Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Penggerebekan!


__ADS_3

Rencana!


Sejak semalam Refal sudah menyusun Rencana dengan sangat matang. Satu langkah yang salah akan menghancurkan segalanya. Sebagai Gubernur yang cekatan, ia sudah siap untuk terjun dan melihat langsung permasalahan yang terjadi di lapangan. Ini bukan pertama kalinya ia melakukan penyamaran.


Baju lusuh dengan celana kain sudah terpasang di tubuh sempurna Refal. Tak lupa kumis tebal yang menutup bagian atas bibirnya sudah terpasang sejak dua menit yang lalu. Kain tipis yang warnanya nampak pudar pun sudah terpakai dan menutup bagian atas tubuh jangkungnya.


Sungguh, penampilannya saat ini berbeda seratus delapan puluh derajat di bandingkan dengan penampilan sehari-hari yang ia tunjukkan. Ternyata pakaian yang di gunakan seseorang bisa menjelaskan seberapa tinggi status mereka, hari ini penampilan Refal telihat sangat menyedihkan. Namun baginya itu bukan masalah besar.


"Bapak yakin akan melakukan ini? Bayak orang disana, bagaimana kalau bapak terluka?" Bima bertanya sambil menyodorkan air mineral yang sudah ia buka tutup botolnya.


"Bima, masalah ini akan semakin rumit jika di biarkan terus berlanjut. Aku akan masuk sekang dan berdiri bersama orang-orang yang menerima bantuan.


Jangan katakan apa pun, dan jangan melakukan pergerakan apa pun. Tunggu sampai aku memberikan perintah. Dan terakhir, jangan menciptakan kecurigaan sekecil apa pun. Aku tidak mau penggerebekan ini gagal. Kau paham?" Ucap Refal sambil menunjuk Asistennya.


"Baik Pak."


"Tetap berjaga di luar, jika ada kabar terbaru segera hubungi aku." Ucap Refal lagi. Sedetik kemudian ia bersiap keluar dari mobil sambil memperbaiki kumis palsu dan selimut usang yang menutupi bagian pundaknya.


Sungguh, tidak ada yang akan curiga karena Refal sudah menyiapkan segalanya.


Sejak kecil aku bercita-cita menciptakan keamanan dan kedamaian bagi semua orang, aku tidak punya alasan lain selain menebar kebaikan. Aku adalah pemimpin di tempat ini maka akan ku pastikan semua orang mendapatkan keadilan.


Ya Allah... Kau tahu aku selalu berjalan di jalan yang di tunjukan oleh Rasulmu, aku juga selalu berdoa semoga aku bisa menjadi pemimpin seperti Umar Bin Khattab, pemimpin yang adil dan tegas. Gumam Refal sambil berdiri dan menanti antrian bersama rakyatnya.

__ADS_1


Atas izin Refal, di pasar berdiri sebuah bangunan kokoh untuk mendistribusikan bantuan yang datang untuk rakyat kurang mampu, setiap pasokan barang yang masuk akan di jual dengan setengah harga, kali ini Refal terjun langsung untuk melihat kondisi rakyatnya, sebenarnya ia sering melakukannya namun untuk pertama kali dalam sejarah kepemimpinannya ada warga tidak mampu berani mendatangi kantornya.


Tentu saja orang itu merasa kesulitan bertemu dengan Gubernurnya karena banyak pengawal yang akan menghalaunya, namun jauh di atas kehendak manusia ada Tuhan yang menyaksikan segalanya, segala hal yang telah di takdirkan akan tetap terjadi. Dan kali ini atas nama keadilan Refal sendiri yang akan melihat seberapa besar kejujuran yang akan di tunjukan pegawainya saat menyalurkan bantuan pada rakyat kurang mampu. Mungkin bagi pemimpin lain ia terlihat konyol dan sederhana, namun bagi Refal beginilah cara kerjanya, tak perduli dengan penampilannya yang terlihat seperti peminta-minta, yang ia tahu keadilan dan kejujuran jauh lebih penting dari pada sekedar kenyamanannya.


