
Pagi ini terasa berbeda di bandingkan dengan hari-hari biasanya. Setelah melewati malam yang indah kini Refal dan Fazila tampak bahagia. Mereka bahkan tak bisa berhenti untuk saling melempar senyuman.
"Tidak perlu malu-malu, sekarang aku sudah menjadi milikmu seutuhnya. Sekarang katakan, apa yang ingin kau katakan?" Pancing Fazila setelah melihat reaksi Refal yang terus saja menatapnya tanpa bisa mengalihkan pandangannya. Fazila yang saat ini sedang memakaikan dasi untuk Refal pun terlihat salah tingkah.
"Aku tidak akan mengatakan apa yang ingin kau dengar." Sambil tersenyum Refal melayangkan tangan nakalnya untuk mencubit hidung bangir Fazila.
"Memangnya apa yang ingin ku dengar? Sejak tadi aku tidak mengatakan apa pun?" Balas Fazila sembari meraih tangan Refal yang saat ini sedang bermain di hidung bangirnya, sedetik kemudian Fazila mulai mencium punggung tangan Refal, sangat singkat namun Refal bisa merasakan desiran bahagia tak bisa berhenti menyapa lembut lubuk hati terdalamnya.
"Apa kau sedang memanasiku?"
"Haha. Tentu saja tidak. Memangnya sesulit itu mengatakan kalau aku sangat cantik?"
Refal terjebak dalam ucapannya sendiri, ia terlihat menelan saliva tanpa bisa mengatakan apa pun. Seharusnya ia tidak perlu memancing Fazila karena tanpa ia sadari Fazila selangkah di depannya.
"Apa sebegitu inginnya kau mendengar ku menyanjungmu? Akan ku lakukan, aku akan mengatakan kau sangat cantik. Tidak hanya hari ini, tapi sepanjang hidupku, My Queen." Refal tersenyum sambil menarik pinggang ramping Fazila hingga membentur dadanya.
"A-apa? My Queen?"
"Iya, My Queen. Mulai saat ini itu panggilan sayangku untuk Bidadari bermata jeli ini." Jawab Refal singkat, ia membelai wajah cantik Fazila dengan jemari lembutnya.
"O iya satu lagi, hari ini aku akan sedikit sibuk. No telpon no sms, karena seharian ini ponselku akan dimatikan. Maafkan aku karena menduakanmu dengan pekerjaanku, resiko menjadi istri pegawai pemerintah memang seperti itu. Apa kau keberatan?"
"Sama sekali tidak! Aku hanya meminta jadilah pemimpin yang adil. Jangan menindas orang yang lemah, jangan mencuri uang rakyat dan jangan pernah menyalahi janji. Selama kau ada di jalan yang benar aku janji akan selalu mencintaimu dengan segenap hatiku." Kali ini Fazila memberanikan diri menenggelamkan kepalanya di dada bidang Refal. Ia mengeratkan kedua lengannya di pinggang Refal sembari menghirup aroma menenangkan yang menguar dari tubuh Refal Mahendra Shekar.
Untuk sejenak mereka saling berpelukan, saling memejamkan mata dan merasakan ketenangan yang bersumber dari jiwa.
"Begitu mudahnya kau mengatakan sama sekali tidak, apa kau tidak akan merindukanku seharian ini? Sementara aku? Aku khawatir tidak bisa bekerja dengan benar karena aku akan sangat merindukanmu!" Ujar Refal sembari mengeratkan pelukannya.
Refal dan Fazila? Mereka kembali terdiam hingga ponsel salah satunya hadir sebagai pengganggu.
Aku yakin ini pekerjaan si payah Bima. Kenapa dia hadir sebagai pengganggu di saat yang tidak tepat. Lihat saja nanti, aku pasti akan memberikannya pelajaran. Gumam Refal di dalam hatinya, dengan berat hati ia melepaskan pelukannya dari tubuh ramping Fazila.
"My Queen. Aku dengar kau meminta Abi membawakan motormu? Apa itu benar?" Refal bertanya sambil melipat kedua lengan di depan dada.
__ADS_1
"Iya, itu benar." Balas Fazila singkat.
"Apa kau yakin akan menggunakan motor itu lagi? Sebenarnya aku...." Refal menggantung kalimatnya, namun wajahnya menunjukan sebaliknya.
"Kenapa? Apa kau tidak suka?" Fazila bertanya dengan hati-hati. Ia berharap ucapannya tidak akan membuat Refal tersinggung.
"Sebenarnya, aku lebih suka menggunakan motor ketimbang mobil. Menurutku itu lebih simple. Tapi, jika kau tidak suka maka aku akan menyimpannya di bagasi rumah kita. Walau begitu aku tidak jamin tidak akan menggunakannya lagi. Apa kau senang?"
"Mmm! Itu terdengar lebih baik dari pada aku melarangmu." Balas Refal lagi.
Fazila memakaikan jas di tubuh kekar Refal, ia menatap Refal dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Sempurna!"
