Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Kesempatan Kedua!


__ADS_3

"Kita sudah membicarakannya, jadi Pak Gubernur tidak boleh marah lagi. Tersenyumlah! Aku merindukan senyum-Mu." Ucap Fazila sambil berbisik di telinga Refal.


Setelah melepas mukena dan di ganti dengan gamis terbaiknya, Fazila kembali keruang tengah untuk makan malam bersama semua anggota keluarga. Setelah makan malam usai, kini semua orang duduk di sofa sembari menikmati teh hangat dan berbincang untuk mempererat hubungan kekeluargaan.


"Nak Fazila apa kabar?" Pak Made, pria paruh baya yang duduk di samping Tuan Alan mulai membuka suara di antara senyapnya udara.


"Alhamdulillah, baik Om. Om sendiri apa kabar?" Balas Fazila semangat. Ia terlalu senang bertemu dengan sahabat baik Abinya.


"Fazila sedikit kecewa karena Om dan keluarga dari Bali tidak hadir di pernikahanku dan Pak Gubernur." Sambung Fazila lagi, wajah cantiknya terlihat cemberut, tentu saja itu hanya pura-pura saja. Fazila tidak akan sanggup marah pada siapa pun.


"Maafkan kami, Nak. Sebenarnya Om dan keluarga ingin datang waktu itu, hanya saja kakeknya Matthew mengalami serangan jantung. Kami benar-benar minta maaf." Balas Pak Made, Papa Matthew penuh penyesalan.


Fazila cukup akrab dengan Pak Made, karena sejak Fazila kecil beliau sering berkunjung ke kediaman Wijaya. Berbeda dengan Istrinya, Fazila baru bertemu malam ini. Seandainya mereka saling mengenal sejak dulu, kejadian di halaman depan tidak akan pernah terjadi.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Om, Fazila ngerti. Lagi pula Ummi dan Abi menjelaskan semuanya jauh sebelum pernikahan Fazila. Om tahu kan Fazila sangat menghormati Om?"


"Tentu saja, Nak." Balas Papa Matthew lagi.


Sementara itu di sofa, tak jauh dari tempat duduk Refal dan Fazila, Matthew dan Mamanya saling menatap dengan tatapan penuh curiga, namun di antara mereka tak ada yang berucap sepatah kata pun. Mengingat kejadian di halaman depan membuat suasana hati Matthew memburuk, Ia bahkan tidak berani menatap wajah Fazila walau untuk sesaat saja.


"Nak Fazila, kenalkan. Namanya Matthew, dia putra Om satu-satunya. Dia anak yang cerdas dan baik hati, terkadang dia mudah terpengaruh, Om berharap kalian bisa menjadi teman."


Refal kembali menatap Matthew yang saat ini mencuri pandang pada Istrinya. Geram! Itulah yang di rasakan Refal. Bagaimana tidak, lima belas menit yang lalu Bima mengirimkan sebuah vidio utuh saat Pria kurang ajar berani mengganggu Istrinya, dan dengan jelas Refal mengetahui siapa sosok kurang ajar itu, menatap wajah Matthew membuatnya semakin merasakan amarah.


Berteman denganmu? Cih, jangan harap. Ucap Refal di dalam hatinya. Ia tidak mungkin mengutarakan isi hatinya, bisa-bisa mertuanya akan memakinya karena Ia menyimpan dendam pada Matthew.


"Nak, Apa Om boleh minta kue-nya lagi?" Papa Matthew bertanya sambil menatap Fazila yang saat ini saling bicara dengan Refal.

__ADS_1


"Tentu saja, akan Fazila ambilkan." Balas Fazila sambil bangun dari sofa.


Saat fazila berjalan menuju dapur, Ia tidak menyadari Mama Matthew mengikutinya dari belakang. Fazila menyadari kehadirannya saat Ia akan berbalik, karena terkejut hampir saja kue yang ada di tangan Fazila terlepas.


"Nyonya, anda disini? Apa anda butuh sesuatu? Katakan saja."


"Tidak. Aku tidak butuh apa pun, Aku hanya ingin bicara!"


Apa dia akan memakiku lagi? Batin Fazila sambil mundur dua langkah dan meletakkan kembali camilan yang ada di tangannya. Hinaan yang Ia terima dari Mama Matthew dua jam yang lalu membuat dadanya sesak, dan sekarang wanita paruh baya itu ingin bicara lagi, membayangkan kata-kata kasar yang akan terlontar dari lisan wanita di depannya membuat Fazila menghela nafas kasar.


Rasanya, Aku tidak ingin bicara dengan Istri Pak Made lagi! Jika Aku tidak berdamai dengan diriku sendiri, sampai kapan Aku akan bersikap angkuh? Baiklah, mari kita bicara. Aku akan memberikan anda kesempatan kedua! Batin Fazila sambil menatap wanita anggun seusia Umminya itu. Tanpa banyak bicara Fazila menuntunnya menuju taman belakang agar mereka lebih leluasa. Setidaknya, jika Mama Matthew ngamuk lagi tidak akan ada yang mendengar suaranya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2