
"Jika kita meninggalkan ruang tengah terlalu lama, semua orang akan khawatir. Katakan, apa pun yang anda inginkan." Fazila mulai membuka suara setelah Ia dan istri Pak Made berada di taman belakang, mereka lebih memilih berdiri.
"Jika anda berpikir saya merayu putra anda, maka saya mohon dengan sangat, hilangkan pikiran itu karena itu merupakan hinaan bagiku." Sambung Fazila lagi, ucapannya tegas tak terbantahkan karena itu memang kebenarannya.
Lima menit berlalu namun tidak ada tanda-tanda Nyonya Made akan memulai percakapannya. Taman belakang di huni oleh dua wanita cantik beda generasi dan sayangnya suasananya tampak senyap.
"Jika tidak ada yang ingin Nyonya katakan, sebaiknya kita kembali ke-dalam. Berada ditempat ini terlalu lama akan berdampak buruk untuk kita berdua." Ucap Fazila sambil menatap lawan bicaranya. Sebenarnya Ia merasa canggung di depan Nyonya Made, namun mau tidak mau dia pun harus menghadapinya. Merasa tidak ada yang perlu dibicarakan Fazila melangkah meninggalkan Nyonya Made.
"Aku minta maaf."
Mendengar ucapan tamu Umminya itu Fazila menghentikan langkah kakinya, ia menatap sosok itu dengan tatapan inten berusaha mencari celah, apakah yang ia dengar benar-benar tulus atau sekedar kepura-puraan lantaran takut hubungan dua keluarga akan terpecah? Entahlah, Fazila tidak bisa menangkap niat wanita paruh baya di depannya.
"Jika alasan Nyonya meminta maaf karena takut hubungan Abi dan Om Made berantakan, Nyonya tidak perlu khawatir karena saya tidak akan mengatakannya.
Saya akui tadinya saya merasa kesal mendengar tuduhan buruk yang Nyonya lontarkan. Tapi, jujur, saya sudah melupakan segalanya." Ucap Fazila sambil tersenyum tipis.
Memaafkan?
Begitu mudahnya Fazila memaafkan kesalahan patal wanita paruh baya yang ada di depannya. Bukannya bertindak sok bodoh, hanya saja selama hidupnya Fazila belajar untuk tidak menyimpan dendam, nama lain dari kehidupan adalah masalah, dan Fazila tidak ingin menambah masalah dengan menciptakan permusuhan. Bukankah keyakinannya mengajarkan sikap berkasih sayang? Iya, itu benar. Ajaran yang diyakininya mengajarkan hal demikian, jika ada orang yang bertindak bodoh karena alasan dendam, sejatinya bukan keyakinannya yang harus di pertanyakan melainkan orang itulah yang telah menyimpang jauh dari keyakinannya sendiri. Dan Fazila menyadari hal itu dengan sangat jelas.
"Tante yang salah karena menuduhmu sembarangan. Tante yang salah karena menghinamu tanpa mencari tahu kebenaran.
Menjalani manis dan pahitnya kehidupan membuat Tante berhati-hati dalam segala hal. Dan Matthew..." Ucapan Nyonya Made tertahan karena air matanya mulai menetes membasahi wajah cantiknya.
"Dia hidup Tante. Tante tidak akan bisa bernafas jika dia berada dalam masalah. Dan anak itu... Dia hampir melakukan kesalahan. Untungnya itu tidak terjadi."
__ADS_1
Fazila terlihat menghela nafas kasar, Ia tahu kemana arah pembicaraan ini berlangsung. Nyonya Made meminta maaf namun sejatinya dia sedang mencecar Fazila dengan ucapan sok lembutnya. Bicara dengan wanita paruh baya di depannya membuat Fazila sadar tidak semua orang bisa memiliki sikap tulus seperti dirinya.
Dret.Dret.Dret.
Syukurlah Ponsel yang ada dalam genggaman Fazila bergetar, setidaknya itu akan menyelamatkannya dari pembicaraan dengan Nyonya Made. Fazila tersenyum, panggilan itu dari sahabat sekaligus sepupunya, anak dari Tante Morgiana. Haidar, polisi tampan dengan segudang prestasi.
"Saya permisi sebentar, saya harus menerima panggilan." Ucap Fazila meminta izin. Tidak ada balasan dari Nyonya Made selain anggukan kepala pelan.
"Assalamu'alaikum... Ada apa? Apa kau menemukan informasi yang ku minta?" Fazila bertanya sekaligus mendesak lawan bicaranya agar segera melaporkan hasil penemuannya.
"Wa'alaikumsalam. Sabar dulu. Kau terlalu terburu-buru." Balas sosok di sebrang sana.
