
Duarrr!
Bagai di sambar petir di siang bolong, sekujur tubuh Fazila merinding. Ia tidak menyangka, dan Ia tidak akan pernah berpikir akan ada pria yang datang memeluknya secara tiba-tiba di tempat umum.
"Aku merindukanmu. Sangat-sangat merindukanmu." Bisik pria yang saat ini berada dalam pelukan Fazila.
Fazila? Ia masih berdiri mematung dengan tubuh bergetar. Bukan Refal! Tapi pria lain!
Ya Allah, musibah apa ini? Batin Fazila sambil mendorong tubuh pria jangkung yang telah berani memeluknya dengan sangat erat. Bahkan ucapan rindu yang di lontarkan pria itu terdengar bagai sampah di telinga Fazila. Perasaan bahagia yang tadi sempat Ia rasakan kini berganti dengan amarah memuncak. Tidak ada kesabaran, apa lagi sikap tenang. Yang ada, Fazila malah ingin menghancurkan sosok kurang ajar yang telah berani menodai harga dirinya.
Plakkk!
Dengan amarah membuncah Fazila mulai mengangkat tangannya, satu tamparan mendarat tepat di pipi kanan pria yang sama sekali tidak Fazila ingat namanya.
__ADS_1
"Setelah menamparmu, apa Kau tahu apa yang ingin Ku lakukan?"
"Rasanya Aku ingin menyakitimu lebih besar lagi, Kau satu-satunya pria kurang ajar yang berani bertindak menjijikkan!" Ucap Fazila dengan nada suara tinggi.
"Kau pikir Aku wanita seperti apa, hah?"
"Aku bukan tipe wanita yang bisa Kau temui di sepanjang jalan yang Kau lalui. Aku juga bukan wanita yang bisa di peluk oleh pria sembarangan."
Fazila mencecar pria yang masih berdiri mematung di depannya, sorot mata itu di penuhi penyesalan. Sebesar apa pun penyesalan pria itu, sama sekali tidak membuat amarah Fazila meredup karena amarahnya jauh lebih besar dari pria tidak tahu malu yang saat ini sedang berdiri di depannya.
"Aku bilang Aku sangat merindukanmu, bukan berati Kau berhak menghina cinta ku. Cintaku sangat tulus untukmu, tak bisakah Kau melihat itu dari sorot mataku?"
"Tuan, Kau tidak mengerti makna cinta. Kau mencampur adukkan cinta itu dengan nafsu tidak bergunamu. Aku juga tidak tahu dari mana Kau berasal, dan Aku tidak punya stok kesabaran untuk meladeni pria mesum sepertimu.
__ADS_1
Hari ini Kau telah berani menodai harga diriku, Aku benci orang sepertimu. Jangan pernah muncul di hadapanku atau Kau akan menyesal seumur hidupmu." Ucap Fazila dengan suara bergetar, matanya memerah. Entah sebesar apa amarah yang bercokol di hatinya sampai sekujur tubuhnya bergetar hebat.
"Kau tidak berhak menilai cinta Ku seperti itu. Aku bukan pria mesum yang akan mengucapkan kata cinta pada sembarang wanita. Jika Kau tidak mencintaiku lantaran Aku hanya orang asing bagimu, maka Ku tegaskan sekali lagi, Aku pria baik-baik. Dan jika Kau lupa namaku, maka mulai hari ini tulis namaku di lubuk hati terdalammu, namaku Matthew, Matthew Adyamarta." Matthew menjelaskan dengan suara seraknya, melihat kilatan kebencian dari wanita yang selalu mencuri ketenangan di siang dan malamnya membuat Matthew merasakan kesedihan mendalam. Apakah cinta sungguh semenyakitkan ini?
Fazila hanya bisa menelan saliva mendengar ucapan paksa pria menyebalkan yang ada di depannya, jika Fazila saja semarah ini, lalu bagaimana reaksi Refal saat mengetahui istri berharganya di peluk oleh orang asing? Jangan salahkan Fazila atas peristiwa tidak mengenakkan ini, karena ini murni diluar dugaan dan juga pemikiran lurusnya.
"Tuan... Siapa pun namamu, Aku tidak perduli dengan perasaan cintamu! Cinta yang Kau tunjukkan untukku adalah musibah bagiku. Dan satu hal yang harus Kau ingat, Aku tidak akan pernah menjalin hubungan dengan pria asing tanpa adanya ikatan pernikahan. Dan Aku pun tidak perlu melakukan hal bodoh itu karena Aku wanita bersuami." Celoteh Fazila lagi, kali ini Ia menunjuk wajah Matthew dengan kekesalan yang masih memenuhi rongga dadanya.
Karena kesal Fazila mengurungkan niatnya untuk membeli kue, Ia masuk kedalam mobil kemudian melaju meninggalkan sosok yang berhasil membuat jiwanya merasa terguncang.
Fazila kesal.
Fazila merasa berdosa.
__ADS_1
Walau sudah meluapkan amarah dan menampar Matthew dengan segenap kekuatannya. Amarah Fazila masih saja tak bisa mereda, saat hati merasakan sedih mendalam hanya air mata yang bisa mewakilkan segala rasa, rasa sedih dan juga kecewa.
...***...