Satu kata itu keluar dari lisan Fazila, mendengar sanjungan luar biasa yang keluar dari lisan istrinya membuat Refal tidak bisa berhenti tersenyum.
"Aku akan mengantarmu kerumah Ummi. Ayo, kita harus berangkat sekarang." Ujar Refal sembari menarik lengan Fazila.
Rumah dinas yang Refal tempati sejak dua tahun terakhir tampak sunyi. Tak seorang pun tinggal di rumah itu selain dirinya, namun kini kedatang Fazila menambah warna baru dalam hidup seorang Refal Mahendra Shekar.
...***...
Kalian bertemu hanya beberapa hari saja tapi Bang Matthew sudah berhasil mencuri hati Ummi. Aku tidak menyangka akan mendapatkan saingan di usiaku yang akan memasuki dua puluh tahun ini." Ujar Fatih dengan wajah pura-pura sedih. Matthew yang mendengar ucapan Fatih hanya bisa terkekeh.
Lima belas menit?
Lima belas menit sudah Matthew dan Fatih saling bertegur sapa lewat vidio call, namun tidak ada tanda-tanda kedua anak manusia beda usia itu akan mengakhiri percakapannya. Walau lahir dari rahim berbeda mereka cukup dekat hingga tidak salah memanggil mereka sebagai saudara.
"Hampir dua puluh tahun? Jadi maksudmu kau akan berulang tahun? Wahhh, ini benar-benar kejutan besar. Tunggu aku, aku janji akan memberikanmu hadiah besar." Ucap Matthew di sebrang sana, atau tepatnya di Pulau Dewata. Pulau yang terkenal dengan berjuta-juta pesona indahnya. Matthew tersenyum, entah orang percaya atau tidak, Matthew benar-benar bahagia.
"Kenapa Bang Matthew tidak datang sekarang saja? Besok malam pesta pernikahan Kak Zii. Aku yakin kita akan bersenang-senang."
"Maafkan aku Fatih, sebenarnya aku ingin hadir di moment bahagia Kakak perempuanmu, sayangnya pekerjaan yang masih tertumpuk membuat tangan dan kakiku terbelenggu, aku tidak bisa pergi kemanapun walau aku menginginkannya." Balas Matthew penuh penyesalan.
__ADS_1
Tok.Tok.Tok.
Netra teduh Fatih menatap tajam kearah daun pintu.
"Apa ada yang datang?" Matthew bertanya sambil menyisir rambut hitamnya dengan jemari. Fatih yang di tanya tak memberikan tanggapan apa pun.
"Fatih, apa Kakak boleh masuk?" Terdengar suara dari balik daun pintu.
"Iya, Kak. Silahkan masuk." Ucap Fatih menanggapi seseorang yang meminta dengan hormat.
"Siapa yang datang? Apa sebaiknya aku mengakhiri panggilan ini?"
"Tidak. Tidak. Bang Matthew tidak perlu memutuskan sambungannya." Jawab Fatih cepat, dan untuk kesekian kalinya wajah tampannya kembali mengukir senyuman.
"Ummi meminta Kakak memanggilmu, makan malam sudah siap!" Ucap Fazila begitu ia masuk di kamar adiknya, Fatih Wijaya.
"Benarkah? Syukurlah, aku sangat lapar." Balas Fatih sambil berdiri dari ranjang tempatnya berbaring, ia meletakkan ponselnya di atas nakas hingga ponsel itu memperlihatkan setengah bagian kamarnya.
"Apa Kak Refal ada di bawah?"
Fazila menggelengkan kepala.
"Apa Kak Zii akan menginap disini?" Fatih kembali bertanya, ia bahkan tidak menyadari Matthew sedang memperhatikannya.
"Kakak tidak bisa, sebentar lagi Pak Gubernur datang dan menjemput Kakak." Balas Fazila sembari merapikan Rambut Fatih dengan jemari lentiknya.
"Ayo kita turun." Sabung Fazila lagi. Ia berbalik, kemudian berjalan pelan menuju pintu.
"Kakak, tunggu aku!" Fatih merengek sambil berlari mengejar Fazila, ia bahkan lupa untuk menyapa Matthew dan mematikan sambungan vidionya.
Sementara itu, di tempat berbeda Matthew berdiri mematung menatap punggung wanita yang berjalan bersama Fatih, untuk sesaat ia menatap dengan jelas wajah secantik purnama itu.
Hmm! Entah kenapa hati dan pikiranku hanya di penuhi oleh bayanganmu. Bahkan saat aku ada di kamarku, aku hanya bisa melihatmu. Dan sekarang? Aku juga melihat Kakak perempuan Fatih tampak seperti dirimu. Cinta ini benar-benar membutakan akal sehatku. Aku merindukanmu gadisku. Matthew bergumam di dalam hatinya sembari memutuskan sambungan Vidionya. Wajah tampannya mengukir senyuman, ia menghempaskan tubuh jangkungnya di tempat tidur, berharap kerinduan ini akan tersalurkan dengan segera.
__ADS_1
...***...