
Tubuh Fazila seketika bergetar, mendapat sambutan luar biasa dari semua anggota keluarga Shekar membuat hatinya tak berhenti mengucapkan lafaz Takbir dan Tahmid. Rasa syukurnya kini menembus langit ketujuh, hanya dia sendiri yang tahu betapa besar kebahagiaan yang di rasakan hatinya. Fazila merasa malu pada yang Kuasa, begitu banyak kebahagiaan yang di limpahkan padanya namun rasa syukur dan ibadahnya tidaklah seberapa. Tanpa Fazila rencanakan air matanya langsung terjun bebas dan hal itu menyita perhatian Nyonya Asa.
"Ada apa, sayang? Apa kau tidak suka sambutan ini? Jika kau tidak suka Mama akan membersihkan segalanya, hanya untukmu!" Ucap nyonya Asa menegaskan, kedua tangannya menangkup wajah cantik Fazila.
"Tidak, Ma. Aku bahagia, sangat bahagia. Aku merasa terharu. Sambutan sebesar ini? Dan hanya untukku?" Balas Fazila sambil memegang kedua tangan Nyonya Asa yang masih menempel di wajah cantiknya.
"Sambutan spesial ini hanya untuk wanita terspesial, kau berharga. Lebih berharga dari apa pun. Jika Ummi dan Abi mu bisa memperlakukan mu layaknya putri Raja, maka kami juga bisa. Ini pertama kalinya kau menginjakkan kaki di rumah ini, dan semua ini Mama sebut sebagai anugrah." Ujar Nyonya Asa tanpa melepas senyuman dari wajah cantiknya.
"Ma... Biarkan Fazila masuk. Apa Mama akan menahannya di pintu?" Tuan Anton memegang Bahu Nyonya Asa untuk menyadarkannya. Dia bahkan tidak sadar saking bahagianya.
"Sayang, ayo kita masuk." Kali ini Nyonya Asa beralih menyapa Refal yang sejak tadi dia abaikan.
"Iya, baiklah. Aku bisa apa jika Mama memaksaku." Celoteh Refal sambil menggenggam uluran tangan Nyonya Asa.
Selangkah demi selangkah Fazila mulai memasuki rumah megah kediaman Shekar, seluas mata memandang yang tampak hanya keindahan. Dekorasi setiap inchi kediaman Shekar terlihat sangat menakjubkan.
Ya Allah... Apa surga seindah ini? Menakjubkan. Puji Fazila dalam hatinya melihat keindahan rumah mertuanya.
Di ruang tengah, Fazila semakin di buat takjub. Puluhan orang berkumpul disana menanti kedatangannya.
"Nak, Dosen. Selamat." Ucap Wanita separuh baya seraya mendekati Fazila, wanita itu seusia dengan Mama mertuanya. Ia menyodorkan buket bunga Mawar merah kesukaan Fazila.
"Terima kasih. Ini snagat indah." Ujar Fazila sambil balas tersenyum kearah wanita itu.
"Kau sangat cantik, kalian pasangan yang di buat di Surga. Tetaplah bahagia." Ucap Wanita di sebelah wanita yang tadi memberi Fazila bunga, kali ini ia juga menyerahkan buket bunga Mawar merah.
"Sayang, kami mengundang semua kerabat, sahabat dan tetangga untuk menyambut kedatanganmu. Karena itu hari ini akan di adakan pengajian khusus untuk menyambutmu. Semoga langkah pertamamu di rumah ini akan membawa keberkahan dan juga kebahagiaan untuk kita semua." Ucap Nyonya Asa lagi.
Tidak ada tanggapan apa pun dari Refal, karena ia tahu setiap hal yang dilakukan Mamanya akan tetap bernilai kebaikan.
__ADS_1
"Terima kasih, Ma." Lagi-lagi Fazila hanya bisa mengucapkan betapa besar rasa syukurnya.
"Sayang, tidak perlu berterima kasih. Kamilah yang harus berterima kasih karena kau sudah bersedia menjadikan Refal sebagai bagian dari hidupmu.
Mama tidak bisa menjamin semuanya akan mudah untukmu dan Refal. Mama hanya bisa bilang, tetaplah kuat dalam menjalani hubungan ini, karena kita tidak tahu kapan badai itu akan datang menerjang. Mama tidak bermaksud menakutimu, Mama hanya ingin kau menjadi wanita yang kuat. Kau mengertikan maksud Mama?" Nyonya Asa berucap di depan semua orang yang kemudian di balas oleh senyuman menawan dan anggukan kepala dari Fazila.
Sebuah kecupan hangat mendarat di puncak kepala Fazila, kecupan dari Refal.
