Dunia Mu

Dunia Mu
Di rumah tetangga Pak Dean


__ADS_3

Andre tak begitu berani untuk berbicara banyak. Lagi pula Sani tampak tidak baik-baik saja. Namun tak lama Andre langsung bisa menebak kekhawatiran Sani.


"Di sini kita aman kok. Kamu baik-baik saja pokoknya kita akan baik-baik saja." Ucap Andre meyakinkan Sani beberapa kali.


Bayangkan saja jika dirinya berada pada posisi Sani saat itu, tentu Andre akan mengalami trauma yang sama.


"Kapan kita pulang?" Tanya Sani tiba-tiba mengejutkan Andre.


Bola matanya bergerak dan berusaha meraih tatapan Andre, bahkan kemampuan itu rasanya tidak mungkin bagi Sani. Dari tadi yang dipikirkan Sani hanya tentang kejadian itu saat dirinya tiba-tiba masuk ke kolong mobil besar.


Andre diam membeku mendengar pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya karena dia sendiri tidak tahu kapan dia bisa merasa tenang dan pulang.


Andre hanya menundukkan wajah, jauh dalam hatinya dia sangat merasa bersalah hingga masalah demi masalah menyeret Sani ke dalamnya dengan paksa.


"Aku sebenarnya ingin pulang. Dan semua bukan keinginanku juga." Ucap Andre singkat. "Semoga kita bisa pulang secepatnya, akan aku pastikan." Lanjutnya lagi.


Sani mematung. "Aku ingin pulang besok!" Ucapnya dengan nada gemetar. Tentu saja Sani akan mengatakan hal itu dengan yakin dan Andre tak bisa lagi memberikannya alasan untuk menahannya tetap tinggal.


Kali ini Andre diam saja, dia akan memikirkan caranya nanti, apapun itu dan semoga tak mengecewakan.


Sani tak menangis tapi Andre jelas melihat rasa trauma saat itu.


Hingga beberapa waktu terus berlalu, tapi Sani masih diam saja membuat Andre semakin khawatir.


Detik berlalu suasana masih sunyi, Andre maupun Sani tak mengobrol seperti biasa. Namun seketika Andre khawatir, menatap ke arah Sani yang diam saja.


Semakin lama perasaan Andre semakin panik, firasatnya merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi lagi. Dan tiba-tiba Sani terkulai lemas menundukkan kepala di atas meja. Andre langsung terperanjat melihatnya dengan sigap segera menggerakkan tubuh Sani tapi seperti yang sudah dia bayangkan jika Sani tidak merespon apapun juga.

__ADS_1


Tak menunggu waktu Andre segera berlari memburu pintu tujuannya mencari Ibu pemilik rumah.


"Bu. Ibu dimana?" Teriak Andre panik.


"Kenapa? Kenapa Nak Andre berteriak? Ibu dari tadi duduk di meja makan." Andre langsung membalikan wajah melihat Ibu-ibu tadi yang sedang duduk.


"Sani, Bu!" Ucap Andre yang panik, bahkan kata-kata yang terasa sulit untuk dirangkai dan diucapkannya. Andre sangat panik saat itu.


Beruntung sekali Ibu-ibu cepat tanggap dan merespon perkataan Andre, keduanya langsung berlari ke tempat dimana Andre dan Sani dari tadi diam di sana.


"Astagfirullah. Neng Sani!" Seru ibu-ibu itu sambil berlari menghampiri.


Digerakkan nya tubuh Sani yang masih tidak merespon juga. Sedangkan Andre masih tetap berdiri dan tampak bingung.


"Cepat kita bawa Sani ke kamar sekarang!" Perintahnya pada Andre. Andre tak ragu-ragu langsung mengangkat tubuh Sani dengan kedua tangannya.


Sebuah kamar kosong yang tertata rapih, padahal Ibu itu tinggal sendirian tapi kamar dan setiap sudut rumah selalu terlihat rapih dan bersih.


Saat menidurkan Sani tak sengaja mata Andre menangkap sebuah foto yang dipajang di dinding kamar tepat di atas kasur itu. Dia sedikit penasaran dengan orang-orang yang ada dalam foto, namun Andre tak berniat untuk menanyakan dulu.


