
"Ada apa lagi sekarang?" Sani langsung menyerbu Andre dengan pertanyaannya, jelas saja dia melakukan itu karena melihat tingkah Andre yang menurut penilaian matanya seperti ada sesuatu hal.
Andre segera berbalik dan menahan napas. "Polisi menelpon lagi." Jawabnya singkat, dia tidak mungkin menjelaskan jika kali ini tentang kasus yang lain.
"Polisi? Masih terus berlanjut." Tebak Sani yang maksud dari perkataannya itu dia menebak jika polisi tadi belum selesai dengan interogasinya.
Andre hanya mengangguk ragu.
"Kita pulang sekarang?" Tiba-tiba Sani mengeluarkan pernyataan itu di hadapan Tri.
Andre membalas kesal tatapan Sani, seharusnya Sani tahu diri dan melihat situasi tapi dia malah membahas masalah itu lagi. Tri yang menyimak masih terdiam lemas, terlalu banyak hal yang dia pikirkan.
"Harus sekarang?" Andre balas menjawab dan memperlihatkan bagaimana dia kesal dengan tingkah Sani.
"Kita sudah merencanakannya, dan aku sudah terlalu lama luntang-lantung di luar tidak jelas seperti sekarang. Aku harus pulang!" Serang Sani yang kekeh dan seperti keinginannnya itu tidak bisa diganggu lagi.
Andre langsung berjalan ke arah Sani dan menyeret tangannya dengan paksa, meski memang Sani menolak untuk mengikuti keinginan Andre tapi tenaga perempuan sepertinya tidak bisa sebanding kan.
"Kenapa harus di luar dan memaksa seperti ini." Komentar Sani yang kesal.
"Gak tahu diri banget ya, kamu kan tahu kita punya masalah besar dan mana bisa pulang sekarang?" Terang Andre sebagai manusiawi dirinya yang begitu mengerti bagaimana perasaan Tri saat itu, bagaimanapun Andre tidak bisa pulang dan meninggalkan Tri seenaknya, dia sudah banyak membantu Andre selama berada di kota ini.
__ADS_1
"Kenapa gak bisa? Aku kan mau pulang sekarang. Lagi pula itu urusanmu dan kenapa gak bisa jika aku pulang. Sendirian." Sindir Sani yang semakin menambah perasaan geram di hati Andre.
Dalam hati Andre mencoba banyak menimbang dan berpikir dengan matang. Bagaimana dia harus menyikapi setiap masalah yang ada di pundaknya sekarang. Tapi di sisi lain dia juga bertanggung jawab untuk membawa Sani pada keluarganya, karena semua insiden Sani terlalu banyak terlibat karenanya juga.
"Terserah, mau pulang? Silahkan!" Ucap Andre lemah sambil membuang wajah ke arah lain. Dia tidak ingin membuat Sani semakin marah bagaimanapun semua berawal memang karena ulahnya juga.
Sani cukup tercengang melihat perubahan sikap Andre. Tapi dia tidak ingin terlalu banyak membahasnya, lagi pula sudah jelas kan dia sekarang bisa pulang meski memang tanpa Andre seseorang yang harusnya bertanggung jawab atas keselamatannya itu.
Dari pada bertanya dan mengajak Andre berdebat Sani kembali mengatur langkah kakinya, pergi beberapa langkah hingga dia keluar dari ruangan itu.
Tepat saat Sani berdiri di halaman dia langsung melihat garis polisi berwarna kuning membentang dan membalut batas rumah, tujuannya agar memperingatkan orang untuk tidak masuk ke dalam.
Memikirkan kembali bagaimana situasi malam itu, Sani masih tidak bisa membuang perasaan takut dan ngeri yang membuat mentalnya langsung jatuh.
Sialnya bayangan malam itu dan mayat Pak Rais masih menghantui, padahal kenapa hal itu terus dibayangkannya? Tak ada gunanya.
Sani kembali melanjutkan kaki hingga dia terus berjalan sampai tepat hampir dekat dengan gang di depan rumah.
Hanya sampai batas itu, Sani berbalik dan sudah melihat Andre keluar dari dalam rumah sepertinya dia juga pergi dalam suatu urusan. Spontan dalam pikirannya melintas tentang Tri yang sekarang pasti sendirian di dalam rumah.
