
Lima menit!
Seharusnya hanya butuh waktu lima menit untuk bisa sampai di lantai dasar, ternyata berdiri di dekat pria nomer satu itu tidak mudah bagi Fazila, setiap orang yang mereka temui berjabat tangan, menyapa atau memberi hormat pada Refal, dan hal itu membuat mereka membutuhkan waktu setidaknya lima belas menit untuk bisa berdiri di halaman depan Hotel tanpa ada siapa pun yang mengganggu mereka.
"Terima kasih karena Nona Fazila mengerti kode yang ku berikan. Maksudku, meminta waktu agar perjodohan ini tidak perlu menjadi perdebatan." Refal mulai membuka suara di antara senyapnya udara, tanpa melepas pandangannya dari wajah merunduk Fazila.
Hhmmm!
Suara helaan nafas kasar Fazila membuat Refal mengerutkan keningnya. Refal bahkan tidak bisa mengartikan senyuman tipis di wajah cantik Fazila.
"Pak Gubernur! Aku ini seorang Dosen. Aku tahu kapan mahasiswa ku jujur dan kapan mereka berbohong. Aku juga bisa menebak, apa mereka bahagia atau justru jenuh saat aku berdiri di depan kelas untuk mengajarkan pengetahuan baru. Aku cukup berpengalaman untuk hal sesederhana itu.
Dan malam ini, anda? Aku bisa menebak dari cara anda menatapku. Tatapan itu seolah mengatakan, aku tidak ingin terlibat dengan semua ini. Apa aku benar?" Kali ini Fazila memberanikan diri menatap wajah tampan Refal.
Tidak ada jawaban dari Refal selain menampakkan wajah bingungnya.
"Aku bukan tokoh lemah dari sebuah novel yang akan memberikan dirinya di tindas. Bagiku, cinta adalah karunia terindah dari Allah, dan aku ingin menikmati cinta itu secara utuh setelah pernikahan.
Aku tidak akan memberikan diriku kesempatan untuk terluka. Aku juga tidak akan meberikan hak pada siapa pun untuk menyakitiku. Aku tidak ingin pernikahan kita hanya di atas kertas, kemudian aku akan menderita sendirian. Jadi aku putuskan meminta waktu pada kedua orang tua kita." Ucap Fazila menjelaskan.
Refal yang berdiri di depan Fazila terlihat berpikir, ia tidak tahu ucapan apa yang harus ia ucapkan di depan gadis secerdas Fazila. Membuat alasan tidak akan berguna dan Refal tahu itu.
"Aku meminta waktu bukan untuk Pak Gubernur, tapi untuk diriku sendiri. Aku tidak mau terlibat dalam hubungan ini jika Pak Gubernur hanya akan menyiksa perasaanku setelahnya.
Jika ku lihat dari cara Pak Gubernur diam tanpa ada bantahan, aku yakin masih ada cinta terpendam untuk gadis lain. Dan aku tidak ingin bersaing dengan siapa pun, aku juga tidak ingin memberikan anda pilihan karena aku bukan pilihan." Celoteh Fazila menegaskan. Tidak ada pilihan bagi Fazila selain memperjelas semuanya sebelum ada ikatan diantara dirinya dan Refal. Apa gunanya menempatkan dirinya dalam masalah jika dia tahu dia lebih bahagia saat sendirian.
Puhhhh!
__ADS_1
Uhuk.Uhuk.Uhuk.
Refal dan Fazila, mereka menatap kearah sumber suara. Tak jauh dari tempat mereka berdiri ada Bima, Asisten Refal yang sedang batuk karena tersedak kue yang dia makan.
"Apa anda baik-baik saja?" Fazila bertanya sambil menatap Asisten Refal, sedetik kemudian ia mengalihkan pandangannya kearah kue yang berserakan di lantai.
"Dia baik-baik saja. Jangan hiraukan dia. Dia hanya terkejut melihat kita disini." Refal angkat bicara karena itu memang kebenarannya.
"Ja-jadi gadis yang akan di jodohkan dengan Pak Gubernur itu Nona Dosen?" Bima bertanya sambil menatap wajah Refal dengan tatapan yang menunjukan keterkejutannya.
"Iya, dia orangnya." Balas Refal dengan suara parau.
Fazila yang berdiri di depan kedua pria rupawan itu terlihat heran, ia merasa seolah sedang di abaikan.