"Kau? Kau sedang makan?" Fazila bertanya karena Ia mendengar suara kunyahan cukup keras.
"Haha!"
Mendengar suara gelak tawa lawan bicaranya membuat Fazila berinisiatif untuk mematikan ponselnya.
Zii... Aku menyukaimu. Sangat menyukaimu, seandainya aku berani jujur pada Mama dan Papa tentang perasaanku padamu, mungkin sekarang kita bisa bersama.
Sayangnya, Aku tidak berani meminta lebih pada Mama Morgiana dan Papa Ikmal. Mereka terlalu baik dan aku beruntung bisa menjadi putra mereka walaupun aku bukan putra kandungnya. Kenang Fazila tentang pembicaraan terakhirnya dengan Haidar, putra angkat dari Tante Morgiana dan Om Ikmal.
Lima tahun berumah tangga, belum juga ada tanda-tanda Tante Morgiana akan di karuniai anak, ditengah keterpurukan Tante Morgiana, Om Ikmal membawa solusi untuk mengadopsi anak. Saat itu lah Haidar hadir dalam hidup mereka dan membawa kebahagiaan, usia Fazila dan Haidar hanya terpaut satu tahun, mereka tumbuh menjadi teman dan juga saudara yang saling menyayangi.
Seiring berjalannya waktu, perasaan Haidar pada Fazila bukan lagi perasaan seorang teman ataupun saudara, ada perasaan cinta yang ikut andil di dalamnya, selama beberapa waktu Haidar bahkan tidak berani menatap Fazila, Ia memutuskan menjadi polisi hanya untuk melindungi sepupu tercintanya, Fazila. Saat Fazila memutuskan menerima pinangan Refal, Haidar memilih untuk menghindar, dan malam ini pria rupawan itu memberanikan diri untuk menelpon, tentu saja Fazila merasa bahagia.
__ADS_1
"Iya, baiklah. Akan ku katakan, Aku menemukan pria yang kau cari, selama ini kau tidak sadar kalau suamimu yang lebay itu menyewa beberapa Bodyguard untuk menjagamu, dan selama itu pula ada beberapa preman yang mengikuti setiap aktivitasmu.
Kau harus berterima kasih pada Refal, berkat pengawal suruhannya, preman yang mengincarmu tidak bisa mendekatimu. Sekarang preman itu ada dalam pengawasanku, jika kau ingin bertemu dengannya, kau bisa datang kekantor. Tapi sebelum itu kau harus menceritakan semuanya pada Paman Alan dan Bibi Fatimah. Dan yang paling penting, kau harus mengatakan semuanya pada Refal agar dia tidak salah paham." Ucap Haidar menjelaskan panjang kali lebar.
"Baiklah. Akan ku lakukan."
"Aku akan berkunjung ke kantormu besok."
Setelah mengucapkan salam, Fazila memutus sambungan telponnya dengan Haidar. Saat ini Ia kembali berdiri di depan Nyonya Dewa, wajah itu terlihat memamerkan kekesalannya.
"Saya minta maaf karena meninggalkan anda. Tadi itu sepupuku, anak dari saudara Abi." Ucap Fazila menjelaskan, padahal dia tidak perlu menjelaskan apa pun.
"Nyonya tidak perlu mengatakan apa pun. Jika Nyonya menemuiku hanya untuk meminta maaf, saya sudah memaafkan Nyonya." Ujar Fazila lagi, ia menggenggam tangan Nyonya Dewa sambil tersenyum tipis.
"Kamu memanggil suamiku dengan panggilan Om, jika kamu benar-benar sudah memaafkanku, panggil aku dengan pangilan Tante!" Pinta Nyonya Dewa dengan tulus.
"Apa itu sulit?"
"Jika sulit, maka jangan lakukan. Kau bisa memanggiku senyaman yang kau bisa, aku tidak akan mengeluh."
"Tidak Tante, Fazila tidak keberatan." Fazila berucap sambil memajukan tubuhnya mendekati Nyonya Dewa, Ia memeluk wanita paruh baya itu sambil mengusap punggungnya. Perdebatan itu sangat mudah di selesaikan selama kau menginginkannya, tidak akan sesulit menguraikan benang kusut.
Syukurlah, Haidar berhasil menangkap orang yang selalu mengancam keluargaku. Akan ku pastikan untuk memberikanmu pelajaran yang tidak akan pernah kau lupakan. Sungguh, tidak ada kabar yang lebih baik dari kabar ini. Batin Fazila sambil mengepalkan tangannya. Ia melepaskan pelukannya dari tubuh Nyonya Dewa kemudian berjalan masuk ke dalam Mansion utama kediaman Wijaya.
...***...
__ADS_1