
Dua jam berlalu sejak Fazila dan Refal tiba di rumah dinas, mata mereka berkaca-kaca menjelaskan perasaan dua insan yang sedang di mabuk cinta. Saat ini mereka berjarak sekitar sepuluh langkah, karena itulah mereka saling melempar senyuman, bukan masalah jika mereka di mabuk cinta karena mereka pasangan halal yang telah di berkahi oleh yang Kuasa untuk mengarungi samudra rumah tangga penuh cinta.
"Fazila..."
Untuk pertama kalinya Refal kembali memanggil Fazila dengan sebutan nama sejak mereka menikah. Fazila menoleh sambil tersenyum.
"Mmm!"
Refal terdiam, Ia hanya bisa menatap punggung Fazila. Istri cantiknya sedang sibuk mengemas beberapa benda yang di masukkan kedalam tas yang akan Ia bawa menuju Universitas tempatnya mengajar.
"Ada apa? Apa Kau ingin mengatakan sesuatu? Atau Kau ingin mengeluh karena Aku istri yang selalu sibuk. Demi Allah, jika Kau mengeluhkan itu, Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Aku akan keluar dari pekerjaanku dan menjadi istri yang patuh." Celoteh Fazila sambil meletakkan tasnya di tempat tidur. Ia menatap Refal yang saat ini terlihat sedang melamun.
"Tidak. Aku tidak akan mengeluhkan hal sekonyol itu. Lagi pula, Fazila Ku terlihat cantik saat sedang bekerja. Aku tidak bisa membuat Fazila Ku menderita hanya demi kebahagiaan Ku semata."
"Lalu apa alasannya sampai pangeranku ini terlihat lesu? Apa Kau marah karena kita pulang lebih awal sementara keluarga kita masih di puncak? Jika itu masalahnya, Aku benar-benar minta maaf." Fazila berucap sembari menangkupkan kedua tangan di depan dada. Wajah cantiknya terlihat memamerkan kesedihan.
__ADS_1
Sementara Refal? Ia benci saat melihat wajah cantik istrinya memamerkan kesedihan.
"Jika kita memiliki kesempatan untuk berlibur kembali, Aku janji, kita hanya akan pergi berdua saja. Bagaimana?" Kali ini Fazila mendekat, Ia mengalungkan kedua lengannya di leher Refal.
"Dengan satu syarat?"
"Apa? Syarat?" Netra Fazila membulat, Ia berusaha menurunkan lengannya dari leher Refal, namun dengan cepat Refal menahannya.
"Apa syaratnya?" Fazila kembali bertanya, namun kali ini Ia mencubit hidung bangir suaminya dengan gemas. Tawa khas Fazila terdengar kala menggoda suaminya. Sungguh, moment sederhana ini jauh lebih baik di bandingkan liburan kemanapun.
"Syaratnya cukup berat. Aku khawatir Bidadariku tidak akan sanggup."
Glekkk!
Fazila menelan saliva. Menatap wajah serius Refal membuatnya deg-degan. Bagaimana tidak, secara tidak langsung Fazila telah berani membandingkan dirinya dengan masa lalu suaminya.
__ADS_1
Apa namanya Hilda, Ria, Rani, atau Hilya? Aku tidak ingat itu, yang jelas Aku telah melakukan kesalahan, bagaimana jika dia marah? Fazila, Kau dalam masalah besar. Batin Fazila sambil menutup bibir dengan tangan kanannya.
"Iya. Ku akui, Fazila Ku yang terbaik di antara yang terbaik." Ujar Refal menyadari mimik wajah istrinya.
"Bagus jika Kau tahu itu. Jadi Aku tidak perlu menjelaskan apa pun!" Sambung Fazila lagi, kali ini Ia melipat kedua lengan di depan dada.
"Pak Gubernur, waktu Anda hanya dua menit. Katakan apa pun yang anda inginkan, Aku wanita sibuk, jadi tidak akan mudah bicara denganku." Celoteh Fazila sambil berusaha keras menahan tawanya. Fazila tidak pernah menyangka kalau menggoda Refal itu ternyata sangat mudah.
"Hay Nona, Aku juga pria sibuk. Aku tidak bisa berlama-lama. Aku hanya ingin mengatakan, sampaikan salam Ku pada Bidadariku. Siapa namanya? Ahh, iya, namanya Meyda Noviana Fazila. Katakan padanya kalau Aku sangat mencintainya. Itu saja." Ujar Refal tak kalah serius dari Fazila.
"Baiklah. Anggap saja masalah anda sudah selesai. Maksudku, Aku akan menyampaikan pesan anda padanya.
O iya, satu lagi, jika anda sangat mencintai istri anda, maka istri anda lebih mencintai anda. Itu katanya." Celoteh Fazila tanpa menghiraukan Refal yang terlihat ingin menerkamnya. Sebelum Refal berhasil melakukan itu, Fazila malah mendaratkan kecupan singkatnya di bibir selembut kapas milik seorang Refal Mahendra Shekar, setelah melakukan itu Fazila berlari untuk menghindari suaminya.
"Hay nona, tunggu Aku." Refal berteriak sambil menatap punggung Fazila yang semakin menjauh, berlari keluar kamar. Entah sejak kapan dua insan yang biasanya terlihat serius itu berubah kekanak-kanakan. Mereka saling berkejaran menuruni anak tangga tanpa beban.
__ADS_1
Kisah cinta ini bukan kisah sementara, Kita juga tidak akan berjalan di jalan yang berbeda. Aku tidak akan membiarkanmu menjauh dari ku walau untuk sesaat saja, akan Ku pastikan untuk selalu berada di sisimu dalam suka dan duka. Bahkan jika Kau merasa muak padaku, Aku akan tetap bertahan dan berada disisimu untuk selamanya, karena kisah cinta ini bukan kisah sementara. I love you my Bidadari Surga, Meyda Noviana Fazila. Batin Refal sambil berlari menuruni anak tangga menyusul Fazila yang sudah meninggalkannya sendirian.
...***...