Dunia Mu

Dunia Mu
Telpon dari polisi


__ADS_3

"Minyak anginnya Mbak." Ucap Tri menyodorkan botol minyak angin.


Sani masih diam menahan rasa pusing yang menyiksa.


Drttt....


Getar Hp dan suara dering terdengar memecah suasana saat itu. Spontan semua mata menoleh mencari ke sumber suara, entah hp milik siapa.


Tri bergerak mendekati kantong kecil di atas kursi. "Punya Pak Rais?" Tanya Tri menunjukkan kantong itu.


"Sepertinya punya Nak Andre." Jawab Pak Rais. "Buka saja barangkali penting." Lanjutnya lagi.


Tri menoleh ke arah Sani yang masih diam dan sibuk menggosokkan minyak angin ke pelipis kanan dan kiri bergantian.


"Mbak, ada telpon!" Tri menunjukkan hp yang sudah dia ambil dari kantong kecil.


"Punya dia?" Tanya Sani tidak banyak bicara.


Tri berjalan mendekat.


"Angkat saja! Penting mungkin malam-malam gini nelpon terus." Gumam Sani yang enggan menerima hp dan mengeceknya, padahal Tri dari tadi berharap jika Sani yang akan mengecek hp itu.


Tri melihat nomornya tanpa nama, ragu-ragu dia berpikir dan memberanikan diri menerima telponnya.


"Hallo!" Ucap Tri.


"Dengan saudara Andre?" Tanya dari seberang telpon.


"Andre. Mas Andre nya masih tidur." Kilah Tri karena dia bingung harus mengatakan apa.


"Tolong disampaikan segera hubungi kembali dan datang ke kantor polisi untuk penyelidikan lebih lanjut. Terimakasih."


Tut...Tut...


Suara telpon yang langsung diputus.


Tri mematung mendengarkan kalimat polisi disebutkan. Masalahnya untuk apa Andre menghubungi polisi dan masalah apa yang sedang diselidikinya. Tri langsung merasa takut, kemungkinan yang dia pikirkan adalah tentang masalah di keluarganya ini.


"Siapa yang telpon Tri?" Pak Rais langsung bertanya penasaran.

__ADS_1


Tri hanya bisa membalas tatapan Pak Rais tanpa mengatakan apapun.


"Ada apa ini?" Tanya Pak Tarman yang tiba-tiba keluar dari arah kamar.


Tri langsung terkejut dan hanya bisa menundukkan wajah. Saat pak Tarman datang dia langsung pergi ke arah dapur.


Pak Tarman mematung melihat tingkah aneh Tri saat itu. Dia melihat Pak Rais seolah bertanya alasannya.


"Dia tadi terima sebuah telpon dari hp Nak Andre!" Terang Pak Rais tidak menjelaskan hal lain karena dia juga tidak tahu apa-apa.


Pak Tarman langsung menyusul ke arah Tri yang langsung pergi.


"Kenapa malah kabur?" Pak Tarman menanyai Tri yang sedang duduk di ujung pintu dapur sendirian sambil memegang hp Andre dengan kedua tangannya.


Mata Pak Tarman tertarik dengan hp yang dipegang Tri, dia mendekat dan terus memastikan.


"Ada yang telpon, siapa?" Tanya Pak Tarman penasaran.


"Polisi." Ucap Tri singkat. Pak Tarman langsung tahu rasa takut yang berusaha Tri simpan sendiri.


"Polisi? Untuk apa?" Sontak Pak Tarman semakin penasaran dan langsung mengecek hp itu.


"Hanya sebatas penyelidikan tidak lebih. Dan polisi? Aku tidak memanggil polisi untuk menyelesaikan masalah ini!" Pak Tarman berusaha meyakinkan, meski hatinya bertanya-tanya dan menebak apakah mungkin Andre diam-diam menghubungi polisi?


"Polisi sendiri yang mengatakannya. Tentang sebuah penyelidikan dan Mas Andre harus cepat datang ke kantor polisi." Jawab Tri tak kalah yakin. "Kalian sudah tidak bisa mendengarkan ku!" Tri sangat kesal dan tidak bisa menerima ini dengan mudah.


"Tunggu! Masalah itu aku sudah tahu, mana mungkin aku berani dan nekat menghubungi polisi?" Pak Tarman menahan Tri dengan tangannya, tapi Tri langsung melepaskan tangan itu, menatap Pak Tarman dengan nanar.


