Dunia Mu

Dunia Mu
Niat baik Pak Doni


__ADS_3

Andre dan Pak Rais saling pandang tapi keduanya tidak berani untuk keluar dari tempat persembunyian.


Tanda diduga orang-orang tadi melintas tepat di hadapan Andre. kedua orang mendorong sebuah transporter yang di atasnya seperti seseorang terlentang ditutupi dengan kain putih.


Andre begitu terkejut saat sepasang mata orang itu balik menatapnya saat itu. Tak tinggal diam seseorang berjalan ke arahnya.


"Siapa? Ngapain disitu?" Tanya satu orang yang kini sudah berhadapan dengan Andre dan Pak Rais.


Karena saat itu suasana masih membuat Andre tegang untuk beberapa saat dia terdiam tidak bisa menjawab.


"Kalian kok bawa itu?" Tunjuk Pak Rais pada orang yang satunya lagi. Beruntung Pak Rais sedikitpun tak gentar meski sepertinya dia dan Andre sudah kepergok menguping.


"Mau apa emang bapak? Seharusnya saya yang tanya kenapa Bapak ini seperti maling saja." Ucapannya ketus dan lantang tapi tak sedikitpun tidak menyurutkan perasaan Pak Rais. Mana mungkin Pak Rais bisa takut dengan pemuda yang lebih muda darinya. Apalagi sebuah fakta yang mungkin akan mengejutkan mereka jika dia juga tahu apa yang disembunyikan.


"Nak, saya tanya baik-baik sekarang. Kalian berdua mau bawa mayat itu kemana? Coba jelaskan, saya sebagai warga ingin tahu." Nada bicara Rais berubah, tapi itulah caranya sebagai orang tua.


"Apanya yang mayat? So tahu saja. Saya peringatkan ya jangan sampai Bapak-bapak ini bicara yang aneh atau nanti bisa tahu sendiri akibatnya!" Ancamnya membuat Pak Rais menggelengkan kepala tanda kecewa.


"Kalian masih muda tapi sudah tidak mau jujur. Saya berniat baik-baik di sini sebagai orang tua yang mungkin orang tua kalian sendiri akan kecewa kalau sampai tahu masalah yang terjadi dengan anaknya."


Sampai tak bisa berbicara untuk melawan perkataan Pak Rais, keduanya terlihat gusar.


"Sebenarnya." Ucapnya terlihat ragu-ragu.


"Eh ternyata ada Bapak-Bapak di sini." Terdengar suara lain yang berkomentar. Spontan membuat Andre segera berbalik, dia melihat orang yang mungkin tak asing lagi karena orang yang berdiri di hadapannya adalah lelaki petugas rumah sakit yang tadi pagi sempat dia temui.


"Bagaimana ini Pak? Saya tanya baik-baik mereka mau kemana tapi mereka malah mengancam saya." Timpal Pak Rais mendahului Rais.


Petugas itu tersenyum ramah. "Bapak khawatir kenapa? Mereka mau memindahkan pasien karena ada satu alasannya." Balasnya.

__ADS_1


"Pasien?" Ucap Pak Rais terlihat tidak terima, mungkin karena tadi sempat terdengar jika percakapan kedua orang pemuda ini menyebutkan tentang mayat.


"Maaf Pak jika saya sedikit penasaran. Saya hanya ingin tahu baik-baik dan tidak bermaksud untuk menghalangi maksudnya." Andre segera mengambil alih bicara. Meski beberapa kali dia mendapatkan sikut Pak Rais yang terus menyinggung badannya.


"Begini saja saya ingin lihat, bagaimana?" Pak Rais masih tidak ingin diam juga membuat Andre segera melihat ke arahnya.


"Bagaimana dengan Bapak-bapak ini dan Mak Andre." Ucapnya menyebutkan nama Andre memberi tahu bahwa secara isyarat jika dia mengenal Andre.


"Maaf untuk sikap yang lancang ini, Pak." Ucap Andre. Tapi dia tidak bisa begitu saja dengan mudah membiarkan orang-orang lolos di depan matanya. Dia jelas mendengar istilah mayat yang disebutkan dan itu bukan urusan yang sederhana apalagi sikap dua petugas yang membawa mayat secara diam-diam.


"Sudah cepat kalian tunggu apalagi, cepat pergi mobil sudah menunggu." Ucap petugas itu yang mengenal Andre.


Andre mematung bimbang, dia tidak bisa pergi atau membiarkan ini tanpa dia ketahui.


