
Gdebukkkk!
Matthew menghempaskan tubuh jangkungnya di sofa panjang yang ada di kamarnya. Netra teduhnya menatap tajam kearah ponsel yang ia letakkan di atas nakas. Panggilan vidio dengan Fatih telah berakhir namun entah kenapa ia masih saja mencari sosok yang ia lihat secara sekilas dari ponselnya itu.
"Aku rasa aku mulai kehilangan akal sehatku? Apa iya saat orang jatuh cinta dia akan berubah menjadi sosok konyol yang terlalu banyak menghayal? Aku rasa hanya aku yang seperti ini?" Celoteh Matthew sambil memejamkan matanya, berusaha menghadirkan paras seindah Purnama milik gadis yang ada dalam angan-angan panjangnya.
"Baiklah. Aku sudah membuat keputusan, aku juga sudah bertekad. Aku berjanji selama aku masih bernafas aku pasti akan menemukanmu dan menjadikanmu ratu ku." Ujar Matthew lagi. Kali ini ia berusaha bangun dari Sofa dan berjalan menuju nakas, tak lama kemudian Matthew meraih ponselnya dan mencari nomor satu orang kepercayaannya, tentu saja bukan asistennya melainkan Detektif yang ia pekerjakan sejak dua tahun yang lalu, atau tepatnya saat ia resmi menyandang Direktur utama perusahaan keluarganya yang bergerak di bidang Ekspor dan Impor, ada juga beberapa Hotel dan Resort yang di kelola Papanya, Hotel dan Resort yang kebetulan menjalin hubungan kerjasama dengan Tuan Alan, hubungan pekerjaan yang berhasil membuatnya bertemu dengan sosok indah yang membuat jantungnya berdegup kencang saat mereka pertama kali bertemu.
Tok.Tok.Tok.
Suara ketukan yang berasal dari luar kamarnya membuat netra Matthew membulat. Ia mengurungkan niatnya untuk menghubungi Detektif swasta kepercayaannya. Bukan hanya itu, ia bahkan meletakkan ponselnya di bawah bantal.
"Siapa?" Matthew bertanya sebelum ia mempersilahkan orang yang ada di luar kamarnya untuk masuk.
"Papa. Ini Papa." Ucap suara itu dengan lantang.
Tanpa berpikir panjang Matthew langsung berjalan menuju pintu dan membukakannya secara langsung untuk Papanya.
"Masuk, Pa!"
"Terima kasih. Apa Papa mengganggumu? Jika iya, Papa bisa kembali nanti saja."
"Tidak, Pa! Matthew justru bahagia Papa datang ke kamar Matthew. Apa ada hal mendesak?" Matthew bertanya tanpa perlu berbasa-basi.
"Tidak ada hal mendesak. Hanya saja, Papa ingin melihatmu sebelum Papa kembali kekamar."
__ADS_1
Untuk sesaat Matthew menatap wajah gusar Papanya, ia tahu dengan jelas kalau Papanya ingin bicara serius dengannya.
"Apa ini menyangkut Mama?" Matthew bertanya sambil berjalan kearah sofa, ia bahkan membelakangi Papanya.
"Apa Mama mengeluhkanku pada Papa? Atau tepatnya tentang Kadek lagi? Jika Papa ingin membahas tentang Kadek maka jawabannya tidak ada hal yang ingin ku bicarakan menyangkut dirinya. Hubungan kami sudah berakhir dan tidak bisa di perbaiki lagi." Ucap Matthew mendahului Papa.
"Papa akui tebakanmu benar. Maksud Papa tentang Kadek. Hari ini dia berkunjung ke Resort dan mengeluhkan ke tidak warasanmu. Maksudnya, tentang dirimu yang jatuh cinta pada gadis yang kau temui di Jakarta, dan buruknya kau bahkan tidak tahu namanya, apa itu benar?"
"Iya, dia benar, Pa. Bahkan jika aku tidak jatuh cinta pada gadis lain, aku tidak akan pernah kembali pada Kadek lagi. Dua tahun hubunganku dengannya, tak seharipun aku merasakan ketenangan saat bersamanya. Selalu saja ada drama yang terjadi.
Semakin usiaku bertambah, semakin aku menyadari kalau aku tidak butuh wanita yang cantik, seksi, atau cerdas. Yang kubutuhkan hanya wanita berhati baik.
Kalaupun aku bisa mendapatkan gadis cantik dan cerdas maka ku anggap itu bonus dari yang Kuasa." Jawab Matthew panjang kali lebar.
