
Senja di Pulau Dewata!
Waktu menunjukkan pukul 4.50 ketika Matthew menginjakkan kakinya di tanah kelahirannya, Bali.
Bali dengan berjuta-juta pesona indahnya sanggup menghipnotis setiap mata yang berusaha meluangkan waktu dan menenangkan jiwa hanya untuk melepas kepenatan akibat kelelahan bekerja.
"Hay... Bli Matthew, kapan kau kembali dari Jakarta?" Seorang pria tiba-tiba datang dan mengganggu lamunan Matthew.
"Hay... Aksa. Senang berjumpa dengan mu, aku tidak menyangka kita akan bertemu disini." Balas Matthew sembari tersenyum kearah teman kuliahnya dulu. Tiba-tiba saja raut wajahnya berubah total saat menatap wanita yang berdiri di samping Aksa, senyumannya menghilang begitu saja.
"Hay Adya... Apa kabar? Kau tetap tampan seperti dulu. Bisa melihat mu disini adalah keajaiban besar untuk ku!" Ucap wanita yang datang bersama aksa. Tatapannya di penuhi oleh kerinduan mendalam, sayangnya ia bahkan tidak bisa menyalurkan perasaan itu setelah sekian lama terpisah.
"Kadek, kau bersama Aksa? Apa sekarang kalian...?" Ucapan Matthew tertahan di tenggorokannya.
"Tidak Bli Matthew, itu tidak benar. Aku dan Kadek tidak menjalin hubungan yang spesial, kami hanya berteman. Semenjak Kadek berpisah dari Bli, Kadek bahkan tidak melirik pria manapun." Ucap Aksa jujur, wajahnya memamerkan senyuman. Senyuman yang coba ia paksakan.
Dari sudut pandang Matthew, ia bisa membaca dengan jelas kalau Aksa memendam perasaan cinta untuk Kadek Suciati Maharani. Entah pria itu berani mengungkapkan perasaannya atau tidak, Matthew benar-benar tidak ingin mengetahui kenapa dan bagaimana hal itu bisa terjadi.
"Haha! Bli bisa saja, itu tidak benar. Kadek pasti sudah mendapatkan penggantiku, lihat saja wajahnya, wajahnya semakin cantik dan semakin cantik, itu tandanya seseorang telah berhasil membuatnya bahagia." Celoteh Matthew tanpa melepas senyuman menawan dari bibir tipisnya.
"Hay... Aku ada disini! Kenapa kalian bicara seolah aku tidak ada di tempat ini?" Kadek membuka suara sambil menatap kedua pria rupawan yag berdiri di depannya secara bergantian.
__ADS_1
"Adya... Aku marah padamu! Setelah kita berpisah kau bahkan mengabaikan ku. Kenapa kau tidak pernah bertukar kabar dengan siapa pun? Aku bahkan tidak lebih dari seorang penguntit.
Setiap detik aku hanya mencari kabar mu dari Instagram yang kau Update setiap hari. Apa kau tidak berpikir kalau kami yang pernah mengenalmu merasa rindu padamu?" Kadek mencecar Matthew dengan pertanyaan yang menuntut jawaban singkat namun tepat.
"Kenapa kau sangat serius. Akhir-akhir ini aku memang sangat sibuk. Karena merasa penat berada di rumah aku datang ketempat ini.
Jadi kalian... Tidak perlu mencecarku dengan pertanyaan. Karena bisa saja di detik selanjutnya aku akan pergi meninggalkan kalian tanpa ada pemberitahuan." Ujar Matthew dengan gaya khas-nya. Setengah bercanda, dan setengah serius.
"Bli Matthew... Apa yang di katakan Kadek memang benar! Aku juga memantau keadaanmu dari Instagram. Beberapa postingan yang kau unggah di media sosial menjelaskan kalau kau sedang kasmaran. Apa aku salah?" Kali ini Aksa bertanya serius. Ia tidak yakin Matthew akan menjawab pertanyaannya. Walau demikian, setidaknya dia berusaha mencari kebenaran pada orang yang tepat.
Tidak ada balasan dari Matthew selain senyuman menawan yang coba ia pamerkan, senyuman yang tidak bisa Kadek dan Aksa artikan.
"Aku harus bilang apa? Dalam setiap ruang dan waktu yang kau lewati akan ada satu titik dimana kau tidak ingin moment itu lekas berakhir. Dan saat ini aku berada dalam moment itu." Matthew kembali menatap Bli Aksa dan Kadek. Kadek yang merupakan mantan kekasihnya.
