Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Pria Mesum


__ADS_3

"Habiskan makanan mu dan jangan bicara lagi." Ucap Fazila sembari menatap rekan dosennya dengan tatapan tajam. Sedetik kemudian wajah cantiknya mengukir senyuman.


Abi bilang, aku harus menempatkan diriku sebagai seorang tamu dan mengamati kinerja karyawan hotelnya terutama di Restaurant. Baiklah, akan ku lakukan dan akan ku perhatikan apa di tempat ini ada kesalahan atau tidak? Tapi, jika di lihat-lihat semuanya tampak normal. Fazila bergumam di dalam hatinya sembari memasukkan potongan terakhir kue ke dalam mulutnya. Netra teduhnya menatap ke sembarang arah.


"Zii... Kau tahu, kemarin malam aku bertemu dengan pria tampan di Clab malam. Wajahnya nyaris sempurna. Sungguh, aku tidak pernah bertemu pria rupawan melebihi dirinya.


Kemarin malam aku sampai memimpikan dirinya. Entah dimana aku bisa bertemu dengan-nya lagi. Aku berharap bisa melihatnya entah itu di dalam mimpi lebih-lebih di dunia nyata."


Mendengar ucapan rekannya membuat Fazila hanya bisa menghela nafas kasar. Ia sendiri tidak tahu harus berkomentar apa.


Bertemu di Clab malam? Benar-benar tidak bisa di percaya. Fazila kembali bergumam sembari mengarahkan pandangan ke arah meja yang tidak terlalu jauh dari meja makannya.


Tiga pria tampan dengan penampilan rapi duduk di satu meja, sementara itu seorang pelayan berdiri di sisi kirinya, gadis muda dengan wajah yang di balut dengan make up tipis. Dia cukup cantik. Dan satu lagi, seragam kerjanya pun terlihat sopan, menjuntai hingga ke bawah lutut. Sebenarnya ide membuat seragam para pelayan di hotel 'Miracle Of Love' murni ide Fazila. Ia meminta Abinya membuat kebijakan untuk mengganti seragam yang bisa mengundang sahwat pria hidung belang di Hotel yang di kepalai oleh Abinya sendiri.


Fazila menyipitkan Mata indahnya, kemudian menatap tajam kearah meja yang terdiri dari tiga pria itu. Ia bahkan menghentikan gerakan tanganya yang ingin menyeruput kopi hangat yang masih tersisa setengah cangkir.


Fazila berjalan mendekati meja itu. Kebetulan meja di dekat ketiga pria itu kosong, dan tanpa berpikir panjang Fazila langsung duduk di sana. Ia bahkan tidak menghiraukan kedua rekannya yang sedari tadi memanggilnya dengan nada suara kecil, atau tepatnya hanya dengan isyarat.


Tangan Fazila terasa gatal. Rasanya ingin menghajar salah satu pria yang duduk di dekat mejanya.


"Hay Girl, kenapa kau mau bekerja sebagai pelayan? Kamu terlalu cantik untuk itu."


Fazila menahan nafasnya karena kesal, tangan pria itu tidak tinggal diam. Bukannya meraih sendok dan garpu di atas meja, pria itu malah membawa tangan kurang ajarnya menyentuh paha pelayan wanita itu.

__ADS_1


Gadis muda yang bekerja sebagai pelayan itu tersentak, hampir saja makanan yang ada di tangannya terjatuh karena kaget. Tatapan matanya sangat tajam.


"Ssttt! Jangan katakan apa pun, aku rekan bisnis pemilik hotel ini. Jika kau berani mengatakan apa pun maka karir mu akan segera tamat." Ancam pria mesum itu.


Glekkkkk!


Fazila menelan saliva sebari menahan amarah yang semakin memenuhi rongga dadanya. Bukannya minta maaf, pria itu malah mengancam karyawan Abinya dengan ancaman murahan.


"Tuan, aku bekerja di sini dengan penuh dedikasi, bukan untuk menerima perlakuan buruk ini." Karena banyak tamu dan merasa takut gadis itu bicara dengan nada suara kecil.


"Oohhh, jadi kau mau di tempat yang sepi. Ayo kita ke kamar ku." Pinta pria mesum itu sembari tersenyum lebar, ia bahkan terlihat seperti Iblis yang kelaparan. Anehnya, kedua rekan yang duduk di samping kiri dan kanannya hanya bisa tersenyum penuh kemenangan.