"Papa bertanya apa dia cantik? Jawabannya dia sangat-sangat cantik. Sekali aku menatapnya, aku tidak akan pernah bisa lepas dari pesona indahnya. Kemanapun aku pergi, bayangannya terus saja mengikutiku. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku bisa mencintai seorang gadis sebesar ini?
Jika Papa bertanya apa yang membuatku jatuh cinta padanya? Jawabannya, aku sendiri tidak tahu itu. Dia terlalu sempurna dan tidak bisa ku gambarkan dengan kata-kata.
Dari matanya aku bisa menangkap kejujuran, dan dari penampilannya aku bisa melihat kesederhanaan. Dari senyumannya aku bisa melihat ketulusan, dan dari tindakannya aku bisa melihat kalau dia tidak suka ketidak adilan." Tutup Matthew sembari mengingat pertemuan pertamanya dengan gadis impiannya di Restorant Hotel dua bulan yang lalu.
"Papa mengerti. Dan dari caramu menyanjungnya Papa yakin dia bukan gadis biasa. Satu pesan Papa untukmu, jangan merusak kebahagiaan orang lain hanya untuk membuat dirimu bahagia. Kau bilang kau tidak tahu namanya, berarti kau juga tidak tahu apa dia sudah menikah atau belum. Dan di dahinya pun tidak tertulis kalau dia masih gadis atau sudah janda, tapi jika dia sudah menikah maka kau harus mundur perlahan." Ucap Papa Matthew mengingatkan.
"Baiklah, ayo kita turun dan makan malam. Papa yakin Mama mu sudah menunggu kita di meja makan." Sambung Papa Matthew lagi, kali ini dengan senyuman.
Sementara Matthew? Dia duduk mematung di sofa, ucapan Papanya yang mempertanyakan dirinya tidak tahu apa gadis itu sudah menikah atau belum bagaikan belati yang menusuk jantungnya, sangat sakit sampai ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya dari sofa, padahal Papanya sudah meninggalkannya sejak tiga menit yang lalu.
__ADS_1
Matthew... Kau sangat bodoh! Berani sekali kau jatuh cinta pada wanita yang bahkan tidak kau ketahui sedikitpun tentang dirinya. Batin Matthew sembari mengusap wajah tampannya dengan kasar.
...***...
Hahaha!
Terdengar gema tawa dari ruang tengah Mansion Wijaya. Setelah makan malam, mereka lebih memilih duduk di ruang tengah sembari menikmati teh hangat. Dari semua suara, suara tawa Tuan Alan lah yang paling keras. Ia bahkan sampai menghapus sudut mata dengan punggung tangannya.
"Ternyata kalian memang di takdirkan untuk bersama. Bukan hanya sekali atau dua kali, tapi kalian di pertemukan berkali-kali dan dalam keadaan tidak menyenangkan." Ucap Tuan Alan setelah ia bisa mengontrol dirinya. Ia terlalu bahagia saat Refal membeberkan perlakuan manis Fazila pada menantunya itu.
"Fazila tumbuh menjadi anak yang mandiri, sejak kecil dia tidak pernah merepotkan Ummi dan Abinya.
Pesan Abi, tetap buat Fazila bahagia. Dia sudah banyak menahan derita saat dia masih kecil. Jika Abi tahu kau menyakitinya, Abi bersumpah Abi akan mengambil dia secara paksa darimu!" Ucap Tuan Alan memberikan peringatan keras untuk Refal. Sebenarnya itu bukanlah ancaman, itu hanya bentuk kasih sayang seorang ayah yang tidak ingin putrinya terluka.
"Abi... Pak Gubernur tidak akan berani melakukan itu. Dia terlalu mencintaiku sampai dia tidak bisa mengalihkan tatapannya dari pesona indahku." Ucap Fazila berusaha mencairkan suasana.
"Iya, Ummi juga yakin. Refal akan selalu membuat Fazila kita bahagia. Bukan begitu Nak Refal?" Ummi Fazila bertanya sembari tersenyum, Refal yang di tanya hanya bisa menganggukkan kepala pelan.
Kehangatan dalam keluarga!
Itulah yang Fazila rasakan saat ini. Dia merasa bahagia, dia juga merasakan ketenangan luar biasa. Menghabiskan sedikit waktu untuk berbincang akan semakin mengeratkan hubungan kekeluargaan.
Yang membuat Fazila merasakan bahagia luar biasa, Refal tampak bahagia di tengah-tengah keluarga barunya yakni keluarga Fazila, maka tak salah jika Tuan Alan atau Nyonya Fatimah mengatakan putri mereka Fazila Titipan Dari Surga karena dimanapun Fazila berada hanya ada kebaikan dan kebahagiaan yang akan di tebarnya.
...***...
__ADS_1