"Tunggu!" Tahan Andre. "Ala artinya Bapak tidak mengizinkan saya untuk melihat Pak?" Tanya Andre memperlihatkan rasa penasarannya.


Petugas itu tersenyum yang entah berarti apa. Tapi kedua orang sudah berjalan lagi membuat Andre semakin khawatir.


"Pak Doni sedang dimana?" Terdengar sebuah suara yang membuat orang di hadapan Andre terlihat kaget.


"Sudahlah kamu pergi dan akan baik-baik saja." Ucapnya setengah berbisik pada Andre. Mendengar ucapan Pak Doni membuat Andre mengerutkan dahinya menatap heran. "Dia Sani, cepat pergi ikuti petugas itu. Cepat!" Bidiknya tepat di telinga Andre.


Sepasang mata Andre langsung membulat. Sedetik kemudian Pak Doni Terburu-buru kembali menuju pintu.


"Pak!" Cegah Pak Rais.


Andre langsung membungkamnya memberinya isyarat untuk cepat pergi.


"Udah cepat ikut mereka." Perintah Andre. Pak Rais bingung karena melihat Pak Doni yang sudah masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu. "Cepat!" Andre memperingatkan lagi. Andre tak ingin kejadiannya menjadi kacau karena Pak Rais yang masih bersitegang dan tidak membiarkan Pak Doni pergi.

__ADS_1


"Kenapa kita malah ikut mereka?" Protes Pak Rais saat terpaksa berjalan mengikuti kedua orang petugas. Andre tak menjawab dia masih diam dan mengisyaratkan agar tetap diam. Pak Rais terlihat kecewa tapi dia tidak bisa berbuat banyak, hatinya masih bisa tenang karena kedua petugas yang membawa mayat masih ada dalam jangkauannya.


Andre sangat gusar dia berharap apa yang dikatakan Pak Doni benar, dan niatnya untuk mengembalikan Sani juga tidak bohong. Sampai detik ini Andre hanya ingin mempercayainya terlebih dulu.


Tak terasa berjalan beberapa meter saja sudah tampak mobil yang tadi tidak terlihat saat kedatangan Andre ke rumah sakit. Andre juga memastikan jika mobil itu bukanlah mobil rumah sakit juga membuatnya cukup terheran tak bisa mengerti.


"Maaf untuk perkataan paman. Pak Doni bilang agar kami ikut ke mobil." Ucap Andre saat petugas itu sibuk memasukkan transporter dan menaikkannya ke atas mobil.


Perkataan Andre masih tak diindahkannya juga, ala mungkin mereka tidak bisa percaya.


Supir terlihat menurunkan kaca jendela. "Dia ikut dan kalian cepat pergi!" Perintahnya pada kedua orang itu.


Andre hanya diam heran karena kedua petugas itu langsung mengerti dan menurut saat diperintahkan oleh supir.


"Cepat masuk!" Ucapnya terdengar sangat tergesa-gesa. Andre juga melihat jika dia terus mengedarkan penglihatannya dengan hati-hati.


Andre menarik tangan Pak Rais mengajaknya untuk ikut. Pak Rais juga terlihat bingung rasa penasarannya membuat dia setuju dengan mudah.


Andre langsung masuk ke dalam mobil bersama seseorang yang diduga mayat.


Mobil langsung melaju tidak tinggal diam.


Di dalam mobil Andre sangat ingin bertanya pada supir, tapi sekarang dia lebih penasaran ingin membuktikan perkataan Pak Doni tadi. Apakah orang yang terbaring itu adalah Sani?


Ragu-ragu tangan Andre bergerak menuju kain penutup itu, matanya melihat ke arah Pak Rais yang lalu menganggukkan kepala dan kemudian bergerak ke arah supir, terlihat supir memperhatikannya tali dia tidak mencegah Andre.


Siapa sangka orang yang dilihat oleh Andre adalah benar Sani. Andre langsung panik dan mengguncangkan Sani langsung. Tapi tidak ada respon cepat hal itu membuat Andre semakin panik.


"Dia pingsan." Terang Pak supir sedikit membuat hatinya lega.

__ADS_1


Namun pertanyaannya sekarang mengapa Sani dibawa pergi dengan cara seperti itu? Apa sebenarnya yang sudah terjadi di rumah sakit. Dan Pak Doni? Dia memang sudah berkata jujur dan mungkin bermaksud baik, Andre mengira jika Pak Doni mengalami kesulitan untuk membawa Sani keluar.


__ADS_2