"Bisa bantu ambil air hangat dan kayu putih di kotak obat? Semuanya ada di dapur!" Andre mendengarkan sebuah perintah untuknya lagi dan dia segera pergi.


Pintu menuju dapur hanya tinggal melewati satu pintu saja tidak sulit dan mudah diingat oleh Andre.


Namun dari arah pintu yang sedikit terbuka dan baru saja dilewatinya ada sebuah suara yang mengganggu Andre saat itu. Suara tawa anak kecil. Spontan Andre menghentikan langkahnya, tapi kata-kata Ibu pemilik rumah menjelaskan jika dia tinggal sendirian di dalam rumah. Pikiran Andre langsung menyimpulkan dan memberikan jawabannya.


Andre kembali melanjutkan langkahnya yang mulai terhenti tadi, namun sekarang banyak yang berbeda lagi. Di sepanjang dia berjalan dan melewati setiap sudut ruangan Andre merasa banyak orang yang melihatnya, seperti dia sedang berjalan di tengah orang-orang banyak.

__ADS_1


Perasaannya mulai ragu membuat Andre semakin pelan berjalan. Dan langkah kaki yang berlari tepat dari arah di hadapannya membuat Andre langsung mematung lagi terkejut. Perlahan namun pasti, otot jantungnya terasa kembali berdegup kencang karena semakin lama Andre merasa semakin terganggu sekaligus terancam.


Andre segera membuka matanya lebar-lebar. Kali ini bukan saatnya dia merasa takut apalagi mulai terpengaruh oleh mereka, tidak lagi jika dia harus celaka karena ulah mereka.


Keyakinan hatinya yang mulai memaksa Andre untuk tetap berjalan dengan berani, sebenarnya untuk apa juga merasa takut? Karena akhirnya perasaan takut hanya membuat celaka saja.


Andre masih bisa memandu hatinya dan berjalan dengan tertib hingga dia berhasil masuk ke dalam dapur. Kotak obat memang ada di dinding tergantung dan tidak sulit untuk dicari. Dari dalam kotak p3k Andre mencari yang diminta oleh Ibu-ibu tadi sekalian dia akan menuangkan air hangat dari dispenser air.


Tenang sekali awalnya tapi sebesar apapun dia berusaha untuk menampik setiap kedatangan mereka, makhluk tak kasat mata yang bisa dilihatnya dengan kemampuan Andre saat ini.


Ada seseorang yang duduk terdiam, seorang perempuan terlihat sangat sedih berpakaian lusuh di sudut ruangan. Ada juga yang dari tadi terus mengintip dari arah pintu kamar mandi, dan tentu saja seseorang yang sangat besar kini berdiri di hadapan Andre.


Melihat banyaknya penampakan Andre tak bisa menampik jika dia masih merasa jantungan sekali, perasaan gugup membuatnya langsung bingung dan kadang perasaan takut menguasainya tanpa ampun, kadang sangat sulit sekali untuk bernapas tapi apa yang bisa dilakukannya? Keadaan memaksa dia melewati perasaan trauma sepanjang hari dan selama waktu terus berputar.


"Nak Andre!" Sebuah teriakkan terdengar dari ruangan lain. Andre langsung menebak asalnya dan sesegera mungkin dia membawa semua hal yang dibutuhkan.


Andre langsung bingung saat Sani yang masih tertidur di atas kasur tadi sudah terlihat sadar namun keadaannya masih tidak baik, Sani terlihat muntah beberapa kali bahkan bisa dibayangkan ekspresi kesakitan nya saat itu.


Andre menghampiri sambil memberikan air hangat untuk diminum.


"Kenapa ya Neng Sani muntah terus." Keluh Ibu itu yang terdengar oleh Andre.


"San, kamu sakit apa? Apa ada yang sakit?" Tanya Andre memastikan sesuatu karena dari tadi Sani memegangi bagian perutnya.


"Kita bawa ke dokter kayaknya ini, kasihan sekali. Mudah-mudahan ada klinik 24 jam."


Andre sangat panik melihat kondisi Sani, baru pertama kali ini Sani tampak drop.

__ADS_1


__ADS_2