Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Meminta Waktu!


__ADS_3

Terkejut!


Setidaknya hanya satu kata itu yang saat ini memenuhi rongga dada Refal. Ia bahkan tidak bisa menggerakkan bibirnya walau sekedar untuk menyapa, menyapa Fazila yang saat ini berdiri di depannya.


Apa aku sedang bermimpi? Bagaimana bisa Dosen ini ada di dalam pertemuan keluarga? Atau dia sedang tersesat karena ini pertama kalinya dia memasuki ruang VIV? Tidak mungkin Dosen seperti dirinya bisa masuk ketempat terjangkau ini jika hanya mengandalkan gaji bulanan yang tidak seberapa! Refal bergumam di dalam hatinya, kepalanya tertunduk.


Untuk Fazila, semuanya terasa biasa-biasa saja. Ia bahagia bertemu dengan Ummi dan Abinya namun merasa canggung di depan Tuan dan Nyonya Sekar. Ia bahkan belum melihat dengan benar dengan siapa dia akan di pertemukan.


"Nak Fazila, Tante bahagia karena kau mau datang ketempat ini. Tante pikir kau akan menolak keinginan kami karena kau gadis sempurna yang bisa mendapatkan pria manapun yang kau inginkan." Ucap Nyonya Asa sambil menangkup wajah cantik Fazila dengan kedua jemarinya.


Refal yang mengetahui dengan siapa dia akan di jodohkan tiba-tiba berubah menjadi sosok pendiam.


"Perkenalkan, dia putra Tante. Dia seorang..."


"Gubernur!" Sambung Fazila tanpa di duga.


"Wah... Kalian saling mengenal? Itu bagus, itu artinya kami sebagai orang tua tidak perlu lagi melakukan usaha apa pun!" Sambung Tuan Anton tak kalah antusias di bandingkan dengan istrinya.


Refal dan Fazila!


Untuk sesaat mereka saling menatap karena masih tak percaya dengan situasi yang mereka hadapi saat ini. Jika mengingat bagaimana Fazila terjauh kedalam pelukan Refal karena ulah adiknya, rasanya Fazila ingin menghilang dari penglihatan semua orang, kejadian itu benar-benar memalukan sampai dia tidak bisa menatap wajah Refal.


"Refal, kau kenal Fazila, Nak? Kenapa kau tidak pernah mengatakan apa pun?" Nyonya Asa bertanya, mencoba menggali informasi.


"Kami bertemu beberapa kali, dan dalam kondisi yang tidak baik." Balas Refal jujur, karena itu memang kebenarannya. Pertama kali bertemu, mobil dinasnya menghantam kendaraan roda dua Fazila hingga menyebabkan Fazila terluka. Di pertemuan kedua, gadis cantik di depannya itu malah jatuh dalam pelukannya.

__ADS_1


"Kita makan dulu, setelah itu kita akan bicara." Ucap Tuan Alan sambil menuntun Fazila agar duduk di dekat Umminya.


Tak perlu menunggu lama, beberapa pelayan langsung datang membawakan menu spesial yang sudah di minta Tuan Alan.


Make up tebal dan berpakaian seksi! Refal merasa bersalah telah mengatakan itu di depan Bima. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu Fazila, ia akui gadis yang duduk di depannya itu jauh berbeda dengan sosok yang ada dalam benaknya. Fazila menggunakan pakaian tertutup yang hanya memperlihatkan wajah dan telapak tangannya, jari-jari lentiknya pun terlihat sangat indah.


Menurut Refal, Fazila laksana lukisan mahal yang di pajang oleh pelukis ternama. Gadis cantik itu pun tidak menggunakan make up tebal seperti prediksinya, wajah cantik itu nampak polos, bibir tipisnya pun merah alami. Gamis merah muda yang ia gunakan tampak indah di tubuh langsingnya.


"Bagaimana dengan pekerjaan Nak Fazila? Apa semuanya berjalan lancar? Jika ada gangguan, kau bisa minta tolong pada Refal. Jangan sungkan padanya.


Jika dia tidak mau membantu mu, katakan pada Tante. Tante akan memberikan hukuman yang tidak akan pernah bisa dia lupakan." Ucap Nyonya Asa setelah meletakkan sendok dan garpu di piring yang menyisakan makanan tinggal setengahnya.


