
Dua jam sebelum tragedi.
Senja selalu saja membawa cerita baru dalam kehidupan Fazila yang penuh dengan warna-warni penuh cinta. Sama seperti senja hari ini, Fazila berkilau seperti berlian. Siapa pun yang menatapnya akan merasakan takjub luar biasa. Bibir tipisnya tak bisa berhenti mengucapkan Alhamdulillah atas semua karunia yang Ia terima.
"Subhanallah... Putri Ummi sangat cantik." Ummi Fazila berucap sambil mencubit hidung bangir putri Salihanya.
"Masya Allah, menantu Mama terlihat seperti Bidadari yang turun dari kayangan. Entah kebaikan apa yang pernah Mama lakukan sampai bisa mendapatkan menantu sepertimu!" Sambung Nyonya Asa menyanjung Fazila.
Tidak ada tanggapan dari Fazila selain senyuman menawannya, mendengar ucapan kedua wanita hebat yang berdiri di depannya membuat hati Fazila menghangat.
"Fazila terlihat cantik karena Ummi dan Mama yang melihatnya. Di bandingkan dengan semua ini, tolong tetap doakan Fazila agar selamat di dunia dan akhirat." Fazila berucap sembari memeluk kedua wanita terbaik dalam hidupnya.
__ADS_1
"Ya sudah, Mama dan Ummi bisa pergi sekarang. Fazila yakin Abi dan Papa pasti mencari istrinya." Baru saja Fazila mengatakannya, kedua ponsel dari wanita yang sangat ia cintai itu berdering seolah sedang ada perlombaan nada.
"Haha! Lihat, Fazila benarkan?" Sambung Fazila lagi, Ia menunjuk ponsel Mama Asa dan Ummi Fatimah yang terletak di atas ranjang dengan gerakan mata.
"Baiklah, kami akan keluar. Ingat, kau tidak boleh meninggalkan kamar ini sebelum Refal menjemputmu." Mama Asa meraih jemari Fazila, netra teduhnya menggambarkan betapa besar syukur yang memenuhi rongga dadanya karena memiliki Fazila dalam keluarganya.
"Iya, Fazila tidak akan keluar kamar sebelum Pak Gubernur datang." Balas Fazila tanpa melepas tatapan dari wajah cantik Mama mertuanya, Nyonya Asa.
Dua menit kemudian, kamar megah yang Fazila tempati terasa senyap. Karena bosan Ia mulai meraih ponsel yang Ia letakkan di atas nakas, mencoba menghubungi Refal menjadi salah satu pilihan terbaiknya. Maklum saja, karena kesibukan Sang Gubernur muda itu membuatnya tak bisa bertemu, Fazila bertekad akan membuat malam ini menjadi malam yang spesial untuk mereka berdua.
"A-apa ini?" Fazila bertanya pada dirinya sendiri, Ia menjatuhkan ponsel yang ada di tangannya tanpa sengaja. Wajahnya terlihat pucat. Tanpa berpikir panjang, Ia berlari keluar kamar tanpa memberitahukan siapa pun seperti permintaan yang ada dalam pesan suara itu.
__ADS_1
"Bertahanlah, aku akan datang." Ucap Fazila lirih, namun air mata tak bisa berhenti keluar dari netra teduhnya.
Sementara itu di Ballroom Hotel tempat acara akan di adakan, para tamu mulai berdatangan. Acara ini di selenggarakan untuk menyambut ulang tahun Hotel yang Tuan Alan Wijaya pimpin, tamunya berasal dari kalangan pebisnis dan politikus.
"Kenapa kau masih disini? Bukankah Mama memintamu menjemput menantu Mama?" Nyonya Asa memegang pundak Refal dari belakang, wajahnya menunjukan tidak senang.
"Malam ini kau bukan seorang Gubernur. Malam ini kau hanya seorang Refal, suami yang bertugas menjaga istrinya. Mama tidak perduli dengan pekerjaanmu. Jadi sekarang, Mama minta pergi dan jemput menantu Mama." Ujar Nyonya Asa ketus.
"Iya, Ma. Refal pergi sekarang."
"Sebenarnya Refal ingin menjemput menantu Mama sejak tadi. Sayangnya, dia meminta Refal untuk datang pukul 19.00." Ucap Refal sembari menatap arloji yang ada di pergelangan tangannya.
__ADS_1
Sungguh, Refal pun sama. Ia memendam kerinduan yang besar untuk Fazila. Mau bagaimana lagi, terkadang kesibukannya sebagai pemimpin membuatnya selalu saja menekan perasaannya. Refal sadar, yang mudah itu berjanji dan yang berat itu amanah. Karena itulah Ia menekan keinginannya untuk berlari kearah Fazila agar amanah yang di embannya tidak mendatangkan petaka untuk kehidupan bahagianya bersama wanita terbaiknya, Meyda Noviana Fazila. Sang Bidadari Surga penyejuk mata.
...***...