Andre sudah memperlihatkan suasana hatinya bagaimana saat dia keluar dari rumah, bahkan saat melintas dan bertatapan dengan Sani sekalipun Andre masih diam saja seolah Sani tidak ada di matanya. Sadar akan hal itu dan sikap Andre membuat hatinya sedikit merasa bersalah, apa mungkin Andre benar-benar marah? Apakah dia sudah melakukan hal yang salah? Tapi seharusnya kan bukan Andre yang harus malah, tapi dirinya yang marah karena sudah selama itu Andre menunda rencana mereka untuk pulang bahkan sekarang tanpa peduli Andre membiarkan dirinya pergi tanpa mengatakan apapun.
__ADS_1
Hati Sani mulai ragu, dia tidak ingin jika Andre sampai bersikap seperti itu tapi apakah harus dia menuruti rencana Andre untuk tinggal di rumah Tri untuk sekarang dan sampai waktu yang tidak tertentu? Seperti itu kan pikiran Andre.
Betapa beratnya mempertimbangkan keputusan yang bagi Sani itu tidak mudah, matanya lagi-lagi menangkap sosok Tri yang berjalan lemas keluar dari rumah. Sedikit menyentuh hati sebenarnya saat melihat Tri dengan tatapan kosong dan caranya berjalan jelas menggambarkan bagaimana situasi hatinya saat itu. Tiba-tiba kesadaran lain muncul, Sani membayangkan perasaan Tri yang baru saja kehilangan sosok Nenek di hidupnya, apalagi setelah semua orang tahu tentang perlakuan Ayah sambung yang sudah melecehkannya hal itu sudah cukup menjelaskan bagaimana hidup Tri yang sangat tidak mudah. Ditambah dengan kasus Pak Rais yang terbunuh, pelaku yang tidak lain adalah Pak Tarman. Apakah Tri tahu itu dan sudah menyaksikannya?
Begitu banyak yang dibayangkan Sani sendirian beberapa saat membuatnya tertahan menatap Tri yang mungkin tidak sadar bahwa dari tadi Sani sudah memperhatikannya.
"Kita pergi keluar sekarang!" Sebuah seruan Sani berusaha menarik kesadaran Tri yang saat itu masih terlihat melamun. Tapi memang usahanya tidak begitu berhasil karena Tri nampak tak acuh.
Sani kembali berpikir untuk melakukan usaha lain, tapi apa yang bisa dia lakukan? Sani adalah orang asing yang tidak begitu mengenal Tri bagaimana.
"Kau mau tetap di sini saja?" Ucap lagi Sani.
Tak disangka jika perkataannya membuat Tri berbalik melihat ke arah Sani. Tatapan yang sangat dalam hingga Sani bisa tahu seberapa dalam kesedihan yang Tri simpan di balik matanya. Tidak mudah memang bagi Tri yang sekarang hanya tinggal dia seorang dan mungkin dia sangat ingin menemui Neneknya kan?
Mendapat ide yang tiba-tiba terlintas membuat Sani memberanikan diri berbicara. "Kita akan temui Nenek mu. Kamu ikut kan?" Seru Sani.
Tri mengangguk lemah, ternyata tebakan Sani benar jika Tri ingin menemui Neneknya. Padahal dalam hati Sani juga bingung apakah itu mungkin? Atau apakah bisa? Dan kemana dia akan pergi dengan rencananya itu?
"Kau mau mengantar?" Untuk pertama kalinya Tri berbicara pada Sani. Mendengar hal itu Sani terperanjat dan dengan semangat segera membalas seruan Tri.
"Cepat kita akan pergi!" Ajak Sani antusias.
__ADS_1
"Kau masih ingat pergi ke kantor polisi itu?" Tri membalas.
Sani sadar jika untuk menemui Neneknya Tri dia harus pergi ke kantor polisi, tapi apa mungkin dia bisa pergi ke sana? "Ayo kita berusaha saja!" Tanpa berpikir lagi Sani mengajak Tri pergi dan itu berhasil. Biar saja dia hanya perlu bertanya jika sempat bingung harus pergi ke jalan mana kan?