
"Dokter, aku merasa bosan di tempat ini. Apa aku boleh keluar?" Fazila memohon sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada. Ia berharap kebosanan yang sedang melandanya akan segera menghilang, hidup tanpa kehadiran Refal di sisinya membuatnya tak bersemangat.
"Nona bisa jalan-jalan, hanya di dalam rumah ini saja. Nona masih lemah, Nona tidak boleh pergi terlalu jauh." Balas Dokter muda itu.
Fakih, iya. Namanya, Fakih. Begitulah dia memperkenalkan dirinya di depan Fazila semalam.
"Apa dokter Fakih sudah menikah?"
"Belum. Insya Allah, tahun depan."
"Wah... Itu berita baik." Ujar Fazila sambil tersenyum, Ia benar-benar bahagia dengan berita yang Fakih bawa.
"Apa saya boleh bertanya? Itu pun jika Nona mengizinkannya."
"Tanyakan saja. Jika saya bisa, saya pasti akan menjawabnya."
__ADS_1
"Apa Nona berteman baik dengan Tuan? Sejak kapan?"
"Tuan? Maksud dokter pria tinggi dengan lesung pipi?"
Tidak ada balasan dari Dokter Fakih selain anggukan kepala pelan.
"Tidak. Aku tidak pernah melihatnya kecuali kemarin malam. Dia terlihat baik, dia juga ramah. Memangnya ada apa? Kenapa Dokter bertanya seperti itu? Jika aku mengenalnya, aku tidak akan bersikap sungkan di depannya." Ujar Fazila berterus terang, karena itu memang kebenarannya.
"Itu tidak mungkin!" Dokter Fakih terlihat bingung.
"Kenapa tidak mungkin? Kami benar-benar tidak saling mengenal. Apa kalian sudah lama saling mengenal?"
Fazila terlihat penasaran setelah mendengar penuturan dokter Fakih. Ia tidak akan bisa tenang jika belum menemukan kebenaran. Ada orang asing yang perduli padanya, tentu saja dia harus berhati-hati. Biasanya bahaya datang tanpa diminta dan bahaya itu bisa saja datang dari orang yang tidak kita kenal, salah satunya pemilik rumah megah tempat Fazila berada, pemilik rumah yang masih terasa asing baginya.
Hari ini hari kedua setelah insiden buruk itu menimpa Fazila. Sejak Ia sadar, Ia ingin menghubungi Refal. Sayang sekali, Ia tidak bisa melakukan itu karena semua orang melarangnya kecuali jika Ia mendapat izin dari sang empunya rumah. Meminta bantuan dari Dokter Fakih pun tidak akan berguna. Setelah bicara dengan dokter Fakih, Fazila langsung berjalan pelan menuju ruang tengah. Ia terlalu merindukan keluarganya, satu-satunya cara yang harus Ia tempuh adalah meminta izin pada sang empunya rumah agar Ia di perbolehkan untuk pulang.
__ADS_1
"Nona disini? Silahkan duduk!" Sky menyapa Fazila sambil berdiri, Abbas yang saat ini duduk tampak terkejut. Ia salah tingkah, fokusnya beralih pada sosok indah yang saat ini berdiri sepuluh langkah darinya, Fazila.
"Seharusnya kau istirahat, dan tidak perlu memaksakan diri untuk turun. Jika kau mau, aku sendiri yang akan datang menemuimu." Ujar Abbas sambil mempersilahkan Fazila duduk di sofa.
"Terima kasih. Tapi sekarang, aku jauh lebih baik. Apa aku boleh pergi? Aku harus pulang. Aku yakin Ummi dan Abi pasti sangat khawatir." Fazila menatap lawan bicaranya tanpa rasa takut.
"Tapi sebelum itu, apa aku boleh menghubungi keluargaku? Aku berharap Tuan tidak akan menolakku sebagai teman." Sambung Fazila lagi, kali ini wajah cantiknya mengukir senyuman.
Fazila tidak tahu saja kalau senyuman indahnya berhasil menghangatkan hati seorang Abbas. Seandainya Fazila tahu itu, Ia tidak akan mengumbar senyuman di depan sembarang pria.
"Teman?" Abbas bertanya, netranya membulat. Ia terlalu bahagia karena Fazila mengakuinya sebagai teman.
"Iya, teman!" Ucap Fazila singkat.
"Asal kau tahu saja, aku selalu di juluki sebagai anak genius. Aku menghafal Al-Qur'an saat usiaku tujuh tahun. Dan setelah menyelesaikan pendidikan, aku mulai mengabdikan diri di sebuah Universitas. Aku tahu kapan mahasiswa ku berbohong atau pun jujur. Dan saat ini, aku juga tahu anda siapa dan kenapa anda menolongku!" Ucap Fazila sambil menatap Abbas dan Sky secara bergantaian.
__ADS_1
Mendengar ucapan meyakinkan Fazila membuat Abbas merasakan takut. Sungguh, membayangkan Fazila menatapnya dengan tatapan kebencian membuat sekujur tubuhnya merinding. Fazila hanya meminta izin untuk pulang, namun bagi Abbas ini terdengar bagai ancaman. Bagaimana jika mereka tidak akan bertemu lagi? Tidak ada balasan dari Abbas, Ia hanya bisa menatap Fazila dengan tatapan tak terbaca.
...*** ...