
Di jalanan yang sepi, berlari Fazila dengan kekuatan penuh. Setelah berhasil melepaskan ikatan di tangan dan kakinya, Ia menyelinap seperti pencuri hanya untuk meninggalkan bangunan tua itu. Tidak mudah bagi Fazila, karena baru saja Ia pergi, dua orang mengejarnya sambil bersiul.
"Hay manis... Percuma kau lari, karena sampai keujung dunia pun, aku pasti akan mencarimu. Aku tidak akan membiarkanmu pergi setelah aku bekerja keras untuk menangkapmu." Ucap seorang pria yang mengendarai roda dua. Ia tersenyum bahagia karena buruannya tidak akan bisa menghindarinya sekuat apapun Ia berlari.
"Aku bilang berhenti."
"Jika kau tidak berhenti, aku pastikan akan menghabisimu."
Fazila yang terlanjur keluar meninggalkan bangunan tua itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk pergi. Bahkan setelah pria bengis itu memintanya untuk berhenti, Ia tetap berlari tanpa menghiraukan apa pun.
Dorrrr!
Suara tembakan itu terdengar bergema di indra pendengaran Ummi Fatimah. Nampak jelas raut wajah kesakitan Fazila. Sekian detik kemudian, tubuh ramping itu tumbang di jalanan sepi. Ummi Fatimah tidak melihat apa pun lagi karena penglihatannya tertutup oleh warna merah darah.
Ahhhhh!
__ADS_1
Suara teriakan Ummi Fatimah bergema di indra pendengaran semua orang, Tuan Alan yang menyadari istrinya mulia sadar setelah dua jam tak sadarkan diri akhirnya bisa merasakan lega.
"Mbak sudah sadar? Syukurlah. Kami semua sangat khawatir!"
"Mbak tidak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik saja." Ucap Nyonya Asa berusaha menenangkan besannya.
"Tidak ada yang baik-baik saja, putriku dalam masalah besar."
"ABii... Ummi mohon, temukan putri kita. Mereka akan membunuhnya."
"Ummi percaya padaku, kan?"
"Fazila bukan hanya hidup Ummi, Fazila juga hidupku."
"Aku menikahinya atas izin Ummi dan Abi, dan aku sangat mencintainya. Cintaku pada putri kalian lebih besar dari cintaku pada siapa pun."
__ADS_1
"Aku bersumpah demi cintaku pada putri Ummi dan Abi, aku akan membawanya pulang dengan selamat. Ummi dan Abi bisa pegang janjiku." Ucap Refal meyakinkan.
Bagaikan bumi yang telah lama mati, ucapan Refal bagaikan hujan yang menghidupkan keyakinan Ummi Fatimah.
"Apa kau bersungguh-sungguh? Apa Ummi bisa memegang ucapanmu?" Ummi Fatimah bertanya hanya untuk menenangkan hati dan pikirannya.
Tidak ada balasan dari Refal selain anggukan kepala pelan. Mengisyaratkan semua ucapannya bukanlah omong-kosong belaka, karena itu memang kebenarannya. Tak jauh dari tempat Ummi Fatimah berada, duduk Matthew, Fatih, Umang dan Regan di sofa yang sama, ketiga adik Fazila tertidur sambil menyandarkan kepada di sandaran sofa.
Sementara Matthew? Hatinya terasa diiris sembilu, mendengar pengakuan cinta Refal di depan Ummi Fatimah membuatnya tak bisa menahan lelehan air mata, Matthew tahu Ia tidak boleh melakukan hal itu, namun mau bagaimana lagi, rasa cemburu tiba-tiba saja menelusuk memenuhi rongga dadanya.
"Pak Gubernur, ada kabar baik."
"Nyonya sudah di temukan, preman itu menyekap beliau di luar kota. Tepatnya di sebuah pabrik yang sudah lama tak digunakan." Lapor Bima dengan semangat empat lima. Ucapan Bima berhasil menerbitkan senyuman di bibir Ummi Fatimah yang sejak tadi menangis. Tak perlu menunggu lebih lama lagi. Setelah berpamitan, Refal, Bima, dan Matthew langsung meluncur menuju tempat yang dimaksud Bima.
...***...
__ADS_1