langsung menutup pintu lagi dan sosok hantu tadi bersama baunya kini tidak tercium.
"Ketakutan kamu?" Ketus Bapak itu membuat Andre langsung menoleh kaget. "Kebelet?" Lanjutnya lagi.
__ADS_1
Andre tersenyum dan pura-pura masuk ke dalam kamar mandi.
Entah apa hantu tadi semoga saja tidak sampai ke dalam kamarnya, Andre terlalu capek melihat sosok mereka yang gentayangan dimana-mana. Kehadiran mereka yang membuat Andre jantungan, karena sampai sekarang Andre belum bisa membuang rasa takut itu. Hanya pepatah dari Neneknya agar dia berusaha tidak ketakutan agar tidak terlihat okeh mereka yang diyakini Andree hingga dia berhasil membuat dirinya berani. Seterusnya seperti itu.
Tak lama Andre sudah keluar lagi dari dalam WC. Dia melihat Bapak Penjaga yang sudah menyantap nasi goreng buatannya.
"Bapak makan duluan, lapar. Buat Bapak kan?" Ucapnya.
Andre tersenyum. "Pokoknya harus dihabiskan Pak!" Ucap Andre senang.
"Kamu punya Nenek?" Untuk pertama kalinya Andre mendapatkan pertanyaan sampai dia harus beberapa saat mencerna pertanyaan itu.
Andre menganggukkan kepala. "Nenek ku ada di desa, aku merantau ke kota sendirian." Terang Andre.
"Syukurlah kau sendirian." Ucap Bapak Itu yang tidak dilanjutkannya dan membuat Andre. bertanya-tanya, apa maksud sebenarnya dari pertanyaan Bapak-Bapak itu.
"Nama Bapak Karim. Jika ada apa-apa sama Neng Sani kamu harus beri tahu Bapak ya." Ucapnya lagi.
Dari tadi yang didengarkan Andre adalah sepenuhnya tentang Sani, jika dikatakan Bapak Karim hanya penjaga rumah salah satu pegawai di sini itu cukup kurang, sikapnya berlebihan hanya sekedar penjaga rumah. Terkesan jika Pak Karim lebih cocok sebagai saudara Sani.
"Kamu banyak mikir. Setiap Bapak bicara pasti mikir dulu." Andre ketahuan setelah mendengarnya dia langsung menundukkan kepala.
"Bapak baik sekali sama Sani, aku kira Bapak ini adalah saudara dari Sani." Andre berbicara sesuai dengan yang dia pikirkan, tak tertinggal sudut matanya melihat ke arah Pak Karim bagaimana reaksinya setelah Andre berbicara seperti itu.
"Namanya juga Bapak yang rawat, jagain Neng Sani dari kecil udah kayak anak Bapak sendiri aja. Wajar kan?" Pak Karim memang meluruskan pikiran Andre tentangnya namun tidaklah cukup, naluri Andre tidak terlalu salah dan sekarang nalurinya mengatakan jika Pak Karim adalah saudara dari Sani. Tapi yang membuatnya tak mengerti mengapa Pak Karim menyembunyikan hal itu?
"Makan habiskan! Kamu banyak melamun dari tadi." Tukas Pak Karim mengingatkan Andre untuk segera menghabiskan nasi yang masih menumpuk di atas piring. Sedangkan Pak Karim sudah menghabiskan nasi miliknya dia juga pergi ke arah bak pencucian piring.
__ADS_1
"Besok Bapak bersihkan kulkasnya, sekalian kamarnya seperti harus dibersihkan ulang lagi " Ucap Pak Karim membuat Andre langsung melihatnya.
"Saya bantu Bapak besok ya!" Balas Andre yang berniat untuk menemani Pak Karim beres-beres.