Dia gadis pemarah! Tapi aku sangat suka gayanya. Senyumnya! Tatapan matanya! Caranya bicara! Pesona indahnya! Caranya menutup auratnya! Dan semua yang ada dalam dirinya benar-benar menghipnotisku.
Berada dekat dengannya membuatku menyadari waktu cepat berlalu. Dan berada dekat dengannya membuatku menyadari agar aku menghormati waktu itu. Aku jatuh cinta! Dan sepertinya aku memang sedang jatuh cinta!" Ucap Matthew panjang kali lebar. Memorinya membawanya kembali pada ingatan gadis anggun yang bahkan tidak ia ketahui namanya.
Matthew terlalu larut dalam bahagia sampai melupakan Kadek yang saat ini menatapnya dengan kesedihan mendalam. Apalagi yang lebih menyedihkan dari seorang gadis saat perasaannya mulai diabaikan? Dan apa lagi yang lebih menyedihkan dari seorang gadis saat ia mulai mendengar pria yang sangat ia kagumi dan cintai mengangumi wanita lain? Kepedihan hati kadek ia pendam di dalam hatinya sembari memamerkan senyuman paksaan. Dan sesungguhnya itu pun bukan kesalahan Matthew, karena baginya Kadek hanya masa lalu, masa lalu yang akan ia simpan di bagian terdalam lubuk hatinya.
Sama halnya aroma ombak senja di Pulau Dewata sore ini menenangkan hati Matthew, maka sebesar itu pula kesedihan yang tergambar bagi seorang gadis cantik Kadek Suciati Maharani.
__ADS_1
...***...
Prok.Prok.Prok.
Semua anggota keluarga dari pihak Fazila maupun Refal bertepuk tangan melihat moment membahagiakan di depannya. Kini dua jiwa yang berbeda akan segera di satukan dalam ikatan berbeda, ikatan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh Fazila.
Sebuah cincin melingkar indah di jari manisnya, cincin yang Refal sematkan sedetik yang lalu. Entah ia harus sedih atau bahagia? Fazila benar-benar tidak tahu. Yang ia tahu Ummi dan Abinya terlihat bahagia dengan hubungan ini. Mengetahui semua itu, itu sudah cukup untuk membuat Fazila bahagia. Dan yang lebih penting dari pada sekedar memikirkan perasaan orang lain, Fazila tidak merasa terpaksa bersanding dengan pria rupawan yang saat ini duduk bersimpuh di dekatnya. Walau cinta belum terbit di hatinya, Fazila yakin cinta itu akan datang secara perlahan tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.
"Fazila, Refal. Kami semua sudah sepakat kalian tetap akan melangsungkan akad Nikah lusa. Kami semua ingin merayakan pesta besar-besaran agar semua orang yang mengenal kalian bisa merasakan kebahagiaan seperti yang kami rasakan.
Sayangnya, setelah Mama bicara dengan Bima. Sepertinya pesta pernikahan kalian akan kita tunda sampai bulan depan. Hal ini berkaitan dengan kesibukan Refal yang tidak bisa di ganggu gugat." Ucap Nyonya Asa di depan semua orang.
"Apa kau keberatan Nak Fazila kalau pesta pernikahan kalian di tunda?" Nyonya Asa bertanya sambil menatap wajah cantik calon menantunya, menantu idaman.
"Tidak, Tante. Fazila tidak keberatan. Lakukan apa pun yang ingin kalian lakukan. Fazila sama sekali tidak keberatan. Asal... Pak Gubernur juga setuju." Jawab Fazila dengan kepala tertunduk, ia tertunduk karena menatap cincin berlian yang melingkari jari lentiknya.
"Fazila, Nak. Panggil Aku Mama. Mulai saat ini kau putriku." Ujar Nyonya Asa sambil menggenggam kedua tangan Fazila.
Untuk sesaat, Fazila terdiam. Ia menatap Ummi dan Abinya secara bergantian. Kemudian ia menatap Refal yang duduk di dekatnya, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari lisan Refal, pemuda tampan yang akan menjadi suaminya itu hanya menganggukkan kepala pelan, mengisyaratkan kalau ucapan Mamanya tidak salah.
Memanggil Nyonya Asa Mama? Secepat ini? Rasanya sedikit aneh karena ini pertama kalinya. Tidak apa-apa, aku akan mencobanya. Batin Fazila sambil menatap Nyonya Asa yang saat ini mendesaknya agar mengucapkan ucapan yang sangat ingin di dengarnya.
__ADS_1
...***...