Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Meminta Maaf (Matthew)


__ADS_3

"Sayang, apa Kau meminta Refal untuk datang?" Bu Fatimah bertanya sambil meletakkan cangkir teh hijau di atas meja. Fazila yang di tanya balas menatap Umminya, namun Ia tidak tahu harus berkata apa. Jujur, sejak perdebatan semalam mereka tidak pernah berkomunikasi.


Bagaimana caraku menjelaskan pada Ummi? Aku sendiri tidak bisa bicara dengan Pak Gubernur. Berbohong pada Ummi sama saja dengan bunuh diri. Fazila bergumam di dalam hatinya.


Apa Pak Gubernur sudah makan siang? Aku berharap dia memakan makanan yang Ku kirimkan untuknya. Lagi-lagi Fazila hanya bisa bergumam di dalam hatinya. Untuk kesekian kali Ia tidak berani menatap mata Umminya, Ia terlalu takut Ummi Fatimah akan mencium perdebatan antara dirinya dan Refal, perdebatan yang masih belum terselesaikan dengan kata maaf.


"Non, Mbok minta maaf, Mbok lupa. Tadi Pak Bima, Asisten Pak Gubernur datang. Beliau titip rantang ini untuk Non, katanya dari Pak Gubernur."


Netra Fazila membulat, Ia terkejut. Rasanya Ia ingin menangis, namun sekuat tenaga Ia berusaha menahan diri, bukankah itu tindakan yang bodoh? Entahlah, Fazila sendiri tidak tahu itu. Yang Ia tahu, Ia merasa sedih karena makan siang yang Ia buatkan untuk Refal telah kembali padanya, bukan di rumah dinas, namun di Mansion kediaman keluarga besarnya.


Menurut persangkaan Fazila, saat ini Refal memberitahukan pada keluarga besarnya kalau hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja. Untuk sesaat, Fazila memberanikan diri untuk menatap Matthew, tentunya dengan tatapan tak bersahabat. Yang Fazila tahu, semua masalah ini bermula dari si payah Matthew.


"Rantang? Wah, Bang Refal bisa saja. Sepertinya, dia berpikir Kakak akan kelaparan, karena itu Dia menitipkan makan siang untuk Kakak melalui Asistennya." Guyon Fatih sambil melempar bantal kecil kearah lengan Fazila.


Cemburu!


Hanya itu yang Matthew rasakan saat ini. Ia terlalu cemburu sampai tidak bisa berkata-kata. Ia berpikir tenggelam di laut akan jauh lebih baik, setidaknya Ia tidak akan melihat dan mendengar betapa bahagia rumah tangga yang di lalui gadis impiannya.


"Sayang, sepertinya Refal tidak bisa jauh darimu. Apa Kau bahagia?"


Berada di tempat ini terlalu lama akan membuatku tiada dalam kesedihan. Senyuman wanita impianku bersinar bagai Rembulan. Dari raut wajahnya Aku bisa melihat tidak ada ruang untukku di hatinya walau ruang itu sekecil titik sekali pun. Batin Matthew sambil memijit kepalanya yang tidak sakit.


"Bahagia!" Fazila berucap sambil meremas jemarinya, tidak ada yang tahu gundah di hatinya.


"Iya, Fazila bahagia, Mi." Sambung Fazila lagi sambil meraih rantang yang di sodorkan Art separuh baya yang masih berdiri di depannya. Dalam hati Fazila merasakan bahagia karena rantang yang di pegangnya terasa ringan. Padahal sebelumnya Ia berpikir Refal masih kesal karena itu Ia mengirim rantang makan siang itu melalui perantara asistennya.


Prasangka?


Prasangka itu selalu membawa keburukan, dan karena prasangka itu pun Fazila merasakan kesedihan.

__ADS_1


"Ummi, Fazila permisi sebentar."


Tidak ada balasan dari Bu Fatimah selain anggukan kepala pelan. Setelah mendapat izin dari Umminya, Fazila langsung berjalan menuju dapur. Bibir tipisnya tidak bisa berhenti mengukir senyuman. Dan tangannya bergerak cepat berusaha membuka rantang yang di kirim Bima.


"Pak Gubernur, Kau membuat Ku terkesan." Ucap Fazila sambil menatap kertas yang ada di tangannya.