"Pak, tolong berikan saya gula tiga kilo, beras sepuluh kilo, dan minyak gorengnya dua liter." Ucap seorang wanita separuh baya yang berdiri di depan Refal.


"Ini, ambillah. Dan cepat pergi agar antrian di belakang mu tidak membeludak." Jawab penjaga toko.


"Pak, bukankah saya pesan gula tiga kilo dan beras sepuluh kilo? Kenapa gulanya hanya satu kilo dan berasnya hanya tiga kilo? Bukankah di kartu di jelaskan kalau kami bisa membeli semua barang sebatas sepuluh kilo saja? Gula ini tidak akan cukup untuk kebutuhan satu minggu, beras ini juga." Ucap wanita separuh baya itu lagi. Ia bahkan sampai menangkupkan kedua tangan di depan dada.


Melihat cara pemilik toko memperlakukan orang dengan kasar membuat Refal merasa kesal.


Sabar! Gumam Refal sambil berusaha keras menahan amarahnya.


"Hay Bu... Cepat pergi, di belakang mu banyak orang yang sedang mengantri. Apa kau mau ku usir dengan kasar? Jika kau mau kau bisa kembali besok saja."


"Kau benar-benar membuat ku jengkel. Bukankah aku sudah bilang kau bisa kembali besok saja? Di belakang mu banyak antrian.


Jika kau ingin mendapatkan barang lebih banyak dari itu pergilah ke kantor Gubernur dan tanyakan kepadanya mengapa dia mengurangi pasokannya? Kau bersikap seolah hanya kau yang merasa terzolimi. Pergi!" Bentak penjaga toko sambil mengayunkan tangannya hendak memukul wanita separuh baya.


Refal yang melihat kejadian ini benar-benar kesal. Bisa-bisanya ada orang serakah yang menggunakan namanya hanya untuk membela diri.


"Pak, berikan aku beras sepuluh kilo. Gula lima kilo dan minyaknya empat liter." Ucap Refal memulai percakapan.

__ADS_1


"Ini, dan cepat pergi." Balas penjaga toko sambil menyerahkan beras tiga kilo, gula dua kilo dan minyak satu liter.


"Maaf pak, ini tidak akan cukup. Tolong berikan aku sesuai pesanan. Istri ku akan marah jika aku pulang tanpa membawa pesanannya." Ucap Refal lagi, sebenarnya tangannya sangat gatal ingin menghajar pria serakah yang berdiri di depannya.


"Apa kau ingin menghancurkan usaha ku? Semua orang sudah mendapatkan sesuai jatah yang di perintahkan Pak Gubernur. Jika kau mau mengeluh, mengeluh saja padanya. Dasar tidak berguna."


"Pak Gubernur tidak mungkin memerintakan mu untuk melakukan ketidak adilan ini. Ini pasti alasan mu untuk memperkaya diri? Berikan pesanan ku atau aku tidak pergi dari sini." Ucap Refal dengan mata menyala-nyala.


"Kurang ajar!" Balas pemilik toko, kasar. Kali ini dia tidak hanya memaki, namun dia juga mengayunkan tangannya hendak menampar Refal.


"Ooo... Jadi seperti ini caramu meladeni setiap orang yang datang ke toko mu? Kau tidak hanya kasar, tapi kau juga menggunakan kuasa ku untuk menindas rakyat kecil." Ucap Refal geram, ia menepis tangan kurang ajar yang mencoba melayangkan tamparan di wajah tampannya.


Plakkkk!


Satu tamparan mendarat di pipi kanan penjaga toko. Wajah itu tertoleh sempurna kearah kiri.


"Tamparan itu karena kau berani menjual nama ku demi mengisi kantong mu."


Plakkkkk!


"Dan tamparan kedua itu karena kau berani menimbun barang-barang di gudang mu. Sita semuanya dan tutup toko ini." Bentak Refal sambil membuka kumis palsunya.


"Pa-pak GU-BE-R-NU-R!" Ucap pemilik toko dengan tubuh bergetar.

__ADS_1


Sedetik kemudian Bima datang bersama belasan polisi yang sedari tadi sudah menunggu di luar.


...***...


__ADS_2