Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Mimpi Buruk


__ADS_3

Aaaa!


Satu teriakan terdengar bergema dari kamar utama Mansion Wijaya. Atau tepatnya kamar Tuan Alan dan istrinya Bu Fatimah Azzahra. Wajah Bu Fatimah terlihat berkeringat dingin, entah mimpi apa dirinya sampai Ia setakut itu. Dan tentu saja karena mendengar teriakan nyaring istrinya Tuan Alan hampir saja terjatuh dari ranjang karena terkejut.


"Uu-ummi... Ada apa?" Tuan Alan bertanya sambil mengusap keringat yang ada di kening istrinya. Nampak jelas ketakutan yang terpacar di wajah cantik istrinya, sampai-sampai Tuan Alan merasa dadanya mulai sesak.


Di dunia ini ada dua hal yang paling Tuan Alan takutkan. Pertama, membuat istri dan anak-anaknya menderita. Dan yang kedua melihat Fazila terluka sekecil apa pun luka yang mendera putri Salihanya.


"Katakan Ummi, ada apa?" Tuan Alan mendesak Bu Fatimah agar segera bicara. Sayangnya, Bu Fatimah yang di ajak bicara masih terlihat shock. Tubuh ramping itu bahkan terlihat bergetar hebat.


"Bi-bii...." Ucap Bu Fatimah sambil menatap wajah Tuan Alan dengan tatapan pilu.


"Uu-ummi melihat Fazila kita sedang menangis dengan tubuh terluka. Di-dia bilang seseorang melukainya dengan brutal. Ummi harus apa, Bi? Jika Fazila kita sampai kenapa-napa, Ummi akan tiada! Hiks.Hiks." Bu Fatimah mulai terisak, di saat seperti ini tidak ada yang bisa Tuan Alan lakukan selain berusaha keras menenangkan istrinya.


Tuan Alan sangat mengenal istrinya dengan baik, tidak akan ada air mata jika hal itu tidak ada sangkut pautnya dengan putri berharga mereka, Meyda Noviana Fazila.


Bukan hanya Bu Fatimah, kini rasa takut pun mulai menguasai raga Tuan Alan Wijaya. Bagaimana tidak, selama ini pirasat istrinya selalu terjadi tanpa bisa di tolak. Terakhir kali Fazila terluka karena berusaha menyelamatkan Maya, lalu kali ini apa lagi?


"Ummi tidak perlu khawatir. Putri kita putri pemberani. Apa Ummi masih ingat?" Ucapan Tuan Alan tertahan di tenggorokannya. Tangan lembutnya mulai membelai lembut kepala istrinya.

__ADS_1


"Fazila kita...! Dia lahir setelah melewati banyak sekali tantangan atau kesulitan. Sangat mengejutkan Ummi dan Fazila bisa bertahan walau dunia tidak bersahabat dengan kalian berdua." Ucap Tuan Alan sambil berderai air mata. Mengingat masa lalunya masih saja menjadi luka, tapi tak apa. Yang terpenting bukan lagi masa lalu, namun masa depanlah yang menjadi prioritas utamanya dalam kehidupan ini. Prioritas untuk menjaga dan membuat keluarga kecilnya bahagia.


"Apa Ummi pikir Fazila kita akan menyerah dengan mudah setelah semua penderitaan yang dia lalui secara bertubi-tubi? Tidak. itu tidak akan pernah terjadi. Dalam dirinya mengalir darah seorang perwira. Jiwa beraninya akan mengalahkan semua tantangan yang ada di depan mata." Ucap Tuan Alan penuh percaya diri, kali ini tanpa rasa ragu sedikit pun.


"Demi Allah. Abi percaya Fazila kita akan selalu di lindungi kemana pun dia pergi.


Kata orang, nasib tak bisa di duga, takdir tak bisa di rubah, tapi doa bisa mengubah segalanya. Itulah yang kita sebut dengan the power of Doa. Maka mari kita doakan anak-anak kita agar mereka selalu di lindungi dimana pun mereka berada." Ucap Tuan Alan menjelaskan panjang kali lebar


Tidak ada lagi isakan yang keluar dari bibir Bu Fatimah. Ucapan Tuan Alan terlalu menenangkan untuk hatinya yang di penuhi oleh perasaan resah dan gelisah.


"Abi tahu, saat ini Ummi pasti ingin bicara dengan Fazila kita, walau demikian Abi hanya ingin mengatakan, Fazila kita pasti sudah terlelap. Besok, setelah Shalat Subuh Ummi boleh bicara sepuasnya. Apa sekarang kita bisa istirahat? Abi masih mengantuk." Ucap Tuan Alan lagi, kali ini Ia pura-pura menguap.


Sementara itu di tempat berbeda, Mobil yang di kendarai Refal dan Fazila memasuki halaman rumah mengah yang berada tepat di pusat kota. Halamannya cukup luas, rumah megah berlantai tiga itu terlihat berdiri kokoh dengan segala keindahan yang di tawarkannya.


"Honey, kita ada dimana? Apa tidak masalah kita bertamu kerumah orang di tengah malam? Bagaimana kalau mereka mengusir kita?" Tanya Fazila sambil menghentikan langkah kakinya.


"Sayang, tidak ada yang akan berani mengusir kita. Kenapa? Karena ini rumah kita." Ucap Refal menjelaskan.


"Rumah kita?"

__ADS_1


"Iya, ini rumah kita. Setelah masa jabatanku berakhir, kita akan tinggal disini bersama anak-anak kita." Ucap Refal sambil tersenyum penuh kemenangan.


Ucapan Refal berhasil membuat Fazila tak bisa menahan diri untuk tidak memeluk pria rupawan yang sudah resmi menjadi suaminya itu.


"Masih banyak kejutan yang menanti di dalam sana. Jika menunjukkan rumah ini saja Aku berhasil mendapatkan satu pelukan dari istri cantikku, lalu bagaimana setelah dia melihat kejutan di dalam sana? Hanya dengan memikirkan akan mendapatkan ciuman panasnya saja membuatku bahagia." Goda Refal sambil menatap Fazila dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Kenapa harus menunggu nanti, aku bisa melakukannya sekarang." Celoteh Fazila sambil berjalan dua langkah mendekati Refal.


Muach!


Satu kecupan singkat berhasil mendarat di bibir selembut kapas milik Refal.


"Bagaimana, apa Gubernur tampan kesayangan ku suka?" Fazila bertanya dengan nada manja, wajah cantiknya bersemu memerah.


Tak ingin Refal mengetahui dirinya sedang di liputi perasaan gugup, Fazila langsung berlari ke dalam rumah yang pintunya tak terkunci.


"Tunggu Aku!" Ucap Refal berteriak, Ia mempercepat langkah kakinya mengejar Fazila yang semakin menjauh darinya, wajah tampan itu tak bisa berhenti tersenyum. Sungguh, perasaan bahagia ini memenuhi seluruh pori-pori yang ada di tubuhnya. Dalam hati Refal berdoa semoga kebahagiaan ini tidak akan pudar untuk selama-lamanya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2