I❤U


"Kau mengirim kartu ucapan cinta, tapi Kau bahkan tidak menemuiku sejak semalam. Cinta seperti apa ini?" Fazila bertanya pada dirinya sendiri, pertanyaan yang tidak akan pernah mendatangkan jawaban.


"Kertas apa ini?" Fazila kembali memasukkan tangannya kedalam rantang, sebelumnya Ia mengira kertas itu hanya kertas biasa. Karena penasaran Ia buru-buru membukanya.


Assalamu'alaikum... Apa kabar Kau disana? Aku yakin Bidadariku baik-baik saja. Hanya saja, disini Aku sedang bersedih.


Fazila mengerutkan keningnya seraya melanjutkan membaca surat yang di kirimkan Refal untuknya.


Fazila menghela nafas kasar sambil menatap sedih kearah kertas yang ada di tangannya.


Terima kasih untuk makan siang ya. Sungguh, Aku ingin berlari kearahmu, memelukmu, dan mengatakan Aku sangat menyayangimu. Aku mengaku salah dan mulai saat ini Aku berjanji tidak akan pernah meragukanmu lagi.


"Ya... Aku memaafkanmu. Dan Aku tidak bisa marah lebih lama lagi." Ujar Fazila pelan, Ia memeluk kertas yang ada di tangannya seolah sedang memeluk Refal.


Aku tidak bisa bicara denganmu atau menemuimu karena saat ini ada rapat penting di kantor, Aku janji akan segera pulang begitu pekerjaanku selesai. Dari Ku yang selalu mencintai Mu. Si bodoh yang tidak peka, Refal.


"Haha! Ya, Kau si bodoh yang tidak peka. Kau bahkan tidak bisa menulis surat cinta. Kau mengirimkan surat untukku, tapi kata-kata yang Kau tulis lebih tepatnya seperti surat resmi untuk bawahanmu.


Baiklah, Aku pahami itu. Walau bagaimana pun Aku merasa tersentuh, dan Aku semakin mencintaimu." Ujar Fazila sambil melipat kertas yang ada di tangannya.


"Mmm!" Matthew berdeham mencoba memecah keheningan, Ia menatap punggung Fazila yang saat ini berdiri membelakanginya, di dapur.

__ADS_1


"Apa Aku mengganggumu?"


"Iya, Kau menggangguku." Balas Fazila cepat, tatapannya seolah menjelaskan kalau dia sangat kesal pada pria yang berdiri di depannya.


"Aku tahu Kau sangat marah padaku..."


"Jika kamu tahu Aku masih marah padamu, maka jauhi Aku, itu akan jauh lebih baik untuk kita berdua. Lagi pula Aku tidak ingin Ummi dan Abi tahu kalau pria yang mereka elu-elukan tak lebih dari sekedar pria kurang ajar yang berani memeluk istri orang lain dengan alasan tidak berguna." Suara Fazila meninggi, untungnya tidak ada orang yang mendengar ucapannya selain Matthew.


"Aku benar-benar minta maaf, sungguh-" Ujar Matthew polos.


"Saat ini Aku tidak butuh kata maaf darimu. Yang Aku butuhkan, tolong menjauhlah dariku. Berada di bawah atap yang sama dengan orang sepertimu membuat darahku mendidih." Fazila berucap dengan suara pelan, Ia takut keluarga yang lain akan mendengar ucapannya.


"Aku tidak mau Ummi dan Abi membencimu sama seperti Aku membencimu. Jangan sampai hubungan keluarga kita berantakan gara-gara masalah ini." Sambung Fazila lagi dengan amarah membuncah.


"Kak Zii. Bang Matthew."


Fazila terkejut. Kahadiran Fatih membuatnya panik, surat dan kartu ucapan yang Refal kirim terlepas dari tangannya.


"Apa kalian berdebat lagi?"


"Apa masalahnya?"


"Jangan bilang kalian saling mengenal jauh sebelum Ummi mengenalkan kalian berdua, apa itu benar?" Fatih menatap Fazila dan Matthew secara bergantian. Sorot matanya menjelaskan kalau dia benar-benar penasaran.


"Auu, Kak!"


Fatih menggigit bibir bawahnya, untuk pertama kalinya Fazila mencubit perut adik lelakinya. Karena kesal Fazila bahkan tidak menghiraukan Fatih yang terlihat kesakitan.


...***...

__ADS_1


__ADS_2