"Waw Pak... Anda mendapatkan berkah dari yang Kuasa. Jika Bapak mau saya bisa bekerja lembur menyelesaikan segalanya, maksud saya semua pekerjaan yang masih tertunda agar pernikahan Bapak dan Nona Dosen tidak mengalami gangguan apa pun."
"Bima, tutup mulut mu!" Kali ini Refal memelototi Asistennya, ia sangat kesal sampai ingin menghajar wajah tampan Bima.
Refal menarik nafas dalam kemudian membuangnya kasar dari bibir, ia menatap Fazila dengan tatapan penyesalan. Mendengar ucapan Asistennya semakin membuatnya kesal.
Pernikahan?
Untuk Refal, satu kata itu masih terlalu jauh untuk bisa dia wujudkan. Karena tingkah konyol asistennya, Refal malah bertindak bodoh di depan Fazila. Berdebat dengan Asistennya di depan gadis cantik itu merupan aib besar baginya.
"Maafkan kami Nona Fazila! Saya mengerti maksud anda. Akan saya pikirkan solusi dari masalah ini agar kita tidak terluka." Ujar Refal tanpa melepas tatapan dari wajah cantik Fazila. Bibir tipis itu memamerkan senyuman terpaksa.
"Baiklah. Saya harus pergi. Assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam Warahmatullah." Balas Refal dan Bima bersamaan.
Mereka menatap Fazila yang pergi menggunakan matiknya. Sedetik pun Refal tidak mengedipkan mata hingga Fazila tak terlihat lagi oleh netra indahnya.
"Nona Dosen gadis yang luar biasa." Sanjung Bima sambil membayangkan wajah cantik dan senyuman menawan milik Fazila.
"Kenapa kau berkata seperti itu?" Refal yang mendengar ucapan tulus Asistennya langsung menoleh dan menatap Bima dengan tatapan tajam.
"Siapa yang menyangka gadis cantik sekelas Nona Fazila berasal dari keluarga luar biasa, kemana-mana hanya menggunakan skuter tua. Jika aku yang jadi Bapak, aku tidak akan menolak kesempatan ini. Kesempatan untuk meraih bahagia dan mendapatkan Bidadari Surga." Celoteh Bima tanpa menghiraukan wajah Refal yang mulai berubah kesal.
Sedetik kemudian.
Pletakkk!
Satu sentilan keras mendarat tepat di jidat Bima. Antara kesal dan cemburu, Refal tidak bisa membedakan dua perasaan itu.
"Apa kau tidak waras? Kenapa kau menyangjung Nona Fazila di depanku dan tanpa seizinku? Apa kau ingin tiada sebelum waktunya! Dasar payah." Umpat Refal sembari meninggalkan Bima yang masih berdiri mematung.
Aku mengenal mu, Pak. Kenapa kau tidak bilang kau mulai menghormati Nona Dosen dan ingin dekat dengannya. Semoga saja mimpi buruk tentang Nona Hilya akan segera menghilang dari hidup mu dan di gantikan bahagia yang berlipat ganda di sebabkan hadirnya Nona Fazila. Batin Bima sembari berlari mengejar Refal yang sudah lebih dulu masuk kedalam mobil.
...***...
Waktu menunjukan pukul 3.00. Entah kenapa Matthew belum bisa memejamkan mata. Semakin ia berusaha untuk tidur, semakin bayangan Fazila menyelinap masuk di relung jiwanya. Ia bahagia tanpa sebab dan ia mulai merindukan sosok Fazila. Bahkan bayangan indah gadis itu seakan menari-nari di pelupuk matanya.
"Ada apa ini? Kenapa Nona pemarah itu terus saja menggangguku? Semenjak melihatnya di Restorant waktu itu, dia terus saja mencuri setiap malam ku. Untuk pertama kali dalam hidupku ada wanita yang berani menggangguku." Ujar Matthew sembari bangun dari ranjang. Tangan kirinya meraih rokok yang di letakkan di atas nakas, menyalakannya kemudian menghisapnya perlahan.
Puhhh!
__ADS_1
Asap yang bersumber dari sebatang rokok yang di nyalakan Matthew berhasil menepis sedikit rasa rindunya, entah sejak kapan rokok berhasil menenangkan gundah seorang Matthew Adyamarta.
...***...