"Jangan berbohong!" Ancam Tri yang sedang emosi.


"Terserah! Aku akan tanyakan langsung pada anak itu!" Pak Tarman terlihat bingung dengan emosinya uang sedikit tersulut. Dia bahkan membiarkan Tri yang berlaku menjauh darinya.


"Andre." Gumam Pak Tarman.


Pak Tarman langsung berjalan kembali ke arah kamar, tekadnya untuk mengintrogasi menanyai semua hal tentang polisi yang dihubungi oleh Andre. Rasanya dia sudah dikhianati mengapa Andre harus berbohong dan diam-diam di belakangnya berbuat seperti itu.


"Andre bangun! Andre!" Teriakkan dari arah kamar terdengar langsung oleh Pak Tarman. Segera Pak Tarman mempercepat langkahnya dan melihat Pak Rais di ambang pintu berdiri.


"Ribut apa?" Pak Tarman bertanya tapi tidak dijawab. Tanpa menunggu lagi Pak Tarman langsung mengecek melihat ke arah kamar, wanita yang Andre sebutkan sebagai temannya sedang berusaha membangunkan Andre tapi ada yang aneh dengan hubungan keduanya, terlihat tidak akur karena Anak dengan penuh amarah menggoyangkan tubuh Andre yang tidak langsung bangun.

__ADS_1


"Non! Udah sabar dulu ya biar Bapak yang tangani." Pak Tarman segera menghampiri dan melerai keributan yang dilakukan Sani.


Sani menatap Pak Tarman dan diam.


"Nak Andre!" Panggil Pak Tarman. Tanpa perlu izin Pak Tarman langsung membangunkan Andre.


Beruntung tidak memakan waktu lama karena Andre menunjukkan tanda-tanda akan sadar.


"Udah jangan pura-pura lagi! Cepat bangun, Aku mau pulang! Bangun!" Serang Sani yang tak sabar.


"Sudah, Non! Mending diam saja biar Bapak." Kali keduanya Pak Tarman menengahi.


Tak lama mata Andre terbuka lebar.


Andre menatap bingung kedua orang yang ada di dekatnya saat itu. Pertama yang terlihat adalah Pak Tarman dan Sani. Dia bingung saat merasa ada di sebuah kamar Tri dan mengapa malah tertidur, bukannya tadi yang terbaring di atas kasur adalah Sani?


Andre berusaha bangun meski memang terasa sedikit pusing kepalanya.


"Dari tadi aku bangunin susah banget. Cepat aku mau pulang sekarang." Belum juga Andre mengumpulkan kesadarannya tapi dia diserang dengan keluhan Sani yang langsung ingin pulang.


"Nak Andre? Sudah sadar kan?" Tanya Pak Tarman memastikan.


"Saya pingsan Pak? Rasanya Punduk saya sakit seperti sudah ditindih beban yang sangat berat." Keluh Andre tak mengindahkan perkataan Sani tadi.


"Hey! Lihat kesini. Aku sudah bilang aku mau pulang!" Sani langsung membahas lagi tentang keinginannya padahal Andre belum sepenuhnya bisa menatap jelas masih terlihat kuanang-kunang dan samar.


"Udah cepet kita pulang!" Ucap Sani seolah mengenyangkan saja.


"Pulang? Jam berapa ini?" Andre langsung menanyakan waktu. Benar saja dugaannya saat melirik dia mendapati jam dinding yang tergantung, waktunya sudah malam.


"Kita gak bisa pulang sekarang!" Terang Andre.


"Pokoknya sekarang!" Sani masih kekeh dan tidak sabar. Dia tidak bisa melihat ke arah Andre yang untuk bangun saja masih susah payah, apalagi rasa pusing di kepala juga masih menyiksa.


"Tadi polisi menelpon ke hp mu." Pak Tarman tak menunggu waktu dan momen, dia langsung berbicara apa adanya sambil menyerahkan hp.


Andre belum menjawab dia mengambil terlebih dulu hp di tangan Pak Tarman.


"Kenapa harus menghubungi polisi? Kamu sudah merencanakan apa dengan polisi?" Serang Pak Tarman tak menyambut kesadaran Andre yang masih Ling Lung dengan pembahasan lain.

__ADS_1


__ADS_2