
Tiga jam dan lima puluh detik. Refal membutuhkan waktu sebanyak itu untuk bisa sampai dan duduk saling berhadapan di kantor Tuan Alan.
Tadinya Tuan Alan bersiap akan pulang, untungnya Refal memberi kabar melalui pesan singkatnya sehingga Tuan Alan mengurungkan niatnya untuk pulang.
"Apa nak Refal sudah makan? Jika belum, Bapak akan meminta pelayan membawakan makanan untuk Nak Refal." Tuan Alan duduk di sofa depan Refal sambil meletakkan dua cangkir kopi yang masih mengepulkan uap panas.
"Tidak perlu, Tuan. Terima kasih." Balas Refal singkat.
"Tadinya Bapak sudah bersiap akan pulang, untungnya Bagas memberitahukan Bapak kalau Nak Refal akan berkunjung.
Bapak merasa terhormat dengan kunjungan Nak Refal. Sering-seringlah mampir, walau kita tidak di takdirkan sebagai Menantu dan Mertua, Bapak akan tetap menerima kedatangan Nak Refal dengan tangan terbuka." Tuan Alan menatap Refal dengan tatapan takjub. Ia merasa beruntung bisa mengenal pemuda sekelas Refal, pemuda yang luar biasa.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Tuan Alan merasa sedih jika Refal sampai membatalkan perjodohan yang sudah ia rancang dengan sangat matang bersama Tuan dan Nyonya Sekar. Namun, sebelum bertemu dengan Refal malam ini, Tuan Alan sudah menguatkan hatinya untuk mendengar keputusan terburuk yang bisa Refal berikan.
"Jujur, Bapak merasa seolah kita sedang duduk untuk membahas masalah Negara.
Ayo, kita nikmati saja kopinya. Kita bicara pelan-pelan saja." Ujar Tuan Alan dengan perasaan was-was.
"Beberapa jam yang lalu Fatih, Umang dan Regan mengunjungi kantor saya." Refal mulai membuka suara diantara senyapnya udara. Suasanan yang tadinya terasa canggung kini mulai mencair dengan sendirinya.
"Ada apa? Apa ketiga anak itu membuat masalah? Bapak tidak tahu kalian saling mengenal."
"Tuan Alan benar, tadinya kami tidak saling mengenal. Karena insiden kecil, kami jadi saling mengenal satu sama lain."
"Insiden?" Tuan Alan bertanya dengan dahi berkerut. Ia mulai mengingat pembicaraannya dengan Fazila.
"Apa insiden yang Nak Refal maksud saat Fazila jatuh dan menimpa seorang pria? Apa Pria itu adalah Nak Refal?" Tuan Alan bertanya dengan hati-hati, ia takut tebakannya salah dan akan membuat Refal marah.
__ADS_1
"Iya, Tuan Alan benar. Insiden yang saya maksud saat Nona Fazila jatuh dan menimpa tubuh saya. Itu bukan masalah besar karena saya sudah melupakannya, saya tidak menyangka Nona Fazila akan mengutus ketiga adiknya untuk minta maaf secara langsung." Wajah Refal mengukir senyuman, senyuman menawan.
"Sebenarnya, kedatangan saya kemari untuk membicarakan hal penting. Saya juga tidak tahu apa hal ini penting atau tidak untuk Tuan Alan. Yang jelas, bagi saya ini sangat penting karena ini menyangkut kehidupan saya."
Rasanya seolah ada batu besar yang menghantam dada Tuan Alan, dia merasa takut dan cemas di saat bersamaan.
"Saya sudah memikirkan segalanya dengan sangat matang, dan saya tidak ingin menunda lagi." Refal menegaskan dalam setiap kalimatnya. Sementara Tuan Alan? Beliau hanya bisa diam, ia menantikan ucapan apa yang akan Refal katakan selanjutnya.
"Saya bilang saya tidak bisa menunda lagi, dan dengan mengucap Bismillah hirrahmanirrahiim, saya ingin mempercepat pernikahan saya dan Nona Fazila." Ucap Refal dengan nada suara bergetar, ia bahkan tidak mengejapkan matanya sedikitpun saat mengatakan itu di depan Tuan Alan.
Tidak ada tanggapan dari Tuan Alan selain senyuman lebarnya. Ia sangat bahagia sampai tidak bisa berkata-kata. Tanpa berpikir panjang Tuan Alan langsung mendekati Refal dan memeluk tubuh kekar pria yang akan menjadi menantunya itu.
"Tunggu sebentar." Tuan Alan melepas pelukannya dari tubuh kekar Refal, di wajahnya tertulis kalau ia sedang mengkhawatirkan hal lain.