"Nyonya Asa tidak perlu khawatir, Fazila ku sangat mandiri. Dia tidak akan pernah meminta bantuan pada siapa pun selama dia masih bisa melakukannya. Di luar dia memang terlihat seperti gadis manja yang doyan belanja, padahal sebenarnya itu tidak benar." Sanjung Bu Fatimah dengan penuh bangga. Tentu saja dia bangga karena putrinya satu di antara seribu.


Fazila dan Refal!


"Fazila, sayang. Bagaimana pendapat mu tentang Refal? Tante harus tahu, karena Tante tidak mau memaksa mu."


Uhuk.Uhuk.Uhuk.


Fazila tersedak air mineral yang hampir masuk kedalam hidungnya. Pertanyaan Nyonya Asa terkesan tiba-tiba, walau sebenarnya ia tahu itu akan terjadi.


Untuk sesaat netra teduh Fazila dan Refal saling bertemu. Mereka seolah bicara dari tatapan mata masing-masing. Tidak siap?Ingin menolak? Masih membutuhkan waktu? Setidaknya itu yang dapat Fazila tangkap dari tatapan Refal.


"Perjodohan?" Terdapat penekanan dalam ucapan Fazila. Untuk sesaat ia terdiam sambil menatap satu per satu wajah yang duduk di depannya.

__ADS_1


"Sejujurnya, aku masih belum siap. Semua ini terkesan sangat terburu-buru.


Lebih dari siapa pun, aku sangat mengerti, Ummi, Abi, Om dan Tante Sekar pasti menginginkan yang terbaik untuk kami berdua. Maksud ku, antara aku dan Pak Gubernur.


Sebagaimana aku memasrahkan hidup ku pada Allah yang maha menggenggam jiwa, maka aku juga menyerahkan keputusan ini pada Ummi dan Abi. Jika mereka setuju maka aku tidak punya pilihan lain.


Tapi, sebelum itu tolong dengarkan aku terlebih dahulu. Tolong berikan kami waktu, aku ingin mengenal Pak Gubernur terlebih dahulu." Ucap Fazila panjang kali lebar, sebenarnya ia hanya ingin mengulur waktu karena dia ingin mendengar pendapat Refal tentang perjodohan ini.


Untuk sesaat, Refal memberanikan diri menatap wajah cantik Fazila, rasa sungkan masih memenuhi keduanya. Bahkan Fazila, setelah memberanikan diri untuk bicara, kepala gadis itu kini tertunduk sempurna. Di dalam kelas, dia sangat pandai bicara. Tapi lihatlah dirinya sekarang! Dia, Meyda Noviana Fazila hanya seorang putri penurut yang tidak akan pernah berani membuat orang tuanya kecewa, karena dia tahu, ridho Allah terdapat dalam Ridho kedua orang tuanya.


"Refal setuju dengan pendapat Nona Fazila. Kami tidak perlu terburu-buru, biarkan kami saling mengenal terlebih dahulu." Celoteh Refal sebelum kedua orang tuanya berubah pikiran.


Entah kenapa perasaan Refal jadi tidak tenang, kedua orang tuanya dan kedua orang tua Fazila sedang beruding dengan cara berbisik.


Tiga menit berlalu namun tidak ada tanda-tanda diskusi singkat itu akan segera berakhir.


"Baiklah. Jika itu keputusan kalian, kami tidak bisa memaksa. Tapi, ingat. Waktu kalian hanya enam bulan. Setelah itu tidak ada lagi alasan. Kalian paham." Ujar Tuan Anton sambil menatap wajah putra dan calon menantunya secara bergantian.


Tidak ada balasan dari Fazila dan Refal selain anggukan kepala kecil.


"Fazila, sayang. Tolong antar Nak Refal sampai depan. Sebentar lagi Azan Magrib akan berkumandang dan kita harus pulang." Bu Fatimah kembali membuka suara di antara senyapnya udara.


Lagi-lagi tidak ada balasan dari Fazila selain anggukan kepala kecil. Ia berdiri dari posisi duduknya kemudian di susul oleh Refal.


"Ma. Pa. Refal akan kembali kekantor. Om, Tante, terima kasih untuk makanannya." Ucap Refal sambil menyalami keempat tetua yang sangat dia hormati.

__ADS_1


Akhirnya Refal keluar dari ruang VIV dengan perasaan lega. Enam bulan? Itu waktu yang cukup untuk menyusun rencana, ternyata meminta waktu tidak sesulit yang ia bayangkan.


...***...


__ADS_2