Fazila mulai tak sabar untuk melayangkan tinju di wajah tidak tahu malu itu. Saat pria mesum itu akan menyentuh kembali paha pelayan itu, Fazila langsung mencengkram lengannya hingga pria itu meringis kesakitan.


"Hay Nona, apa maksud mu? Pergi dari sini!" Balas pria itu tak kalah ketusnya.


"Aku akan pergi jika pria tidak tahu malu dan tak punya sopan santun sepertimu pergi dari tempat ini." Ucap Fazila lagi.


Gadis yang tadinya mendapat perlakuan tidak sopan hanya bisa berdiri di belakang Fazila dengan perasaan takut. Takut di pecat.


"Kenapa gadis itu tidak sopan pada tamu?" Sekilas Fazila mendengar orang berbisik dan menyalahkan dirinya namun ia tidak perduli dengan hal itu karena baginya yang salah tetap salah dan harus di luruskan.


Sontak tiga pria yang duduk di satu meja itu berdiri sambil menatap tajam kearah Fazila, seolah tatapan itu akan menguliti lawan bicaranya. Namanya Fazila, ia tidak akan pernah gentar oleh ancaman yang bersumber dari lawan kasarnya.

__ADS_1


"Aku kesini untuk menikmati waktu ku, berani sekali wanita ******* seperti mu mengganggu kesenangan ku! Pergi dari sini atau aku akan mematahkan lengan mu! Melihat mu dari sudut mana pun kau sama sekali tidak menarik, jadi jangan mencampuri urusan orang lain." Dengus pria itu memaki Fazila dengan kasar.


Huhhhh!


Fazila membuang nafas kasar, ia mulai merasakan sekujur tubuhnya merinding. Rasanya ia ingin menyumpal mulut pria kasar yang berdiri di depannya dengan saus pedas yang ada di atas meja.


*******?


Satu kata itu membuat amarah Fazila semakin menemui titik puncaknya. Bagaimana bisa ada makhluk jahil yang mengatainya ******* lantaran dia memakai kain penutup kepala. Di saat seperti ini tidak ada yang ingin Fazila katakan selain menunjukkan wajah kesal dengan mata indahnya yang mulai memerah karena amarah.


"Jaga bicara mu jika kau tidak ingin pergi dari sini dengan wajah menahan malu." Celetuk Fazila sembari mundur dua langkah karena pria mesum itu berjalan maju mendekati Fazila.


"Zii... Ada apa dengan mu? Kita datang untuk makan, bukan untuk mencari musuh, apa lagi pria yang kau ajak bertengkar terlihat sangat menakutkan. Ayo, kita kembali saja ke kampus." Ucap salah satu wanita yang datang bersama Fazila, atau tepatnya rekan kerjanya di kampus.


"Tuan, maafkan sahabat kami. Ayo Zii." Sambung wanita itu lagi, kali ini ia menarik lengan Fazila sambil memutar bola matanya.


Sayang sekali, masalahnya terlanjur keruh. Pria mesum itu tidak membiarkan Fazila pergi dengan mudah, bagai di sambar petir di siang bolong, urat kesabaran Fazila akhirnya putus juga, pria itu meraih jemari lentiknya sambil mamerkan senyuman memesona.


Fazila membalik badan menatap tangannya yang masih di genggam erat oleh pria mesum itu, giginya bergemeletuk karena amarah. Sekali lagi ia bertemu dengan pria yang berani melakukan kekurang ajaran padanya. Terakhir kali, seorang pria kurang ajar berani memegang pundaknya saat menyelamatkan Maya, Fazila menghajarnya hingga terkapar dan tak sadarkan diri di lantai. Entah apa yang akan Fazila lakukan saat ini, tatapannya sangat tajam, bahkan ia tidak lagi menghiraukan semua mata yang menatapnya dengan tatapan heran.


Kenapa kau mengganggu Singa yang sedang tidur? Habislah kau...! Gumam Fazila sambil menepis tangan kurang ajar yang masih melingkar di jemari lentiknya tanpa izin.


...***...

__ADS_1


__ADS_2