
Panik!
Satu kata itu kini memenuhi rongga dada Refal. Bagaimana tidak? Fazilanya menghilang entah kemana. Memikirkan Fazila terluka membuat dadanya semakin sesak. Bagaimana jika orang tua mereka tahu Kalau Fazila menghilang? Akan terjadi bencana besar dalam keluarga.
Untuk saat ini, tidak ada yang bisa Refal lakukan selain memanfaatkan koneksinya. Bagaimanapun keadaannya, Ia harus menemukan keberadaan bajingan yang telah berani mengusik kebahagiaannya.
"Kau berani menyakiti Fazila, ku? Sama saja dengan menggali kuburanmu! Tunggu saja, jika dalam dua kali dua puluh empat jam aku tidak bisa menemukan keberadaanmu, maka aku akan mengganti namaku. Cihh!" Ujar Refal penuh amarah, ia berdiri mematung di samping mobil, menunggu kedatangan Bima dari ruang kontrol yang ada di lantai lima.
"Bagaimana? Apa kau menemukan petunjuk?"
"Siapa mereka?"
"Apa mereka berkaitan dengan pembunuh Hilya?"
"Atau mereka musuh dari keluarga istriku?"
__ADS_1
"Katakan semuanya!"
"Aku ingin tahu segalanya!"
Refal mencecar Bima dengan semua tanyanya. Hal itu menjelaskan betapa besar rasa takut yang saat ini bersemayam dihatinya.
"Pak Gubernur, mereka pemain lama." Ucap Bima mengabarkan beritanya. Bima tampak serius saat mengatakannya, itu artinya orang yang akan mereka hadapi bukanlah orang biasa.
"Orang yang mengancam dan menculik Nyonya adalah orang yang selama ini kita cari. Maksud saya, dia orang yang..." Ucapan Bima tertahan di tenggorokannya, Ia benar-benar tidak bisa melanjutkan ucapannya.
"Pak Gubernur masih ingat? Saat pertama kali kita bertemu dengan Nyonya, hari itu tanpa sengaja saya menabrak beliau.
Dan di saat itu pula Nyonya bergegas mencegah pernikahan dini antara anak didiknya dan pria kurang ajar itu. Nyonya pikir masalahnya sudah selesai sampai disana, tapi nyatanya, tidak. Pria kurang ajar itu selalu mengintai Nyonya, pria itu juga terobsesi pada Nyonya, dia berpikir Nyonya menghancurkan pernikahannya, maka Nyonya lah yang harus menjadi penggantinya." Lapor Bima dengan keyakinan penuh, Ia percaya anak buah kepercayaannya tidak akan memberikan berita bohong.
"Lebih buruknya lagi, di belakang pria kurang ajar itu, ada orang yang posisinya lebih kuat yang menginginkah Nyonya hidup atau mati."
__ADS_1
Mendengar penuturan Bima, darah Refal rasanya mengalir sepuluh kali lebih cepat. Dalam dirinya, kini ada amarah yang membara, amarah untuk menghancurkan semua musuh yang telah berani menginginkan nyawa Fazilanya.
Sementara itu, di tempat berbeda. Pesta sedang berlangsung dengan meriah. Belasan lagu mengalun dengan indah dari beberapa musisi tanah air, memanjakan indra pendengaran para tamu undangan. Ada yang sedang menikmati hidangan, ada yang sedang mengobrol dengan rekan, ada juga yang sedang sibuk memainkan ponsel.
Di antara semua kesibukan yang terlihat, hanya Matthew yang saat ini duduk tanpa melakukan apa-apa. Netranya menerawang mencari sesosok indah yang telah berhasil mengalihkan dunianya. Semakin Ia mengedarkan pandangannya kesegala arah, semakin Ia menyalahkan dirinya karena masih belum bisa melepaskan diri dari jerat cinta yang menjauhkan dirinya dari bahagia.
"Bang Matthew, bisa kita bicara sebentar?" Fatih bertanya setelah melihat rauh wajah Matthew berubah karena kecewa. Ia kecewa lantaran tidak bisa melihat apa yang ingin dia lihat, cintanya. Tidak ada balasan dari Matthew selain gerakan matanya yang mengisyaratkan kata 'Iya'.
"Bukan disini, tapi di..." Fatih memberikan isyarat dengan cara menunjuk keatas, itu artinya mereka harus bicara di atap, lantai tertinggi di hotel ini.
Matthew pasrah, ia mengangguk pelan kemudian berdiri dan mengikuti langkah Fatih dari belakang, meninggalkan hiruk pikuk gemerlapnya pesta perayaan malam ini.
Sepuluh menit kemudian, Matthew dan Fatih sudah berdiri di atap hotel terbaik di Ibu Kota. Untuk sesaat mereka sama-sama terdiam, saling memberi ruang untuk saling mendengarkan. Belum sempat Matthew mengurai tanyanya, Fatih malah menyodorlan sebuah tas kecil seukuran telapak tangan orang dewasa.
Matthew terlihat heran, keningnya berkerut. Ia berpikir, untuk apa adik dari wanita yang sangat Ia cintai itu memintanya naik ke atap jika tujuannya hanya untuk menyerahkan benda yang tidak Ia ketahui isinya itu? Walau bagaimanapun, Matthew tetap menerima benda itu dengan senang hati.
__ADS_1
...***...