
Ruang inap Matthew terasa senyap, baik tuan Alan, Ummi Fatimah, Tuan dan Nyonya Dewa, mereka lebih memilih diam setelah mendengar Matthew mengungkapkan isi hatinya.
Sungguh, Nyonya Dewa masih tidak suka dengan keputusan putranya. Ia ingin menarik Matthew dan membawanya pulang dengan paksa ke Pulau Dewata. Berkumpul bersama keluarga Wijaya membuat putranya hilang arah dan hilang kendali, begitulah yang di pikirkan Nyonya Dewa.
"Ma. Pa. Aku sangat bahagia. Jujur, aku tidak pernah merasakan kebahagiaan sebesar ini sebelumnya. Lihatlah wajah ku!" Matthew menatap netra Mamanya, terdapat kilatan amarah disana, amarah yang ingin di muntahkan dengan segera.
Kekecewaan terpancar jelas di wajah Nyonya Dewa. Sesekali, bibirnya bahkan terlihat bergerak, entah umpatan apa yang saat ini ia lakukan di dalam hatinya.
"Ummi Fatimah dan Abi Alan adalah orang baik, Mama dan Papa tidak butuh seratus teman jika kalian memiliki orang sebaik Ummi dan Abi dalam hidup kalian. Aku mohon, Ma. Jangan salahkan mereka!" Ucap Matthew dengan rasa sakit yang menghujam ulu hatinya, bahkan nafasnya terasa sesak membuat Nyonya Dewa berteriak histeris memanggil dokter.
"Jangan, Mam. Jangan panggil dokter, aku baik-baik saja." Aku Matthew dengan sisa tenaga yang ia punya. Tatapan matanya terlihat sendu, namun bibir tipisnya mengabarkan kalau ia baik-baik saja, hal itu terlihat dari senyuman manisnya. Senyuman yang tidak pernah ia lepas dari bibirnya sejak ia tersadar dan membuka mata.
__ADS_1
"Apa kau ingin Mama tiada? Bagaimana Mama tidak memanggil Dokter jika kau saja seperti ini. Kau terlihat seperti mayat hidup, ajaran apa yang kau terima? Hanya dalam hitungan jam kau terlihat seperti orang menyedihkan!" Sentak Nyonya Dewa sembari menahan tangisnya.
"Mam, sungguh, aku sangat bahagia, bahkan jika aku tiada aku tahu akan tinggal dimana." Matthew kembali menatap wajah penuh amarah Mamanya dengan linangan air mata.
Baik Tuan Alan, Ummi Fatimah atau pun Tuan Dewa hanya bisa saling menatap, mendengar perdebatan antara ibu dan anak itu membuat mereka tak bisa bersuara karena takut situasinya semakin memburuk.
"Saat seperti ini aku tidak butuh Dokter, aku hanya ingin Shalat." Celoteh Matthew sembari menahan tangisnya.
"Abi, aku ingin Shalat. Apa Abi bisa membantuku? Ini akan menjadi Shalat pertamaku, aku mohon tuntun aku!"
Tuan Alan yang sejak tadi membisu berjalan pelan mendekati tubuh Matthew yang saat ini terlentang di atas tempat tidur pasien, wajah pucat itu semakin pucat seolah tidak ada darah, yang membuat Tuan Alan takjub, Matthew tidak ingin melepas senyumannya seolah ia sedang melihat sesuatu yang indah.
__ADS_1
Tuan Alan merindung, dan entah kenapa ia mencium aroma yang sangat wangi seperti aroma jutaan bunga sedang mekar secara bersamaan.
Apakah ini....? Subhanallah! Tuan Alan bergumam di dalam hatinya sembari bergegas membantu Matthew duduk, mengganjal kepalanya dengan bantal, kemudian membantu Matthew bangun menuju kamar mandi agar pria tampan itu bisa mengambil Whudu.
Hiks.Hiks.Hiks.
"Ada apa dengan putra ku? Kenapa aku harus hidup untuk melihat pemandangan ini!" Tangis Nyonya Dewa semakin pecah, ia benar-benar tidak sudi menatap putranya yang sudah meninggalkan ajaran nenek moyangnya.
Namun berbeda dengan Ummi Fatimah, ia sangat bangga pada Matthew karena pemuda itu teguh dalam pendiriannya untuk tetap menyakini apa yang menjadi pilihannya, walau sejak tadi Mamanya terus saja memaki dengan ucapan, tindakan maupun gestur tubuhnya.
...***...
__ADS_1