"Bukankah kemarin Nak Refal meminta waktu? Enam bulan? Bagaimana dengan semua itu? Apa Nak Refal benar-benar yakin dengan hubungan ini? Bapak tidak akan memaksa. Bapak juga tidak mau jika nantinya hubungan ini akan menyakiti kalian berdua, terutama putri Bapak, Fazila." Tuan Alan menegaskan dengan ucapan datarnya. Ia bahkan menatap Refal dengan tatapan setengah tidak percaya.
"Saya yakin setiap orang tua akan mengkhawatirkan anak-anaknya. Saya berjanji tidak akan menyakiti putri Tuan Alan, dan ini janji saya sebagai sebagai laki-laki.
"Lidah tidak bertulang, dan kita mengatakan apa pun yang kita inginkan. Sekali lagi, saya akan bertanya sekali lagi, apa Nak Refal serius dengan hubungan ini? Bapak tidak mau Nak Refal melakukannya karena paksaan atau tekanan dari Tuan dan Nyonya Sekar!"
"Apa Tuan Alan melihat wajah saya? Wajah saya tidak memancarkan keraguan apa lagi kebohongan. Saya tulus mengatakannya dari lubuk hati saya yang paling dalam.
Meminta waktu selama enam bulan tidak saya butuhkan, karena cukup dua pekan untuk bisa merubah hati, pikiran dan pendapat saya tentang Nona Fazila. Masih ada beban yang tertinggal dalam hati saya, dan saya yakin bersama Nona Fazila semua beban itu akan menguap keangkasa." Ucap Refal dengan kesungguhan hati.
Untuk sesaat kantor Tuan Alan berubah, senyap. Baik Refal maupun Tuan Alan tidak ada yang mengatakan apa pun lagi.
Tuan Alan sibuk menimbang ucapan Refal yang terdengar sangat menyakinkan. Sementara Refal? Dia hanya bisa diam, karena dia sudah mengatakan semua yang ingin dia katakan.
__ADS_1
Tok.Tok.Tok.
"Tuan, mobilnya sudah siap." Ucap Bagas begitu daun pintu terbuka lebar.
"Nyonya menelpon, beliau bilang ponsel Tuan tidak bisa di hubungi. Beliau meninggalkan pesan kalau saat ini beliau berada di rumah Oma Nona Fazila. Beliau juga bilang agar Tuan menjemput Nyonya di sana." Bagas menyampaikan pesan yang dibawanya dengan kepala tertunduk.
"Iya, tunggu di bawah. Aku akan segera datang."
"Baik, Tuan."
Sedetik kemudian, tersisa Tuan Alan dan Refal. Kedua pria hebat beda generasi itu masih larut dalam diam.
"Aku akan segera mendiskusikan semua ini dengan Tuan dan Nyonya Sekar." Ucap Tuan Alan begitu ia mulai membuka suara.
"Tuan Alan tidak perlu melakukan itu, saya yang akan bicara dengan Mama dan Papa. Apa saya boleh meminta satu hal lagi?"
"Katakan, apa itu!"
"Saya akan melamar putri Tuan Alan besok sore, dan saya ingin menikahinya lusa!" Refal bersungguh-sungguh dengan ucapannya, tidak ada keraguan yang terpancar dari wajah tampannya. Namun hal itu justru memicu karaguan dari dalam diri Tuan Alan.
"A-apa? Apa aku tidak salah dengar? Besok dan lusa? Itu terkesan sangat terburu-buru. Aku tidak bisa melepas putriku semudah itu!"
"Tuan Alan tidak perlu mengkhawatirkan apa pun, saya akan mengurus segalanya. Sungguh, saya berpikir lebih baik kita menyegerakan hal baik ini.
Posisi saya bukan hanya sebagai anak saja, saya juga harus menyejahterakan kehidupan semua orang yang mempercayakan hidup mereka dalam kepemimpinan saya. Dan saya butuh istri sekelas putri Tuan Alan sebagai kekuatan dan tempat saya menyandarkan kepala di saat saya merasakan tekanan."
"Baiklah, jika itu keputusan Nak Refal. Bapak akan diskusikan semuanya dengan keluarga Bapak, termasuk meminta pendapat Fazila mengenai hal ini. Jika dia setuju, maka pernikahan kalian akan di adakan dua hari dari sekarang. Tapi jika dia menolak maka Bapak tidak punya kuasa untuk memaksanya."
__ADS_1
Diskusi serius tentang pernikahan mendadak yang Refal ajukan akhirnya berakhir juga. Entah apa yang dia pikirkan sampai meminta waktu dalam tempo yang sangat singkat. Dari lubuk hatinya yang paling dalam, Refal berharap Fazila akan menyetujui keinginan hatinya untuk segera mempersuntingnya.
...***...