Jujur, Fazila merasa malu mendapat perlakuan manis dari suaminya di hadapan lebih dari seratus tamu undangan yang datang untuk menyambut kedatangannya.
"Melan, bawa Kakak Ipar mu kekamar. Bantu dia bersiap."
"Baik, Ma. Ayo, Kak." Melan melingkarkan tangannya di lengan Fazila, kemudian mereka meninggalkan ruang tengah dengan senyuman ramah.
Sementara Fazila, dia hanya bisa mangut mendengar perintah ibu mertuanya, setidaknya hanya itu yang bisa dia lakukan untuk membuat orang tersayangnya merasa bahagia.
...***...
"Pertama kali melihat Kakak, aku berpikir, Kakak Ipar sangat cantik, aku bahkan bertanya-tanya apa Kakak datang dari Surga?" Sambung Melan jujur.
"Bukankah aku sangat bodoh? Aku bahkan berpikir Kak Refal tidak ingin menikah karena menunggu kedatangan wanita secantik Kakak Ipar!" Kenang Melan sembari menatap lekat wajah cantik Fazila, Kakak Iparnya yang tak lebih dari tiga puluh jam.
"Terima kasih karena sudah menyanjungku setulus itu, tapi kau tidak boleh melakukannya." Kali ini Fazila serius. Tatapan matanya menjelaskan Melan akan dalam masalah jika mengabaikan ucapannya.
"Kenapa memangnya?"
"Kemari!" Fazila menjentikkan jarinya, memberikan isyarat agar Melan mendekatkan wajahnya.
"Jika kau memujiku sebesar itu, kasihan wanita lain, mereka akan iri padaku." Guyon Fazila sambil berbisik di telinga Melan.
__ADS_1
Haha!
Sedetik kemudian Melan dan Fazila sama-sama tertawa lepas. Mereka bicara untuk pertama kalinya tapi mereka sudah sangat dekat layaknya sahabat yang terpisah belasan tahun silam kemudian mereka di pertemukan kembali oleh takdir.
"Wah... Melihat kedekatan kalian aku rasa aku tidak perlu takut lagi. Aku pikir kalian saling cakar dan bertengkar seperti saudari Ipar yang ada dalam drama televisi. Itulah alasannya kenapa aku tidak suka menonton drama, ceritanya selalu saja di luar nalarku." Ucap Refal begitu kepalanya menyembul dari balik daun pintu.
"Ihhh... Kakak. Kau mengagetkan kami." Oceh Melan melihat Refal merasa tak bersalah.
Bukannya menghiraukan ucapan adiknya, tatapan Refal malah beralih ketempat lain, mengunci pada satu titik, titik indah yang berhasil membuat dadanya berdebar sangat cepat.
"Nona, kau siapa? Apa kita pernah bertemu? Aku rasa kau salah alamat. Tapi, tunggu sebentar, sepertinya aku pernah melihatmu. Apa kau Nona Fazila istri Pak Gubernur tampan yang pesonanya menembus sampai ke Negeri Jiran?" Refal berucap sambil mencubit hidung bangir Fazila.
"Ihhh, Kakak nakal." Keluh Melan sambil mencubit perut Refal.
Sementara Fazila?
Ia hanya tersipu malu mendengar gombalan suaminya.
"Hay nona kecil, keluar dari sini. Aku ingin bicara dengan Bidadari ini." Tunjuk Refal kearah Fazila. Sebenarnya ia sangat mengagumi kecantikan Fazila namun ia tidak bisa mengatakannya di depan Melan, jika Refal tetap nekat melakukan itu, bahkan dinding rumah tetangga pun akan bergetar karena Melan akan membuka semua rahasianya.
"Iya, baiklah. Jangan lama-lama." Cerocos Melan, ia menyebikkan bibir tipisnya kemudian berlalu dari hadapan Fazila dan Refal.
"Hmm! Sekarang katakan? Apa yang ingin kau katakan? Di depan adikmu kau bertingkah seperti bocah yang baru mengenal cinta. Dan sekarang? Setelah adikmu pergi kau bersikap seperti pria sopan yang takut ketahuan oleh ibunya kalau dia sedang jatuh cinta pada anak tetangga!" Oceh Fazila sambil melipat kedua lengan di depan dada.
"A-apa yang Pak Gubernur lihat?" Fazila bertanya dengan wajah bersemu memerah, ia jadi salah tingkah karena Refal terus saja menatapnya.
Bukannya menanggapi ucapan Fazila, Refal malah membentangkan tangan kanannya. Masih dalam keadaan menatap Fazila dengan penuh cinta.
...***...
__ADS_1